Jakarta, Rakyatterkini.com – Empat pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara (AU) berhasil menjalani uji coba pendaratan dan lepas landas di ruas Jalan Tol Pasuruan–Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026). Pengujian ini dilakukan untuk memastikan kesiapan jalan tol sebagai landasan alternatif dalam situasi darurat guna memperkuat pertahanan nasional.
Uji coba berlangsung di jalur sepanjang 3,5 kilometer, tepatnya pada KM 834+000 hingga KM 837+500. Ruas tersebut memiliki lebar 24,2 meter dengan konstruksi perkerasan kaku atau rigid pavement pada lajur dan bahu dalam. Sebelum digunakan, segmen jalan tol tersebut telah melalui proses verifikasi kelayakan untuk mendukung aktivitas pendaratan dan lepas landas pesawat tempur.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa jalan tol memiliki peran penting yang melampaui fungsi utamanya sebagai penghubung antarwilayah. Infrastruktur tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai kebutuhan strategis negara.
Menurut Dody, penggunaan jalan tol sebagai landasan darurat mencerminkan penerapan fungsi ganda infrastruktur yang dibangun pemerintah. Selain menunjang mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, jalan tol juga dapat berperan dalam mendukung kesiapsiagaan nasional.
Hal tersebut disampaikan Dody melalui keterangan resmi pada Jumat (23/10/2026).
Pengujian di Tol Pasuruan–Probolinggo merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan infrastruktur jalan untuk kepentingan strategis nasional. Pelaksanaannya tetap mengutamakan pemenuhan persyaratan teknis serta standar keselamatan penerbangan dan pengguna jalan.
Selama kegiatan berlangsung, Kementerian PU bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), PT Trans Jawa Paspro Jalan Tol (TJPJT), memberlakukan pengaturan lalu lintas berupa pengalihan arus kendaraan. Rekayasa lalu lintas diterapkan pada jalur antara Gerbang Tol Probolinggo Barat di KM 829+000 dan Gerbang Tol Probolinggo Timur di KM 841+200.
Pengguna jalan yang melintasi kawasan tersebut diarahkan menggunakan jalur alternatif melalui jaringan jalan nasional maupun rute lain yang telah disediakan. Masyarakat juga diimbau mematuhi rambu-rambu lalu lintas, mengikuti instruksi petugas, mengatur waktu perjalanan, serta memantau informasi terbaru dari pengelola jalan tol.
Pemanfaatan jalan tol untuk mendukung operasional pesawat tempur bukan kali pertama dilakukan. Pada 11 Februari 2026, Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung atau Tol Terpeka di Provinsi Lampung telah dijadikan proyek percontohan untuk pengujian pendaratan dan lepas landas pesawat TNI AU.
Selain Tol Pasuruan–Probolinggo, Kementerian PU turut mempersiapkan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan) dan Tol Banda Aceh–Sigli sebagai alternatif landasan darurat bagi pesawat tempur TNI AU. Lintasan yang direncanakan di Tol Japek II Selatan memiliki panjang 3,5 kilometer, sedangkan di Tol Banda Aceh–Sigli mencapai sekitar 3,8 kilometer.
Di lokasi yang sama, Kementerian PU juga menguji penerapan Aspal Merah Putih pada segmen sepanjang 200 meter, yakni dari KM 833+800 hingga KM 834+000. Hamparan aspal tersebut memiliki lebar 11,8 meter dan menggunakan Asbuton pracampur sebagai bagian dari pemanfaatan bahan baku aspal produksi dalam negeri.
Penggunaan aspal berbasis aspal Buton (Asbuton) tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan material konstruksi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap produk aspal impor.
Upaya ini turut diperkuat melalui Peraturan Menteri PU Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pengolahan Aspal Buton Olahan untuk Pembangunan dan Preservasi Jalan. Melalui regulasi tersebut, pemerintah mendorong peningkatan penggunaan Asbuton olahan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan industri, kualitas hasil konstruksi, dan kelayakan ekonomi.
Dengan berbagai langkah tersebut, infrastruktur jalan tol diharapkan tidak hanya memperlancar transportasi dan distribusi barang, tetapi juga dapat mendukung kepentingan pertahanan serta memperkuat kemandirian material konstruksi dalam negeri.(da*)


