Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah tengah mengevaluasi kemungkinan penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite. Langkah ini dipertimbangkan seiring meningkatnya konsumsi setelah sebagian pengguna beralih dari BBM nonsubsidi ke bahan bakar yang mendapat subsidi pemerintah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa peningkatan permintaan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebutuhan tambahan kuota Pertalite. Meski demikian, pemerintah belum menetapkan jumlah penambahan yang diperlukan.
Bahlil menyampaikan bahwa kenaikan konsumsi berpotensi membuat kuota yang tersedia perlu disesuaikan. Saat ini, perhitungan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan kebutuhan tambahan tersebut.
“Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji,” kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan, perubahan pola konsumsi terjadi setelah harga BBM nonsubsidi beroktan RON 92, termasuk Pertamax, mengalami kenaikan. Sebagian masyarakat kemudian memilih Pertalite sebagai alternatif bahan bakar dengan harga yang lebih terjangkau.
Perubahan tersebut membuat pemerintah perlu menghitung kembali kebutuhan penyaluran BBM bersubsidi agar dapat mengantisipasi peningkatan permintaan.
Bahlil menambahkan, evaluasi terkait kemungkinan penambahan kuota Pertalite ditargetkan berlangsung pada akhir Oktober 2026. Selain memperhitungkan perkembangan konsumsi, pemerintah juga telah menelaah kesiapan anggaran untuk memenuhi kebutuhan tambahan apabila diperlukan.
“Untuk Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise di akhir bulan ini, ya. Memang ada terjadi peningkatan,” ujarnya.
Penyaluran Pertalite Naik hingga 12,92 Persen
Peningkatan konsumsi Pertalite juga tercermin dalam data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Lembaga tersebut mencatat rata-rata penyaluran Pertalite pada Juli 2026 meningkat 12,92 persen dibandingkan dengan rata-rata sebelum harga Pertamax mengalami kenaikan.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengungkapkan bahwa penyaluran Pertalite sebelum perubahan harga Pertamax berada di kisaran 75.795 kiloliter (KL) per hari.
Setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, volume penyaluran Pertalite turut mengalami peningkatan.
Pada 10 Juni 2026, penyaluran Pertalite tercatat mencapai 82.760 KL per hari. Jumlah tersebut bertambah 6.965 KL per hari atau meningkat 9,19 persen dibandingkan dengan rata-rata sebelum kenaikan harga Pertamax.
Tren kenaikan berlanjut pada Juli 2026. Rata-rata penyaluran Pertalite mencapai 85.589 KL per hari, atau bertambah 9.794 KL per hari dibandingkan dengan kondisi sebelum perubahan harga. Secara persentase, kenaikan tersebut mencapai 12,92 persen.
Namun, pada Agustus 2026, penyaluran Pertalite mulai mengalami penurunan. Rata-rata volume distribusinya tercatat sekitar 84.368 KL per hari, lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada Juli.
Data tersebut memperlihatkan adanya peningkatan penyaluran Pertalite setelah harga Pertamax naik, meskipun volumenya sedikit menurun pada bulan berikutnya.
Pemerintah kini masih mematangkan perhitungan untuk menentukan apakah penambahan kuota Pertalite diperlukan. Keputusan nantinya akan mempertimbangkan tren konsumsi BBM bersubsidi serta kemampuan anggaran negara dalam mengakomodasi peningkatan kebutuhan tersebut.(da*)


