Notification

×

Iklan

Shower atau Berendam, Mana Lebih Baik untuk Kulit?

Jumat, 06 November 2026 | 03:21 WIB Last Updated 2026-11-05T20:21:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Mandi menggunakan pancuran atau shower maupun berendam di dalam bak menjadi dua cara yang umum dilakukan untuk membersihkan tubuh. Meski sama-sama bertujuan menjaga kebersihan, kedua metode tersebut ternyata memiliki manfaat yang berbeda bagi kesehatan kulit.

Profesor Madya Dermatologi dari Yale School of Medicine, Christopher Bunick, MD, PhD, menyebutkan bahwa mandi menggunakan shower lebih efektif dalam membersihkan kotoran yang menempel di permukaan kulit dibandingkan berendam.

Dikutip dari Health, Rabu (4/11), Bunick menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara kedua metode tersebut terletak pada sirkulasi air selama proses mandi berlangsung.

Ketika menggunakan shower, air yang terus mengalir membantu mengangkat dan membilas keringat, debu, kerak, serta berbagai sisa kotoran dari permukaan kulit. Kotoran tersebut kemudian langsung terbawa menuju saluran pembuangan.

Sementara itu, saat berendam, air yang digunakan tetap berada di dalam bak. Akibatnya, kotoran yang terlepas dari tubuh berpotensi masih bercampur dengan air yang sama selama aktivitas mandi berlangsung.

Bunick menjelaskan, keunggulan pancuran air terletak pada kemampuannya membilas berbagai kotoran secara terus-menerus. Berbeda dengan berendam, yang membuat seseorang berada dalam air yang sudah bercampur dengan residu dari tubuh.

Meski demikian, berendam bukan berarti tidak memberikan manfaat bagi kesehatan kulit. Menurut Bunick, pemilihan cara mandi perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan kulit setiap individu.

Orang yang mengalami gangguan peradangan kulit, seperti eksim dan psoriasis, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari berendam menggunakan air yang dicampur bahan tertentu. Beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan antara lain garam Epsom, oatmeal, maupun produk khusus untuk membantu menenangkan kulit.

Berendam juga dapat menjadi alternatif bagi mereka yang mempunyai kulit sensitif, mudah mengalami iritasi, atau memiliki luka yang rentan terganggu oleh tekanan air dari shower.

Bunick turut mencontohkan kondisi gatal-gatal yang dipicu tekanan air. Pada kondisi tersebut, penggunaan pancuran dengan tekanan terlalu kuat justru berpotensi memperparah keluhan yang dialami.

Di luar pilihan metode mandi, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan durasi serta suhu air. Aktivitas mandi sebaiknya tidak dilakukan terlalu lama dan menggunakan air hangat kuku, bukan air dengan suhu terlalu panas.

Pasalnya, paparan air panas dalam waktu berkepanjangan dapat mengikis minyak alami kulit yang berperan menjaga kelembapan. Jika lapisan minyak tersebut berkurang, kulit akan lebih mudah mengalami kekeringan.

Dampaknya bisa berupa kulit pecah-pecah, rasa gatal, hingga meningkatnya risiko infeksi. Kondisi ini juga dapat memicu munculnya kembali gangguan kulit tertentu, termasuk eksim.

Bunick menegaskan bahwa hilangnya minyak alami kulit dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari kulit kering dan pecah-pecah hingga iritasi, infeksi, serta kambuhnya penyakit kulit.

Untuk menjaga kelembapan, ia juga menganjurkan penggunaan pelembap sesaat setelah mandi. Langkah tersebut membantu mempertahankan kadar air pada kulit sehingga tidak mudah kering.

Dengan demikian, shower dan berendam sama-sama dapat menjadi pilihan untuk membersihkan tubuh. Shower lebih unggul dalam membilas kotoran secara menyeluruh, sedangkan berendam dapat memberikan kenyamanan sekaligus membantu meredakan keluhan pada kondisi kulit tertentu.

Hal terpenting adalah menyesuaikan metode mandi dengan kebutuhan kulit, menggunakan air bersuhu hangat kuku, membatasi waktu mandi, serta rutin mengaplikasikan pelembap setelahnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update