Notification

×

Iklan

Siswa SD Ungaran Diduga Jadi Korban Bullying

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:26 WIB Last Updated 2026-10-01T18:26:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berinisial R diduga mengalami perundungan oleh dua teman sekelasnya. Akibat kejadian tersebut, korban dilaporkan mengalami sejumlah luka fisik, demam tinggi, hingga mimisan.

Kondisi R disebut semakin memburuk setelah mengalami memar pada bagian lengan, bibir, dan belakang telinga. Selain cedera fisik, korban juga dikabarkan mengalami trauma secara psikologis akibat kejadian tersebut.

Peristiwa yang diduga merupakan kekerasan fisik itu terjadi pada Rabu pekan lalu. Berdasarkan pengakuannya kepada keluarga, R mendapat perlakuan kasar dari dua teman sekelasnya. Kedua siswa tersebut disebut-sebut merupakan anak dari Ketua Yayasan dan Ketua Paguyuban sekolah setempat.

Keluarga korban kemudian memilih menyampaikan kasus tersebut kepada media. Langkah itu dilakukan dengan harapan penanganan dugaan kekerasan di lingkungan sekolah dapat dilakukan secara terbuka sekaligus menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Kami sengaja berbicara di depan media agar ke depannya tidak ada lagi siswa yang menjadi korban kekerasan di sekolah," ujar orang tua R, Arief Prasetyo, Kamis (1/10/2026).

Sementara itu, pihak SD Hj Isriati Moenadi Ungaran membenarkan bahwa telah terjadi insiden kekerasan yang melibatkan salah seorang siswanya di lingkungan sekolah.

Kepala SD Hj Isriati Moenadi Ungaran, Yosita Kumalasari, mengatakan kejadian berlangsung di dalam kelas ketika wali kelas sedang mendampingi sejumlah siswi di musala. Namun, sekolah menyampaikan bahwa peristiwa tersebut bermula dari aktivitas bermain antarsiswa dan tidak sejak awal direncanakan sebagai tindakan kekerasan.

"Awalnya main perang-perangan di dalam kelas yang kemudian berujung perkelahian," ujar Yosita.

Pihak sekolah mengaku telah memberikan penanganan terhadap dua siswa yang diduga terlibat. Keduanya mendapatkan pembinaan khusus melalui pendekatan keagamaan dan orang tua masing-masing juga telah dipanggil oleh pihak sekolah.

Di sisi lain, keluarga R meminta sekolah melakukan evaluasi secara menyeluruh, khususnya terhadap sistem pengawasan siswa ketika kegiatan belajar berlangsung di dalam kelas.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update