Payakumbuh, Rakyatterkini.com – Kota Payakumbuh, Sumatra Barat, tidak hanya dikenal dengan kelezatan rendangnya, tetapi juga memiliki beragam kuliner tradisional yang menarik untuk dijelajahi pada malam hari. Selain Martabak Kubang yang populer, wisatawan dapat menemukan aneka kudapan khas hingga sajian sate dengan cita rasa yang menjadi identitas daerah tersebut.
Dalam penelusuran kuliner bersama Gastronusa, penulis buku Rendang: Minang Legacy to the World, Reno Andam Suri, memperkenalkan dua hidangan khas yang patut dicoba saat berkunjung ke Payakumbuh. Keduanya adalah pastel padeh dan Sate Danguang-Danguang yang memiliki keunikan tersendiri.
Pastel Padeh, Kudapan Tradisional dengan Sentuhan Minyak Rendang
Salah satu makanan khas yang dapat ditemukan di Payakumbuh adalah pastel padeh. Kudapan ini dijual oleh Karupuak Padeh Reda Dalimo, usaha yang dikelola bersama Afin Saputra di kawasan Koto Nan Ampek.
Dari segi tampilan, pastel padeh sekilas menyerupai perkedel. Namun, masyarakat setempat menyebutnya pastel padeh, dengan kata padeh dalam bahasa Minangkabau yang berarti pedas.
Keistimewaan makanan ini tidak hanya terletak pada bahan dan bumbunya, tetapi juga pada cara pengolahannya yang berkaitan dengan tradisi produksi rendang di Payakumbuh. Kota ini memang dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan rendang, termasuk untuk produk oleh-oleh.
Reno Andam Suri menjelaskan bahwa pastel padeh dibuat menggunakan singkong parut yang dicampur dengan berbagai bumbu. Hal yang membuatnya berbeda adalah penggunaan campuran minyak dari proses memasak rendang dan gulai cancang untuk menggoreng kudapan tersebut.
Minyak dari kedua masakan itu memberikan warna serta aroma khas pada pastel padeh. Minyak gulai cancang turut menghasilkan rona kemerahan, sedangkan minyak rendang menambahkan karakter rasa yang khas.
Menurut Reno, pemanfaatan minyak tersebut merupakan bagian dari kebiasaan kuliner masyarakat setempat yang telah berlangsung sejak lama. Praktik ini juga memperlihatkan bagaimana bahan sisa proses memasak dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak terbuang percuma.
Ia menuturkan, banyak penjual pastel padeh di kawasan tersebut telah menjalankan usahanya sejak dekade 1980-an. Perkembangan usaha ini berjalan beriringan dengan tumbuhnya industri rendang kemasan di Payakumbuh.
Sebagian produsen rendang untuk oleh-oleh yang produknya dipasarkan di berbagai kota, termasuk Padang dan Bukittinggi, memiliki rumah produksi di Payakumbuh. Dalam proses pembuatan rendang kering, minyak terkadang dipisahkan dari masakan. Minyak tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk mengolah makanan lain, salah satunya pastel padeh.
Tradisi ini menjadi contoh penerapan prinsip nirlimbah atau zero waste yang tumbuh secara alami dalam kehidupan masyarakat. Tanpa harus mengikuti tren modern, para pelaku usaha kuliner setempat telah mempraktikkan pemanfaatan bahan secara optimal selama puluhan tahun.
Sate Danguang-Danguang, Ikon Kuliner Payakumbuh
Selain pastel padeh, sate menjadi hidangan yang tidak boleh dilewatkan saat berwisata kuliner di Payakumbuh. Sumatra Barat sendiri memiliki beragam jenis sate dengan karakteristik berbeda sesuai daerah asalnya.
Secara umum, terdapat tiga kategori sate yang dikenal luas, yakni Sate Pariaman, Sate Padang Panjang, dan Sate Danguang-Danguang. Sate Pariaman identik dengan kuah berwarna merah yang kaya cabai, sementara sate dari Padang Panjang memiliki karakter racikan bumbu tersendiri. Adapun Sate Danguang-Danguang menjadi salah satu ciri khas kuliner Payakumbuh.
Bagi pencinta kuliner malam, Sate Man yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Payakumbuh Barat, menjadi salah satu tempat yang dapat dikunjungi untuk mencicipi hidangan tersebut.
Popularitas tempat makan ini membuat pengunjung perlu datang lebih awal agar memiliki lebih banyak pilihan daging dan jeroan. Menu yang tersedia antara lain sate usus, lidah, hati, dan paru.
Menurut Reno, perbedaan Sate Danguang-Danguang dengan sate dari daerah lain di Sumatra Barat dapat dikenali dari racikan bumbu dan teknik pengolahannya. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan kelapa sebagai baluran pada daging sebelum dibakar di atas bara api.
Proses pembakaran tersebut menghasilkan aroma harum yang memperkuat cita rasa sate. Perpaduan daging, bumbu, dan kelapa menciptakan karakter rasa yang membedakannya dari jenis sate lainnya.
Setelah matang, sate disajikan dengan siraman kuah kental berwarna kuning yang masih hangat. Hidangan ini biasanya ditemani ketupat dan kerupuk kulit, dengan daun pisang sebagai alas penyajiannya.
Reno menyarankan wisatawan untuk mencicipi Sate Danguang-Danguang secara langsung ketika berada di Payakumbuh. Menurutnya, perbedaan racikan bumbu dan aroma kelapa bakar menjadi daya tarik yang membuat hidangan ini layak masuk dalam daftar kuliner yang wajib dicoba.
Air Putih Gratis, Cerminan Keramahan Warung Kuliner
Pengalaman menikmati kuliner di Payakumbuh juga dilengkapi dengan kebiasaan sederhana yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung, yakni penyediaan air putih gratis di sejumlah tempat makan.
Di berbagai warung, air minum biasanya tersedia dalam galon yang dapat digunakan pelanggan untuk mengisi gelas mereka tanpa dikenakan biaya tambahan. Fasilitas tersebut menjadi bentuk pelayanan yang praktis sekaligus mencerminkan keramahan para pedagang kepada pelanggan.
Reno turut mengapresiasi kebiasaan tersebut. Menurutnya, pengunjung dapat menikmati air putih secara cuma-cuma, bahkan berkesempatan mengisi botol minum pribadi jika fasilitasnya memungkinkan.
Keberadaan pastel padeh, Sate Danguang-Danguang, serta kebiasaan menyediakan air putih gratis memperlihatkan bahwa daya tarik Payakumbuh tidak hanya berasal dari kekayaan rasa makanannya. Tradisi pengolahan pangan, pemanfaatan bahan secara efisien, dan keramahan pelaku usaha turut menjadi bagian dari pengalaman wisata kuliner di kota ini.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan kuliner Minangkabau, Payakumbuh menawarkan perjalanan rasa yang memadukan kelezatan, sejarah, dan kebiasaan masyarakat yang masih bertahan hingga kini.(da*)


