Notification

×

Iklan

PLN Dorong Modernisasi Pertanian di Sumbar

Minggu, 08 November 2026 | 12:22 WIB Last Updated 2026-11-08T05:22:00Z

Ilustrasi

Padang, Rakyatterkini.com – Sektor pertanian di Sumatera Barat kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Penyusutan lahan akibat pembangunan permukiman, infrastruktur, serta aktivitas ekonomi lainnya terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi.

Berbagai bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan pangan daerah. Banjir bandang yang terjadi di Kota Padang sejak akhir 2025 hingga Oktober 2026, misalnya, mengakibatkan kerusakan pada 16 titik daerah irigasi.

Sementara itu, berdasarkan catatan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Barat, sebanyak 656 daerah irigasi di berbagai wilayah Sumbar mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Ancaman kekeringan ekstrem yang pernah menyebabkan krisis air di Sumbar pada penghujung 2023 juga menjadi persoalan yang perlu diantisipasi.

Situasi tersebut menuntut pemerintah dan para petani untuk mampu meningkatkan produksi pangan meskipun ketersediaan lahan semakin terbatas. Upaya mempertahankan produktivitas pertanian tidak lagi cukup dilakukan dengan cara konvensional, tetapi perlu didukung inovasi, teknologi, dan pengelolaan sumber daya yang lebih efektif.

Keberlanjutan sektor pertanian bukan hanya berkaitan dengan menjaga keberadaan lahan persawahan, tetapi juga memastikan setiap bidang tanah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan pangan dan menopang kehidupan masyarakat.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mempercepat modernisasi pertanian. Pembaruan tersebut tidak sebatas penggunaan bibit berkualitas dan penerapan metode bercocok tanam, tetapi juga mencakup pengelolaan lahan, sistem pengairan, serta proses pengolahan hasil panen.

Dalam hal ini, energi listrik memiliki peran penting. Melalui program Electrifying Agriculture, PT PLN (Persero) mendorong penggunaan teknologi berbasis listrik untuk membantu petani meningkatkan hasil produksi sekaligus mengurangi biaya operasional.

Program tersebut mulai diterapkan di Kabupaten Lima Puluh Kota melalui penggunaan pompa irigasi listrik dan mesin penggilingan padi atau huller listrik. Pelaksanaannya dilakukan PLN UP3 Payakumbuh bersama ULP Lima Puluh Kota dan ULP Payakumbuh, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota serta melibatkan penyuluh pertanian dan perwakilan kelompok tani dari berbagai wilayah.

Bagi kalangan petani, penggunaan listrik memberikan lebih dari sekadar alternatif sumber energi. Teknologi tersebut memungkinkan kegiatan pertanian berlangsung lebih mudah, efisien, dan mengikuti perkembangan zaman.

Pompa berbasis listrik dapat membantu memenuhi kebutuhan pengairan sawah, sedangkan huller listrik mendukung proses pengolahan gabah menjadi beras. Penggunaan kedua peralatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus membuat operasional dan perawatan mesin menjadi lebih praktis.

Manager PLN UP3 Payakumbuh, Yessi Indra, dalam kegiatan sosialisasi pompanisasi dan pemanfaatan huller listrik pada 9 Agustus 2026 menyampaikan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor prioritas dalam pengembangan Electrifying Agriculture.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan sekaligus peningkatan taraf hidup masyarakat.

PLN, katanya, terus berupaya menghadirkan inovasi agar energi listrik dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai tambah bagi berbagai sektor usaha produktif. Melalui Electrifying Agriculture, listrik diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Yessi berharap semakin banyak petani yang memanfaatkan pompa air dan mesin penggilingan berbasis listrik. Dengan penerapan teknologi tersebut, hasil pertanian diharapkan meningkat, pengeluaran operasional lebih terkendali, dan kesejahteraan petani semakin membaik.

Energi Surya Bantu Pengairan Sawah di Tanah Datar

Pemanfaatan energi listrik untuk mendukung pertanian juga dikembangkan di Kabupaten Tanah Datar. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas pompanisasi irigasi di Batang Manganan, Jorong Padang Datar, Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, yang menggunakan energi tenaga surya.

Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan energi terbarukan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya sektor pertanian.

Sebelum adanya pompanisasi, persoalan ketersediaan air menjadi kendala utama bagi petani di Tanjung Barulak. Sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan curah hujan sehingga petani kesulitan mengatur waktu tanam dan meningkatkan frekuensi panen.

Melalui sistem pompa yang mengambil air dari Batang Manganan untuk kemudian dialirkan ke area persawahan, masyarakat kini memiliki peluang lebih besar dalam mengelola lahan pertanian.

Fasilitas berbasis tenaga surya tersebut diharapkan mampu mengubah pola tanam petani. Lahan yang sebelumnya hanya memungkinkan satu kali masa panen dalam setahun berpeluang ditingkatkan menjadi dua kali panen.

