Notification

×

Iklan

Festival Silat Tradisi Padang Sukses Digelar

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:46 WIB Last Updated 2026-10-26T16:46:00Z

Festival Silat Tradisi Padang

Padang, Rakyatterkini.com – Festival Silat Tradisi Kota Padang yang berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026, di halaman Masjid Raya Pauh, berakhir dengan sukses. Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang ini menjadi wadah untuk memperkenalkan sekaligus menjaga kelestarian seni tradisi Minangkabau.

Mengangkat tema “Melestarikan Budaya, Menguatkan Jati Diri Bangsa”, festival tersebut mendapat dukungan dari Anggota DPRD Kota Padang, Yusri Latif, melalui dana pokok-pokok pikiran (Pokir).

Penutupan festival berlangsung pada Minggu (25/10/2026) malam, setelah 10 sasaran silek di Kecamatan Pauh menuntaskan seluruh rangkaian pertunjukan.

Berbagai kesenian tradisional ditampilkan selama kegiatan berlangsung. Mulai dari silek bapasangan, jurus tunggal, tari-tarian khas Minangkabau, hingga randai, seluruhnya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat.

Pada hari pertama, Sabtu (24/10/2026), Sasaran Biruang Sakti membuka pertunjukan dengan menampilkan Jurus Tunggal Perorangan, Jurus Tunggal Nasional, Tari Cewang Tradisi, Tari Buai-Buai, Tari Payuang, serta silek berpasangan.

Pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Sasaran Palito dengan penampilan Galatiak Anak Nagari. Berikutnya, Sasaran Minang Sakti memperagakan silek berpasangan yang melibatkan dua pasang pesilat.

Memasuki hari kedua, Minggu (25/10/2026), pertunjukan kembali digelar mulai pukul 20.00 WIB. Sasaran Pauh Nan Saiyo, Alang Pauh Sejati Nan Jombang, Alang Bangkeh, Binuang Sakti, Kinantan Sakti, dan Limo Sakato secara bergantian memperlihatkan kemampuan silek berpasangan dengan masing-masing menampilkan dua pasang pesilat.

Sementara itu, Sasaran Ranah Tigo Raso turut memeriahkan acara melalui pertunjukan randai. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 22.00 WIB.

Tuntasnya seluruh penampilan menjadi penanda keberhasilan festival dalam menghadirkan ruang bagi kelompok seni tradisional untuk menunjukkan ciri khas masing-masing. Kegiatan ini sekaligus mempererat hubungan antara para pelaku tradisi dan masyarakat.

Perpaduan silek, tari tradisional, dan randai juga memperlihatkan bahwa kebudayaan Minangkabau tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan, tetapi juga berakar kuat pada adat dan kehidupan sosial masyarakat.

Yusri Latif Tekankan Pentingnya Menjaga Tradisi Silek

Saat membuka kegiatan pada Sabtu (24/10/2026), Yusri Latif mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan silat tradisional agar tetap berkembang dan dikenal oleh generasi penerus.

Ia berpandangan bahwa kegiatan seni dan budaya dapat menjadi pilihan positif bagi anak muda untuk menyalurkan energi dan mengembangkan potensi diri. Hal ini dinilai semakin penting di tengah berbagai persoalan sosial, seperti penyalahgunaan narkoba, kemerosotan moral, persoalan etika dan adab, hingga tawuran yang terjadi di Kota Padang.

“Lebih baik energi generasi muda kita disalurkan melalui kegiatan seni dan tradisi. Insya Allah kami akan mendukung setiap tahun,” ujar Yusri.

Ia menjelaskan, dukungan terhadap festival tersebut berawal dari aspirasi para tuo silek dan guru silek di Kecamatan Pauh. Sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Padang, dirinya memiliki tanggung jawab untuk menerima, menampung, dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan keberlangsungan seni tradisional.

Melalui bantuan dana Pokir, Yusri berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan demikian, para pelaku silek memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus meneruskan ilmu dan nilai-nilai tradisi kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, silek tradisi juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan. Kesenian tersebut berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Kota Padang.

Ia mencontohkan pertunjukan silek yang dapat dimasukkan ke dalam rangkaian acara pernikahan maupun paket wisata, terutama untuk menarik minat pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara.

“Silek Pauh sudah mendunia. Dari sisi ekonomi, kami melihat ada peluang di situ,” kata Yusri.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, diperlukan dukungan berbagai pihak, termasuk penyediaan ruang pertunjukan, keterlibatan tuo silek dan guru silek, serta perhatian terhadap kelompok-kelompok seni tradisi.

Promosi yang berkesinambungan dan pengelolaan yang baik diharapkan mampu menjadikan silek sebagai salah satu identitas wisata budaya Kota Padang. Selain menjaga warisan leluhur, pengembangan ini juga dapat membuka peluang pendapatan bagi para pelaku seni tradisional.

Yusri menegaskan bahwa dirinya akan terus memperjuangkan dukungan anggaran untuk kegiatan seni dan budaya setiap tahun. Menurut dia, upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui imbauan, tetapi perlu diwujudkan dalam program dan kegiatan yang memberikan ruang bagi tradisi untuk terus hidup.

Saat menutup festival pada Minggu (25/10/2026) malam, ia berharap Festival Silat Tradisi Kota Padang dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan dengan jangkauan peserta yang lebih luas.

Ke depan, festival tersebut diharapkan tidak hanya melibatkan sasaran silek dari Kecamatan Pauh, tetapi juga kelompok silek dan komunitas seni tradisional dari berbagai kecamatan di Kota Padang.

Dengan semakin banyaknya kelompok yang terlibat, festival ini diharapkan menjadi panggung bersama untuk menampilkan keunikan seni tradisi Minangkabau sekaligus memperkuat komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update