Notification

×

Iklan

Mahyeldi Imbau Warga Sumbar Waspada Bencana

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 19:29 WIB Last Updated 2026-10-24T12:29:00Z



Padang, Rakyatterkini.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung pada 23–25 Oktober 2026. Dalam peringatan tersebut, delapan daerah ditetapkan dalam kategori Siaga dan 11 daerah lainnya masuk kategori Waspada.

Wilayah yang berstatus Siaga mencakup Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, Pasaman, Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, serta Kota Padang.

Sementara itu, daerah yang masuk kategori Waspada meliputi Kabupaten Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Sijunjung, serta Kota Bukittinggi, Padang Panjang, Pariaman, Payakumbuh, dan Sawahlunto.

Menanggapi peringatan tersebut, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang bermukim di sekitar sungai, kawasan perbukitan, dan daerah yang memiliki potensi bencana.

Mahyeldi menyampaikan imbauan itu di Padang, Jumat (23/10/2026). Ia menegaskan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh bencana.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing serta mengambil langkah pencegahan sebelum situasi memburuk.

Selain mengantisipasi ancaman bencana, Mahyeldi juga mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan air bersih. Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi mengganggu sistem distribusi air, termasuk pelayanan yang dikelola perusahaan daerah air minum (PDAM).

Karena itu, warga disarankan menyiapkan persediaan air bersih yang cukup untuk beberapa hari guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan pasokan selama cuaca ekstrem.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan, menerangkan bahwa meningkatnya peluang hujan di Sumbar dipengaruhi oleh beberapa dinamika atmosfer. Fenomena tersebut antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, pertemuan massa udara atau konvergensi, serta belokan angin (shearline) yang aktif di wilayah tersebut.

Kondisi itu juga diperkuat oleh anomali positif suhu permukaan laut di perairan barat Sumatera Barat. Faktor tersebut mendukung pembentukan awan hujan yang dapat meningkatkan intensitas curah hujan.

Decky menjelaskan bahwa kombinasi berbagai fenomena atmosfer tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat diminta mengetahui lokasi-lokasi yang rawan bencana di sekitar tempat tinggal serta mengikuti perkembangan informasi cuaca dari sumber resmi sebelum melakukan aktivitas.

Warga juga diingatkan segera menjauh dari kawasan berbahaya dan menuju tempat yang lebih aman apabila hujan deras berlangsung dalam waktu lama, debit sungai meningkat, atau terlihat material longsoran.

Kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana yang dipicu oleh cuaca ekstrem.(adpsb/bud)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update