Notification

×

Iklan

Indonesia Miliki Cadangan Beras 25 Juta Ton

Senin, 02 November 2026 | 01:18 WIB Last Updated 2026-11-01T18:18:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman terganggunya rantai pasok dunia, sedikitnya 33 negara telah mengingatkan warganya agar menyiapkan stok makanan serta kebutuhan pokok untuk menghadapi kondisi darurat. Sementara itu, Indonesia dinilai memiliki ketahanan pangan yang cukup kuat dengan perkiraan ketersediaan beras mencapai 25 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa situasi pangan di Indonesia masih dalam kondisi terkendali. Hal tersebut didukung oleh produksi pertanian dalam negeri serta cadangan beras pemerintah yang dinilai mencukupi.

Amran mengatakan, ketika puluhan negara mulai mengantisipasi kemungkinan krisis dengan meminta masyarakat menyimpan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan penting lainnya, Indonesia justru memiliki modal kuat dari sisi produksi pangan nasional.

Ia menyebutkan, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian global. Terlebih, konflik antarnegara berpotensi menghambat aktivitas perdagangan internasional dan distribusi bahan pangan.

Menurut Amran, sejumlah negara saat ini telah meningkatkan langkah antisipasi dengan menyarankan masyarakat memiliki persediaan kebutuhan rumah tangga. Stok tersebut umumnya berupa makanan yang tahan lama, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan untuk kondisi darurat.

Bahkan, masyarakat di beberapa negara dianjurkan memiliki persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sedikitnya 72 jam atau tiga hari.

Inggris dan Jepang menjadi contoh negara yang telah mengeluarkan imbauan tersebut. Pemerintah Inggris meminta setiap keluarga menyediakan stok makanan dan air minum untuk kebutuhan selama tiga hari. Adapun Jepang menyarankan masyarakat menyimpan bahan pangan untuk jangka waktu minimal tiga hari hingga satu minggu apabila memungkinkan.

Langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi terhadap berbagai kemungkinan, seperti konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber terhadap infrastruktur penting, hingga terhambatnya distribusi barang kebutuhan pokok.

Di tengah berbagai ancaman tersebut, Amran menilai Indonesia mempunyai posisi yang relatif aman berkat dukungan produksi pangan domestik dan ketersediaan beras nasional.

Berdasarkan data hingga 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang tersimpan dan dikelola Perum Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton.

Selain cadangan tersebut, Indonesia juga memiliki potensi sekitar 10 juta ton beras dari tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop. Kemudian, terdapat sekitar 10 juta ton persediaan beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

Dengan memperhitungkan ketiga komponen tersebut, total potensi ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi beras Indonesia yang diperkirakan sekitar 2,5 juta ton setiap bulan.

Amran menegaskan, besarnya ketersediaan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia lebih siap menghadapi kemungkinan gejolak pangan dunia.

Ia juga menilai keberhasilan menjaga swasembada beras tanpa bergantung pada impor merupakan bagian penting dalam memperkokoh ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pangan impor dapat menimbulkan persoalan serius apabila terjadi konflik berskala besar yang menghambat jalur perdagangan dunia. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila negara-negara produsen membatasi atau menghentikan ekspor pangan mereka.

Karena itu, Amran menekankan pentingnya menjaga kemampuan produksi dalam negeri agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi dalam berbagai situasi.

Untuk mempertahankan capaian tersebut, Kementerian Pertanian terus menjalankan sejumlah program peningkatan produksi. Beberapa di antaranya meliputi optimalisasi lahan pertanian, pompanisasi, pembenahan jaringan irigasi, penyediaan benih berkualitas, serta berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas petani.

Pemerintah juga memperkuat langkah mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk mengantisipasi ancaman kekeringan yang dapat memengaruhi hasil produksi pertanian.

Amran mengingatkan bahwa kondisi pangan nasional yang saat ini relatif aman tidak boleh membuat pemerintah lengah. Peningkatan produksi, penguatan cadangan beras, serta perlindungan terhadap kesejahteraan petani harus terus menjadi perhatian.

Ia menegaskan, keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak terlepas dari kerja keras para petani dan dukungan pemerintah dalam memastikan keberlangsungan sektor pertanian nasional.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update