Notification

×

Iklan

Mak Itam, Ikon Legendaris Kereta Api Sumbar

Jumat, 06 November 2026 | 08:55 WIB Last Updated 2026-11-06T01:55:00Z

Mak Itam merupakan lokomotif uap E1060 

Sawahlunto, Rakyatterkini.com – Sumatera Barat (Sumbar) memiliki perjalanan panjang dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Setelah mengalami masa kejayaan dan kemunduran, moda transportasi kereta api di daerah ini kembali mendapat perhatian melalui rencana pengaktifan sejumlah jalur secara bertahap mulai tahun depan.

Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi ikon perkeretaapian Sumbar adalah Mak Itam. Lokomotif uap legendaris ini menjadi saksi perkembangan teknologi transportasi darat sekaligus menyimpan cerita penting tentang sejarah industri dan pertambangan di wilayah tersebut.

Dikutip dari laman resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), pembangunan jalur kereta api di kawasan pegunungan pada masa lalu bukanlah pekerjaan mudah. Para insinyur harus menghadapi berbagai tantangan geografis, termasuk ketika pemerintah kolonial Belanda berupaya mengangkut batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, yang kala itu dikenal dengan nama Pelabuhan Emmahaven.

Dalam sistem pengangkutan tersebut, kereta api memiliki peran strategis untuk membawa hasil tambang dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan. Sementara itu, Mak Itam menjadi salah satu peninggalan yang menggambarkan kecanggihan teknologi perkeretaapian pada masanya.

Mak Itam dikenal sebagai lokomotif uap seri E1060 yang diproduksi oleh pabrik Esslingen, Jerman, dan didatangkan ke Indonesia pada 1966. Dengan tenaga mencapai 750 daya kuda, lokomotif ini dilengkapi mekanisme roda gigi yang dirancang untuk mendukung operasional pada jalur rel bergerigi, khususnya ketika melewati tanjakan.

Meski demikian, sistem roda gigi yang dimiliki Mak Itam tidak cocok dengan konstruksi rel bergerigi menuju Bedono. Kondisi tersebut membuat lokomotif ini tidak dapat melewati lintasan itu ketika sempat dimanfaatkan untuk perjalanan wisata di Jawa Tengah. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa setiap teknologi perkeretaapian memiliki rancangan khusus yang disesuaikan dengan kondisi jalur operasionalnya.

Sejarah pembangunan jalur kereta api Ombilin bermula dari penemuan cadangan batu bara oleh ahli geologi Willem Hendrik de Greve pada sekitar 1868. Posisi tambang yang berada di kawasan perbukitan menjadi kendala dalam proses distribusi hasil tambang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dibangun sebuah sistem industri terintegrasi yang terdiri atas kawasan pertambangan, permukiman perusahaan, tempat penyimpanan batu bara, pelabuhan, hingga jaringan rel kereta api pegunungan sepanjang 155 kilometer.

Perjalanan panjang industri pertambangan Ombilin kemudian memperoleh pengakuan internasional. Pada 6 Juli 2019, UNESCO menetapkan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sebagai Situs Warisan Dunia. Penetapan tersebut mencakup keseluruhan sistem industri pertambangan Ombilin, bukan hanya lokomotif Mak Itam secara terpisah.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa keberadaan Mak Itam menggambarkan bagaimana teknologi kereta api dikembangkan untuk menjawab kebutuhan transportasi sekaligus tantangan alam pada masa itu.

Menurutnya, sebuah lokomotif tidak hanya mencerminkan kemajuan mesin, tetapi juga menyimpan pengetahuan teknik dan pertimbangan desain yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Sejarah perkeretaapian tersebut juga memperlihatkan keterkaitan erat antara transportasi, aktivitas industri, dan pertumbuhan suatu daerah.

Di Sumatera Barat sendiri, perkembangan lokomotif uap berlangsung melalui beberapa periode pengadaan. Keluarga lokomotif E10 didatangkan dalam sejumlah tahap, yakni sebanyak 22 unit pada 1921–1928, kemudian 20 unit pada 1964–1966, serta tujuh unit pada 1967.

Seiring kemajuan teknologi dan penggunaan lokomotif diesel, operasional kereta uap secara bertahap mulai berkurang. Pada awal dekade 1980-an, lokomotif uap akhirnya tidak lagi menjalankan tugas regulernya.

Mak Itam selanjutnya menjalani perjalanan baru sebagai bagian dari wisata sejarah perkeretaapian. Pada 1998, lokomotif tersebut dipindahkan ke Museum Kereta Api Ambarawa dalam kondisi mengalami kerusakan.

Setelah menjalani perbaikan, Mak Itam sempat digunakan untuk melayani perjalanan wisata di Jawa Tengah. Kemudian, pada Desember 2008, lokomotif bersejarah itu dikembalikan ke Sawahlunto untuk mendukung pengembangan wisata sejarah kereta api di daerah tersebut.

Upaya menjaga keberadaan Mak Itam kini tidak hanya berkaitan dengan pelestarian benda bersejarah, tetapi juga mempertahankan nilai pengetahuan dan teknologi yang terkandung di dalamnya. Lokomotif ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 188.45/327/WAKO-SWL/2017.

Berdasarkan catatan KAI, Mak Itam saat ini ditempatkan di Depo Sawahlunto dan masih dapat bergerak di area emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum. Namun, lokomotif tersebut membutuhkan perhatian khusus karena beberapa pipa api pada bagian ketel uap mengalami kebocoran.

Kerusakan tersebut membuat perawatan dan perbaikan diperlukan agar kondisi lokomotif tetap terjaga dan dapat berfungsi secara maksimal.

Anne menjelaskan, pelestarian sarana transportasi bersejarah harus dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis sekaligus memberikan pemahaman sejarah kepada masyarakat. Menurutnya, nilai penting sebuah peninggalan tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh pengetahuan mengenai teknologi, tantangan yang pernah dihadapi, serta perubahan yang terjadi selama perjalanan sejarahnya.

Karena itu, dokumentasi yang baik, pemeliharaan secara tepat, dan pemanfaatan dengan tetap mengutamakan keselamatan menjadi bagian penting dalam menjaga warisan perkeretaapian.

Kisah Mak Itam menjadi gambaran bahwa keberadaan jalur kereta api Ombilin pada masa lalu bukan sekadar sarana untuk mengangkut batu bara menuju pasar. Jaringan tersebut turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat Sawahlunto.

Kini, peninggalan industri perkeretaapian tersebut menjadi bukti kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan alam melalui penerapan teknologi dan rekayasa transportasi.

Dari kawasan pertambangan hingga memperoleh pengakuan sebagai bagian dari warisan dunia, Mak Itam menyimpan nilai sejarah yang penting. Keberadaannya mengingatkan bahwa kemajuan transportasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi modern, tetapi juga oleh pengetahuan dan pengalaman masa lalu yang perlu terus dilestarikan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update