Peningkatan intensitas tanam tentu berpotensi mendongkrak produksi pangan. Selain itu, kesempatan memperoleh pendapatan lebih besar juga terbuka bagi petani, sehingga dapat membantu memperkuat perekonomian keluarga dan masyarakat nagari.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, ketika meresmikan fasilitas pompanisasi tersebut pada September 2026 lalu menyebut PLTS Batang Manganan sebagai bukti bahwa energi terbarukan dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia menjelaskan, pemanfaatan energi matahari untuk mengalirkan air ke persawahan bukan hanya menghadirkan fasilitas pengairan. Lebih jauh, teknologi tersebut memberikan kesempatan bagi petani untuk meningkatkan produksi, menekan biaya usaha tani, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, pemanfaatan energi bersih tersebut diharapkan ikut memperkuat ketahanan pangan Sumatera Barat.

Pasokan Listrik Dukung Pengembangan Industri Sawit

Tidak hanya menyasar sektor pertanian tanaman pangan, pemanfaatan energi listrik juga diarahkan untuk menunjang aktivitas industri perkebunan di Sumatera Barat.

Di Muara Labuah, Kabupaten Solok Selatan, PT Kencana Sawit Indonesia (KSI) bersama PLN UP3 Solok tengah menjajaki penambahan kapasitas pasokan listrik dengan potensi kebutuhan daya sebesar 304.600 VA atau 304,6 kVA.

Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya PLN memperkuat kemitraan dengan pelanggan sekaligus memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang, khususnya di sektor industri.

Dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit, ketersediaan listrik menjadi salah satu faktor penting untuk menunjang kelancaran operasional. Berbagai fasilitas, mulai dari pengelolaan limbah, penyediaan air, hingga sarana pendukung pekerja, membutuhkan pasokan energi yang memadai.

Bagi PLN, rencana penambahan daya tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan listrik. Lebih dari itu, terdapat peluang untuk mendukung peningkatan produktivitas perusahaan, memperkuat fasilitas perkebunan, serta mendorong penerapan teknologi yang lebih efisien.

Manager PLN UP3 Solok, Hariani, mengatakan PLN berupaya mengambil peran lebih luas dengan menjadi mitra strategis bagi dunia usaha, bukan hanya sebagai penyedia tenaga listrik.

Melalui komunikasi dan koordinasi yang berkelanjutan, PLN berusaha memahami kebutuhan pelanggan agar layanan kelistrikan dapat mendukung peningkatan produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.

Kerja sama tersebut juga dinilai dapat membuka jalan bagi terbentuknya industri perkebunan yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan listrik untuk fasilitas pendukung, pengolahan limbah, pompa air, hingga pengembangan peralatan seperti traktor listrik menjadi bagian dari transformasi energi di sektor perkebunan.

Electrifying Agriculture Terus Diperluas di Sumbar

Penerapan Electrifying Agriculture di Sumatera Barat tidak hanya terbatas pada pompanisasi sawah dan penggunaan mesin penggilingan padi. Program ini juga telah menyentuh berbagai kegiatan produktif lainnya.

Beberapa penerapannya antara lain penggunaan lampu buatan untuk mendukung budidaya buah naga di kawasan Singkarak, Kabupaten Solok, pemanfaatan listrik pada kilang tebu di Lawang, Kabupaten Agam, serta dukungan kelistrikan bagi petani bawang di Alahan Panjang.

Berbagai penerapan tersebut memperlihatkan bahwa energi listrik memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan sektor pertanian dan perkebunan dengan karakteristik usaha yang berbeda-beda.

General Manager PLN UID Sumatera Barat, Ririn Rachmawardini, menyampaikan bahwa fungsi listrik saat ini telah berkembang. Energi listrik tidak hanya digunakan untuk penerangan, tetapi juga dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan peningkatan produktivitas masyarakat.

Menurutnya, Electrifying Agriculture merupakan salah satu bentuk inovasi layanan PLN dalam menghadirkan energi listrik sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi biaya, produktivitas, serta daya saing para pelaku pertanian.

Ririn juga menekankan pentingnya kerja sama antara PLN, pemerintah daerah, dan para pelaku sektor pertanian untuk mempercepat penerapan sistem pertanian modern yang berkelanjutan.

Sinergi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Melalui berbagai inovasi tersebut, PLN berupaya mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan pemanfaatan teknologi energi bersih. Dukungan listrik terhadap pengairan, pengolahan hasil panen, dan kegiatan perkebunan diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas.

Tidak hanya membantu meningkatkan hasil produksi, pemanfaatan teknologi tersebut juga membuka peluang usaha, memperkuat pendapatan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di berbagai daerah Sumatera Barat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update