Padang, Rakyatterkini.com – Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat Saraso Fest 2026 terus menyuguhkan beragam pertunjukan seni tradisional. Sejak resmi dibuka pada Senin (28/9/2026) malam, ajang budaya tersebut menjadi ruang bagi seniman dari berbagai daerah untuk menampilkan kekayaan tradisi Minangkabau dan Mentawai.
Memasuki malam ketiga pada Rabu (30/9/2026), panggung Taman Budaya Sumatera Barat kembali diramaikan sejumlah pertunjukan. Di antaranya seni tradisi Mentawai, Tari Indang Tradisi Piaman, serta Tari Piriang Balenggek dari Sawahlunto.
Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah Tari Indang Tradisi yang dibawakan Sanggar Bisati dari Nagari Bisati Sungai Sariek, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman.
Perwakilan Sanggar Bisati, Samsuir, mengatakan kesenian Indang Tigo Sandiang memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berkaitan dengan perkembangan dakwah Islam dari Aceh.
Menurutnya, kesenian tersebut dibawa Syekh Burhanuddin setelah menuntut ilmu kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Aceh. Setelah sekitar 10 tahun menimba ilmu, Syekh Burhanuddin kembali ke Pariaman, tepatnya ke kawasan Tanjung Medan Ulakan, dengan membawa pengetahuan agama sekaligus kesenian Indang.
Indang yang berkembang di Pariaman kemudian mengalami proses akulturasi dengan kesenian Saman dari Aceh.
“Dari Tanjung Medan kemudian diturunkan ke Pungguang Ladiang, Rambai, Tujuh Koto. Di sanalah awal sejarah Indang berkembang dan awalnya dimainkan di dalam musala atau surau,” kata Samsuir.
Seiring bertambahnya masyarakat yang tertarik menyaksikan pertunjukan, tempat di dalam surau tidak lagi mencukupi. Pertunjukan akhirnya digelar di halaman surau atau balerong.
Dalam perkembangannya, kesenian tersebut tidak hanya dimainkan oleh satu kelompok. Muncul kelompok-kelompok lain yang kemudian saling bersahutan melalui lantunan syair bernuansa keagamaan.
Karakteristik Indang Tradisi Piaman
Samsuir menjelaskan bahwa Indang Tradisi Piaman mempunyai sejumlah karakter yang membedakannya dari kesenian Indang di daerah lain.
Salah satu cirinya adalah tidak menggunakan perangkat musik dalam pertunjukan. Instrumen yang digunakan hanya berupa repai, yakni alat berbentuk bulat dan berukuran kecil.
Selain itu, pertunjukan biasanya melibatkan sekitar 11 hingga 13 anak indang. Penyajiannya juga memiliki pola tersendiri dan tidak hanya mengandalkan satu orang tukang dikir.
Warisan budaya yang telah berkembang sejak masa Syekh Burhanuddin tersebut hingga kini masih dipertahankan masyarakat. Indang Tradisi kerap ditampilkan dalam berbagai alek nagari dan kegiatan kebudayaan.
Sanggar Bisati sendiri telah menjalankan aktivitas pelestarian kesenian tersebut selama kurang lebih 15 tahun. Bagi mereka, Indang bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sarana pembentukan karakter generasi muda.
“Tujuannya mendidik anak-anak, mengangkat nilai-nilai martabat jiwa seni dan budaya. Apalagi di zaman sekarang, kita mengantisipasi kenakalan remaja, tawuran, maupun penyalahgunaan narkoba,” ujar Samsuir.
Tari Piriang Balenggek Ikut Memikat Penonton
Pertunjukan lain yang mendapat perhatian adalah Tari Piriang Balenggek dari Kota Sawahlunto. Tarian tersebut dibawakan Sanggar Patah Tumbuah Hilang Baganti dengan melibatkan sejumlah penari maestro.
Tari Piriang Balenggek merupakan salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Sawahlunto. Piring menjadi properti utama dalam tarian ini dan dimainkan melalui rangkaian gerakan yang cepat, terukur, serta membutuhkan keseimbangan tinggi.
Keahlian penari dalam mengendalikan piring menjadi salah satu daya tarik utama. Setiap gerakan membutuhkan konsentrasi dan ketepatan agar piring tetap terjaga selama pertunjukan berlangsung.
Rangkaian gerak dalam Tari Piriang Balenggek juga merepresentasikan ketangkasan, kegembiraan, serta semangat masyarakat dalam menjalani kehidupan.
Perpaduan gerak tari, iringan musik tradisional, dan atraksi permainan piring menjadikan Tari Piriang Balenggek sebagai salah satu kekayaan budaya Sawahlunto. Kesenian tersebut sekaligus menjadi gambaran kreativitas, kebersamaan, dan upaya masyarakat dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi.
Melalui Saraso Fest 2026, berbagai kesenian tradisional dari Sumatera Barat kembali mendapat ruang untuk tampil sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat dan generasi muda.(da*)


