Notification

×

Iklan

Tol Sicincin–Bukittinggi Ditargetkan Mulai Dibangun 2027

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:43 WIB Last Updated 2026-10-30T20:43:00Z

Proses ketika pembangunan Jalan Tol Padang - Sicincin.

Padang, Rakyatterkini.com – Pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027. Berbagai persiapan terus dimatangkan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat hingga penyelesaian kajian teknis terkait jalur yang akan dilalui proyek strategis tersebut.

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero), Koentjoro, mengatakan bahwa penentuan trase atau jalur tol harus memperhatikan kondisi geografis wilayah, terutama perbedaan elevasi antara Sicincin, Kayu Tanam, dan Padang Panjang.

Ia menjelaskan, karakteristik medan di kawasan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam merancang jalur tol. Perbedaan ketinggian yang cukup signifikan membuat pembangunan jalan tidak memungkinkan dilakukan dengan jalur lurus tanpa mempertimbangkan tingkat kemiringan.

"Perbedaan ketinggian dari Sicincin atau Kayu Tanam menuju Padang Panjang mencapai lebih dari 200 meter hingga 500 meter. Jika dibuat lurus, kemiringannya bisa melampaui 15 persen. Padahal, ketentuan dari Kementerian PU membatasi kelandaian jalan tol maksimal 5 persen agar kendaraan berat bisa melintas dengan aman," ungkap Koentjoro saat kegiatan sosialisasi pembangunan tol di Padang Pariaman.

Menurutnya, aspek keselamatan dan standar teknis menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan desain jalan tol. Karena itu, trase harus dirancang mengikuti karakteristik alam sehingga kendaraan dapat melewati jalur tersebut tanpa menghadapi risiko akibat tanjakan yang terlalu curam.

Dalam konsep perencanaan awal, pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi akan menembus kawasan perbukitan Bukit Barisan melalui dua terowongan. Masing-masing terowongan diperkirakan memiliki panjang sekitar 700 meter dan 4,9 kilometer.

Koentjoro menyampaikan bahwa pembangunan terowongan membutuhkan penelitian dan perhitungan teknis secara menyeluruh. Kajian tersebut mencakup kondisi geologi, geoteknik, keamanan konstruksi hingga dampak terhadap lingkungan.

Untuk mendukung proses tersebut, Hutama Karya menggandeng Universitas Andalas (Unand) serta melibatkan tenaga ahli dan pakar teknik dari Jepang dan China.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menekankan pentingnya pelaksanaan pengadaan tanah yang terbuka dan adil bagi masyarakat yang lahannya terdampak pembangunan.

Ia memastikan warga akan memperoleh kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk terhadap bangunan maupun tanaman yang berada di atas lahan yang dibutuhkan untuk proyek.

"Pemerintah pasti memberikan ganti untung. Prosesnya harus transparan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak mungkin pemerintah membeli tanah di bawah harga pasar. Bangunan dan pohon-pohon yang berada di atas lahan juga akan mendapatkan penggantian," tegas Andre.

Selain persoalan pembebasan lahan, Andre turut menanggapi kekhawatiran warga mengenai kemungkinan keberadaan jalan tol memutus akses antarkampung, mengganggu kegiatan pertanian, maupun membuat permukiman menjadi terisolasi.

Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, menurutnya, akan disediakan fasilitas penghubung berupa terowongan antarkampung maupun jembatan penyeberangan atau flyover pada titik-titik tertentu.

"Setiap dua atau tiga kilometer akan disiapkan terowongan penghubung antarkampung atau jembatan penyeberangan agar mobilitas masyarakat tetap berjalan. Kita tidak ingin pembangunan jalan tol justru memisahkan kampung-kampung," ujarnya.

Tol Sicincin–Bukittinggi sendiri merupakan salah satu bagian dari proyek besar Jalan Tol Pekanbaru–Padang. Berdasarkan pemaparan dalam sosialisasi, ruas ini direncanakan memiliki panjang sekitar 40,8 kilometer.

Jalur tersebut terbagi menjadi dua segmen, yakni Sicincin–Padang Panjang sepanjang 19,9 kilometer dan Padang Panjang–Bukittinggi dengan panjang sekitar 20,18 kilometer.

Dari sisi pembiayaan, proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp29 triliun, belum termasuk anggaran untuk pengadaan tanah. Namun, nilai investasi dan jadwal pelaksanaan masih dapat mengalami penyesuaian mengikuti dokumen resmi serta perkembangan kesiapan proyek.

Khusus di Kabupaten Padang Pariaman, jalur tol diproyeksikan melintasi wilayah sepanjang kurang lebih 10,2 kilometer. Kebutuhan lahan untuk pembangunan di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 99,06 hektare.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menyatakan dukungannya terhadap koordinasi dan sosialisasi proyek tersebut. Upaya ini dinilai penting agar masyarakat memperoleh penjelasan secara menyeluruh mengenai jalur tol, kebutuhan lahan, mekanisme pembebasan tanah, serta hak dan kewajiban warga yang terdampak.

Selain Kabupaten Padang Pariaman, pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi juga direncanakan melintasi sejumlah daerah lainnya, yakni Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, dan Kota Bukittinggi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update