Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan pemantauan terhadap berbagai gangguan kesehatan yang dipicu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi prioritas.
Penyakit yang menjadi perhatian meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga iritasi pada mata dan kulit.
Wilayah yang menjadi fokus pemantauan mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa organik yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap perkembangan kasus penyakit, tetapi juga mencakup ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta peralatan kesehatan yang dibutuhkan di daerah terdampak.
“Kita juga melakukan pemantauan penyakit akibat kebakaran hutan ini seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Kemudian juga kita memantau ketersediaan obat maupun BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) termasuk alat kesehatan yang diperlukan oleh daerah,” ujar Suyanti dalam keterangan pers, Kamis (22/10/2026).
Kemenkes memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap paparan asap. Mereka meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita ISPA, pasien penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta masyarakat yang bekerja di luar ruangan.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Kemenkes juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Pemerintah telah menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada pemerintah daerah, masyarakat di kawasan terdampak, dan fasilitas pelayanan kesehatan agar melakukan persiapan menghadapi risiko kesehatan akibat karhutla.
Dari sisi pelayanan, sebanyak 1.691 puskesmas di wilayah terdampak disiagakan untuk memberikan penanganan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Untuk penyiapan layanan kesehatan tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan,” kata Suyanti.
Selain itu, Kemenkes telah menyalurkan dukungan logistik kesehatan berupa oksigen, konsentrator oksigen, tabung oksigen, dan masker. Pemerintah juga menyiapkan 360 rumah sakit rujukan untuk menangani pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Sementara itu, sebanyak 87 laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas) dipersiapkan untuk melakukan pemeriksaan kualitas udara. Pemerintah daerah juga telah menyediakan 491 rumah oksigen di berbagai wilayah sebagai bagian dari upaya menghadapi dampak kabut asap.
Suyanti menambahkan, kesiapan sumber daya manusia di bidang kesehatan turut menjadi perhatian agar penanganan terhadap masyarakat terdampak dapat berjalan optimal.
Di tengah kondisi tersebut, data pemerintah mencatat sebanyak 333.470 kasus ISPA secara kumulatif selama periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Adapun jumlah kasus baru yang tercatat pada 21 Oktober 2026 mencapai 4.522 kasus dalam sehari.
Menyikapi potensi bahaya akibat penurunan kualitas udara, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah ketika udara berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker sangat dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel asap. Masyarakat juga diminta memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dengan mengonsumsi air minum yang cukup.
“Apabila kondisinya sangat tidak sehat dan berbahaya, kurangi aktivitas di luar ruangan. Kemudian jangan lupa, apabila harus keluar, menggunakan masker dan jaga hidrasinya. Jadi harus konsumsi air minum yang cukup,” imbau Suyanti.(da*)


