Jakarta, Rakyatterkini.com – Sagu dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi komoditas unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional, tanaman asli Indonesia ini juga dapat diolah menjadi beragam produk industri bernilai ekonomi tinggi, seperti mi, biskuit, pasta hingga bioetanol.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong percepatan pengembangan hilirisasi sagu di Tanah Air. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperkuat industri pengolahan, membuka peluang investasi, serta mendukung kemandirian pangan nasional.
Sarmuji mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya sagu yang melimpah. Kandungan pati yang tinggi menjadikan tanaman ini berpotensi sebagai sumber karbohidrat alternatif sekaligus bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri.
Hal itu disampaikan Sarmuji saat membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis. Ia menegaskan bahwa sagu merupakan kekayaan alam Indonesia yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan.
Menurutnya, pengembangan komoditas sagu tidak boleh hanya diarahkan pada peningkatan produksi bahan mentah. Upaya hilirisasi juga perlu diperkuat melalui inovasi dan pengolahan menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Di sektor pangan, sagu dapat diolah menjadi berbagai produk modern, mulai dari mi, beras analog, pasta, biskuit hingga aneka makanan olahan lainnya. Diversifikasi produk ini diharapkan mampu memperluas pemanfaatan sagu di tengah masyarakat.
Potensi sagu juga tidak terbatas pada industri makanan. Komoditas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kemasan ramah lingkungan atau bio-packaging, serta bioetanol yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk industri nonpangan.
Pengembangan berbagai produk turunan tersebut diyakini dapat memperluas jangkauan pasar sagu sekaligus meningkatkan kemampuan bersaing industri pengolahan nasional.
Selain bagian utama tanaman, hasil samping dari proses pengolahan sagu juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Sarmuji menjelaskan, limbah padat dan cair sagu berpeluang diolah kembali menjadi produk bermanfaat, seperti pakan ternak dan biogas.
Pemanfaatan limbah tersebut merupakan bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular. Melalui pendekatan ini, bahan baku dapat digunakan secara lebih optimal, sementara jumlah limbah yang dihasilkan industri bisa ditekan.
Dengan pengelolaan yang tepat, industri sagu berpotensi menciptakan berbagai sumber pendapatan, baik dari produk utama maupun hasil samping proses produksinya.
Sarmuji menambahkan, ketersediaan sumber daya sagu yang melimpah menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan berbasis komoditas tersebut.
Beberapa daerah yang mempunyai potensi pengembangan sagu di antaranya Seram Bagian Timur, Kepulauan Meranti, Nias, dan Mentawai. Kawasan-kawasan tersebut dinilai dapat diarahkan menjadi sentra industri sagu dengan memanfaatkan potensi lokal masing-masing.
Keberadaan industri pengolahan di wilayah penghasil sagu diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas daerah. Selain itu, pengembangan tersebut juga berpotensi menarik investor, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Lebih jauh, Menperin menilai pengembangan sagu memiliki peran strategis dalam memperkuat diversifikasi pangan nasional. Indonesia perlu mengoptimalkan berbagai sumber pangan alternatif agar ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada beras.
Ia menegaskan, kekayaan pangan Indonesia sangat beragam dan perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat kedaulatan pangan serta mewujudkan swasembada.
Melalui penguatan hilirisasi, penelitian, dan inovasi produk, pemerintah berharap sagu kembali diminati masyarakat. Bahkan, dengan pengolahan yang semakin modern dan pemanfaatan yang lebih luas, sagu berpeluang menjadi alternatif pangan yang mampu bersaing dengan sumber karbohidrat lainnya.(da*)


