Notification

×

Iklan

Kabut Asap Kian Tebal di Solok Selatan, Pemkab Evaluasi Sekolah Tatap Muka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 14:21 WIB Last Updated 2026-10-22T07:21:00Z

Kabut asap pekat, anak sekolah dipulangkan.

Padang Aro, Rakyatterkini.com – Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Solok Selatan dalam sebulan terakhir terus menjadi perhatian pemerintah daerah. 

Kondisi udara yang berubah-ubah, bahkan semakin pekat setelah hujan, membuat pemerintah harus mempertimbangkan keselamatan siswa sekaligus efektivitas proses belajar mengajar di sekolah.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan sebelumnya beberapa kali menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa tingkat SD/MI dan SMP/MTs. Kebijakan serupa juga diikuti oleh sekolah tingkat SMA dan sederajat.

Pada Kamis (15/10/2026), misalnya, siswa dipulangkan lebih awal. Selanjutnya, pembelajaran jarak jauh diberlakukan mulai Jumat hingga Selasa (16–20/10/2026).

Sekretaris Daerah Solok Selatan, Syamsurizaldi, mengatakan perkembangan cuaca dan kondisi kabut asap sangat dinamis. Karena itu, kebijakan pemerintah daerah akan terus disesuaikan dengan situasi terbaru di lapangan.

"Situasi kabut terkini memang agak tebal setelah hujan hampir di seluruh wilayah Solok Selatan, yang bertepatan juga dengan kembali dimulainya proses belajar tatap muka," kata Syamsurizaldi saat dihubungi, Rabu (21/10/2026).

Ia menegaskan, pemerintah daerah terus mengevaluasi perkembangan kabut asap, terutama untuk menentukan langkah yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Untuk sementara, pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dengan sejumlah ketentuan. Seluruh warga sekolah diwajibkan menggunakan masker sejak berangkat, selama mengikuti kegiatan belajar, hingga pulang ke rumah.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Solok Selatan juga mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang telah diterapkan beberapa waktu terakhir.

Kepala Dinas Pendidikan Solok Selatan, Hamudis, menjelaskan evaluasi dilakukan bersama Kantor Kementerian Agama Solok Selatan untuk melihat efektivitas PJJ, baik dari sisi proses belajar maupun upaya melindungi siswa dari paparan kabut asap.

"Dari hasil evaluasi PJJ yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kemenag, ternyata PJJ tidak efektif untuk memastikan anak tidak terpapar kabut asap. Sebab, masih banyak yang keluyuran keluar rumah, bahkan tanpa mengenakan masker," terang Hamudis.

Menurutnya, pembelajaran dari rumah semestinya tetap memastikan siswa terhubung dengan sekolah serta mengikuti kegiatan belajar dan mengerjakan tugas secara terstruktur.

Namun, pelaksanaannya menghadapi sejumlah kendala. Beberapa orang tua siswa mengeluhkan kesulitan mendampingi anak selama belajar di rumah. Bahkan, ada siswa yang tetap bermain di luar rumah atau lebih banyak menggunakan gawai daripada mengikuti pembelajaran.

Atas dasar evaluasi tersebut, pemerintah daerah memutuskan pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, termasuk penggunaan masker dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Meski demikian, perkembangan kondisi udara tetap menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan selanjutnya.

Sementara itu, kabut asap yang semakin tebal pada pagi hari juga menimbulkan pertanyaan karena jarak pandang terganggu dan masyarakat mulai merasakan dampaknya terhadap pernapasan. 

Kondisi tersebut terjadi meskipun Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) tercatat menurun pada pagi itu setelah hujan turun.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkim-LH dan Perhubungan Solok Selatan, Alfino Sendra, menjelaskan kondisi tersebut dapat dipengaruhi kombinasi polusi udara kiriman dan perubahan kelembapan setelah hujan.

Menurutnya, ketika air hujan membasahi permukaan tanah yang hangat, penguapan dapat meningkatkan kelembapan udara. Uap air kemudian berinteraksi dengan partikel asap, termasuk partikel halus PM2.5, sehingga kabut terlihat lebih pekat dan cahaya lebih sulit menembusnya.

"Uap air yang melimpah ini langsung menempel pada partikel asap (PM2.5) yang sudah menggantung di atmosfer, bertindak seolah-olah seperti 'lem' yang mengikat partikel tersebut menjadi butiran kabut basah yang jauh lebih besar dan padat," jelas Alfino.

Ia menambahkan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang belum tentu mampu membersihkan polutan dari atmosfer secara efektif. Dalam kondisi tertentu, kelembapan yang meningkat justru dapat membuat kabut terlihat lebih tebal dan memperpendek jarak pandang.

Berdasarkan pantauan BMKG terkait kondisi terkini di Sumatera Barat, kabut asap yang menyelimuti Solok Selatan diduga merupakan kiriman dari kebakaran hutan di provinsi tetangga, terutama Jambi dan Sumatera Selatan.

Hujan lokal juga dapat mendinginkan udara dekat permukaan tanah, sementara lapisan udara di atasnya tetap lebih hangat. Kondisi ini berpotensi membentuk inversi suhu yang menghambat pergerakan vertikal udara sehingga asap bertahan di dekat permukaan.

Situasi tersebut membuat kabut asap berpotensi tetap mengganggu jarak pandang meskipun hujan telah turun.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan pun terus memantau perkembangan kondisi udara dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran. 

Penggunaan masker serta kepatuhan terhadap ketentuan kesehatan menjadi perhatian utama agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik. (alwis)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update