Jakarta, Rakyatterkini.com – Meningkatnya kebutuhan layanan digital menjadi peluang bagi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) untuk memperkuat bisnis pusat data dan konektivitas internasional.
Namun, di tengah pertumbuhan permintaan tersebut, kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kapasitas dan merealisasikan investasi menjadi faktor penting yang akan menentukan prospek bisnis ke depan.
Salah satu peluang datang dari NeutraDC Batam, unit bisnis pusat data TelkomGroup. Fasilitas tahap awal dengan kapasitas 6 megawatt (MW) dilaporkan telah terisi sepenuhnya. Sementara itu, perusahaan merencanakan pengembangan kapasitas hingga 100 MW, dengan potensi permintaan yang diperkirakan mencapai sekitar 260 MW.
Besarnya minat pasar tersebut memberikan gambaran mengenai peluang pertumbuhan jangka panjang. Meski demikian, tingginya permintaan belum tentu langsung meningkatkan pendapatan dan keuntungan perusahaan. Realisasi pembangunan serta kemampuan mengoptimalkan fasilitas menjadi aspek yang perlu diperhatikan investor.
Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Investor Saham TLKM
1. Bisnis pusat data berpeluang memperkuat pertumbuhan perusahaan
Perkembangan komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kebutuhan penyimpanan data terus mendorong permintaan terhadap fasilitas pusat data.
Bagi TLKM, kondisi ini membuka kesempatan untuk memperluas sumber pendapatan di luar bisnis telekomunikasi konvensional. Peluang tersebut dapat dimaksimalkan apabila permintaan pasar berhasil dikonversi menjadi kontrak layanan, peningkatan tingkat keterisian fasilitas, dan pendapatan berulang.
Namun, rencana peningkatan kapasitas NeutraDC Batam hingga 100 MW masih perlu dibedakan dari kapasitas yang telah beroperasi. Investor perlu mencermati perkembangan pembangunan, kebutuhan pendanaan, serta kontribusi bisnis tersebut terhadap pendapatan dan laba perusahaan.
2. Jaringan kabel bawah laut menjadi penopang konektivitas digital
Selain pusat data, jaringan kabel bawah laut yang dikelola Telin juga memiliki peran penting dalam mendukung pertukaran data internasional. Infrastruktur ini menjadi bagian dari ekosistem digital yang dibutuhkan untuk memenuhi pertumbuhan lalu lintas internet dan kebutuhan bandwidth.
Berdasarkan materi analisis yang menjadi acuan, tingkat utilisasi sejumlah rute kabel bawah laut disebut berada di kisaran 85–99%. Sementara itu, permintaan bandwidth diproyeksikan tumbuh sekitar 24–30% per tahun hingga 2030.
Apabila tren tersebut terealisasi, tingginya pemanfaatan jaringan dapat membuka peluang peningkatan kapasitas dan pendapatan layanan konektivitas. Meski begitu, prospek bisnis ini juga dipengaruhi oleh besarnya investasi infrastruktur, persaingan tarif, dan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Karena itu, investor perlu menilai apakah pertumbuhan permintaan dapat memberikan peningkatan keuntungan yang sebanding dengan biaya pengembangan jaringan.
3. Potensi dividen perlu dibandingkan dengan risiko investasi
Saham TLKM juga menjadi perhatian investor yang mengutamakan pendapatan dari dividen. Dalam materi analisis yang dirujuk, imbal hasil dividen (dividend yield) saham ini disebut berada pada kisaran 8–9%.
Meski terlihat menarik, angka tersebut perlu diperiksa kembali berdasarkan harga saham terkini, besaran dividen yang digunakan dalam perhitungan, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pembagian dividen pada periode mendatang.
Di sisi lain, ekspansi pusat data menghadapi tantangan berupa kebutuhan listrik yang besar. Materi analisis tersebut memperkirakan investasi untuk penyediaan pembangkit listrik mandiri mencapai sekitar Rp25 miliar per MW. Jika kebutuhan ini benar-benar diperlukan, tambahan belanja modal dapat memengaruhi arus kas dan tingkat pengembalian investasi.
Risiko lainnya mencakup keterlambatan pembangunan fasilitas, tekanan harga pada layanan kabel bawah laut, serta kemungkinan pertumbuhan permintaan komputasi AI yang tidak sesuai dengan perkiraan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi profitabilitas apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Rekomendasi BUY dengan target harga Rp3.400 yang tercantum dalam materi analisis dapat menjadi salah satu referensi bagi investor. Kendati demikian, rekomendasi dan target harga merupakan pandangan analis berdasarkan asumsi tertentu, bukan kepastian bahwa harga saham akan mencapai level tersebut.
Sebelum mengambil keputusan investasi, investor sebaiknya mempelajari laporan keuangan terbaru TLKM, terutama pertumbuhan pendapatan, laba bersih, belanja modal, arus kas operasional, serta posisi utang perusahaan. Kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat juga penting untuk menilai keberlanjutan dividen sekaligus membiayai ekspansi bisnis.
Perkembangan tingkat keterisian pusat data, realisasi penambahan kapasitas, dan pertumbuhan pendapatan dari jaringan kabel bawah laut dapat menjadi indikator tambahan untuk memantau kinerja perusahaan. (da*)


