Lubukbasung, Rakyatterkini.com – Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyiapkan anggaran sebesar Rp2,5 miliar untuk memperbaiki 13 unit jaringan irigasi tersier yang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.
Dana rehabilitasi tersebut bersumber dari Transfer ke Daerah (TKD) tahun anggaran 2026. Pekerjaan perbaikan dilakukan di sejumlah kawasan terdampak, meliputi Kecamatan Palembayan, Tanjung Raya, dan Malalak.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan di Lubukbasung, Rabu, rehabilitasi jaringan irigasi ini menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian masyarakat setelah bencana.
Ia menjelaskan, pembangunan 13 jaringan irigasi tersebut diprioritaskan pada kawasan yang terdampak bencana hidrometeorologi pada penghujung 2025.
"Pembangunan irigasi tersier ini kita laksanakan di wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Agam pada akhir 2025," ujarnya, didampingi Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Agam, Yasriandi.
Heri menyebutkan, setiap paket pekerjaan rehabilitasi irigasi mendapatkan alokasi anggaran berkisar antara Rp140 juta hingga Rp189 juta.
Hingga saat ini, progres pengerjaan seluruh jaringan irigasi tersebut telah mencapai sekitar 77 persen. Artinya, masih ada sekitar 23 persen pekerjaan yang perlu dituntaskan.
Ia menambahkan, pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada pihak ketiga dengan batas waktu penyelesaian kontrak pada November hingga Desember 2026.
Pemerintah Kabupaten Agam optimistis seluruh pekerjaan dapat rampung sesuai target. Namun, pengawasan di lapangan tetap diperketat, terutama karena intensitas hujan di sejumlah wilayah Agam masih cukup tinggi.
"Kita berharap seluruh pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Karena curah hujan belakangan ini cukup tinggi, pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan terus kita tingkatkan," kata Heri.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa rehabilitasi irigasi ini merupakan bagian dari program pemulihan sektor pertanian pascabencana. Perbaikan infrastruktur pengairan diharapkan dapat mengembalikan fungsi lahan pertanian yang terdampak sekaligus meningkatkan indeks pertanaman masyarakat.
Menurutnya, keberadaan jaringan irigasi yang kembali berfungsi dengan baik akan membantu petani mengelola lahan secara lebih optimal.
"Upaya ini tidak hanya untuk memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana, tetapi juga mendorong peningkatan indeks pertanaman di daerah tersebut," tuturnya.
Melalui rehabilitasi 13 jaringan irigasi tersebut, pemerintah daerah berharap distribusi air ke lahan pertanian semakin lancar. Dengan begitu, kegiatan pertanian masyarakat dapat kembali berjalan normal dan produktivitas hasil pertanian di kawasan terdampak bencana meningkat.(da*)


