Notification

×

Iklan

BRI Dorong Ketahanan Pangan Lewat Program BRInita

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:54 WIB Last Updated 2026-10-31T13:54:00Z

Para jurnalis mengikuti kegiatan Fellowship Journalism Menanam 

Jakarta, Rakyatterkini.com– Minimnya ketersediaan lahan di wilayah perkotaan bukan menjadi alasan untuk tidak mengembangkan kegiatan pertanian. 

Dengan penerapan konsep urban farming atau pertanian perkotaan, area terbatas di lingkungan permukiman tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus menciptakan kawasan yang lebih asri dan ramah lingkungan.

Upaya tersebut dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program BRInita (BRI Bertani di Kota) yang berada di bawah naungan BRI Peduli. Program ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbatas agar memiliki nilai produktif, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Sebagai salah satu agenda Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026, BRI mengikutsertakan sejumlah jurnalis terpilih dari berbagai daerah di Indonesia dalam kegiatan Fellowship Journalism Menanam. Aktivitas tersebut berlangsung di kawasan BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar, RW 03, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jumat (30/10/2026).

Dalam kesempatan itu, para peserta tidak hanya melihat langsung pengelolaan pertanian perkotaan, tetapi juga ikut melakukan berbagai kegiatan bersama warga. Mulai dari menyemai benih, menanam bibit, melakukan penyiraman hingga memetik hasil panen.

Melalui pengalaman tersebut, para jurnalis diperkenalkan pada praktik pemanfaatan lahan sempit yang dikelola secara bersama-sama untuk menghasilkan pangan dan menjaga kualitas lingkungan.

Lahan Sempit Disulap Menjadi Area Pertanian Produktif

BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar menjadi salah satu contoh pemanfaatan ruang perkotaan secara optimal. Dengan area sepanjang kurang lebih 60 meter dan lebar lima meter, kawasan ini ditanami berbagai komoditas, mulai dari sayuran, buah-buahan hingga tanaman herbal dan rempah-rempah.

Pengelolaan kawasan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga sekitar, termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar.

Tercatat terdapat 14 jenis sayuran dan tanaman umbi, delapan jenis buah-buahan, serta delapan jenis tanaman herbal dan rempah yang dibudidayakan. Beberapa di antaranya adalah terong, pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, jambu, lengkeng, pisang, lidah buaya, pandan, serai, kunyit, dan jahe.

Produksi pertanian dari kawasan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Selain itu, hasilnya juga disalurkan guna menunjang kegiatan sosial masyarakat, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita di Posyandu serta warga lanjut usia.

BRI Tingkatkan Fasilitas dan Kemampuan Masyarakat

Untuk memastikan keberlanjutan kegiatan, BRI memberikan dukungan berupa penyediaan fasilitas pertanian serta pendampingan kepada masyarakat secara berkelanjutan selama periode 2025–2026.

Pada 2025, dukungan yang diberikan mencakup 16 jenis sarana dan perlengkapan. Bantuan tersebut antara lain 200 tanaman siap tanam, 250 pot, benih, pupuk, tandon air berkapasitas 500 liter, instalasi irigasi tetes, serta 3.460 pot dan bibit tanaman untuk mendukung pengembangan kebun vertikal atau vertical garden.

Memasuki 2026, bantuan ditingkatkan dengan menyediakan 28 jenis barang dan perlengkapan. Fasilitas tersebut meliputi pot, polybag, tray semai, bibit sayuran, peralatan pengelolaan sampah, hingga perangkat budidaya ikan dalam ember (budikdamber) beserta 200 bibit ikan lele.

Tidak hanya berfokus pada kegiatan bercocok tanam, BRI turut membantu masyarakat mengembangkan nilai tambah hasil pertanian melalui dukungan desain dan pencetakan kemasan produk. Beberapa produk yang mendapatkan fasilitasi tersebut di antaranya minuman berbahan bunga telang dan cheese stick pakcoy.

Peningkatan kapasitas warga juga dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Materinya mencakup teknik budidaya tanaman, tata kelola pertanian perkotaan, pengolahan hasil panen, hingga pengelolaan lingkungan.

Dengan berbagai dukungan tersebut, masyarakat diharapkan semakin terampil dan mampu mengelola kawasan BRInita secara mandiri sehingga manfaat program dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.

Berkontribusi terhadap Ketahanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan

Kehadiran BRInita tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan bahan pangan di tengah permukiman padat penduduk. Program ini juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas lingkungan melalui penambahan ruang terbuka hijau dan pengolahan sampah organik.

Di sejumlah lokasi pengembangan, masyarakat mulai mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bermanfaat. Berbagai inovasi yang dilakukan antara lain pembuatan pupuk organik cair, eco enzyme, produk turunan pupuk, serta pengembangan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Melalui kegiatan tersebut, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah kembali menjadi bahan bernilai guna dan mendukung aktivitas pertanian.

Dari sisi pembangunan berkelanjutan, BRInita turut berkontribusi terhadap sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya meliputi ketahanan pangan, peningkatan kesehatan, pemberdayaan perempuan, pembangunan kota berkelanjutan, pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi menghadapi perubahan iklim.

Program ini juga mendukung arah kebijakan Asta Cita Pemerintah, terutama dalam memperkuat kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan pengembangan ekonomi hijau yang melibatkan partisipasi masyarakat.

BRInita Telah Hadir di 16 Provinsi

Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2021, program BRInita terus mengalami perkembangan. Hingga 2026, program tersebut telah membentuk 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office BRI dan 16 provinsi di Indonesia.

Dalam kurun waktu 2021–2026, BRInita tercatat telah memberikan manfaat secara langsung kepada 764 orang dan menjangkau 961 penerima manfaat tidak langsung.

Dari sektor pertanian, program ini berhasil menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayuran dan buah-buahan dengan estimasi nilai mencapai Rp914,5 juta. Sementara itu, produksi dari sektor perikanan mencapai 4,7 ton dengan nilai sekitar Rp56,5 juta.

Masyarakat penerima manfaat juga telah mengembangkan sebanyak 70 jenis produk olahan berbasis hasil pertanian. Aktivitas usaha kelompok tersebut mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp5,2 juta setiap bulan.

Untuk memperkuat kemampuan para pengelola, BRI telah memfasilitasi 62 sesi pelatihan yang membahas pertanian perkotaan, pengolahan sampah organik, serta pengembangan produk turunan.

Dampak positif program ini juga terlihat dari aspek lingkungan. Sebanyak 40 titik ruang terbuka hijau berhasil dikembangkan dengan total luas sekitar 4.000 meter persegi. Selain itu, masyarakat telah mengolah 4,7 ton limbah organik dan memproduksi lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair.

Dari sisi pengurangan dampak lingkungan, program BRInita mencatat efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kilogram CO2-eq. Program ini turut berperan dalam mendukung penyediaan makanan sehat bagi 31 balita melalui pemanfaatan produk olahan sayur dan buah.

Berbagai hasil tersebut memperlihatkan bahwa BRInita memiliki cakupan manfaat yang lebih luas daripada sekadar kegiatan pertanian di kawasan perkotaan. Program ini menggabungkan aspek pemenuhan kebutuhan pangan, peningkatan kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta penguatan ekonomi berbasis komunitas.

Melalui BRI Peduli, BRI terus mendorong masyarakat untuk mengubah keterbatasan ruang menjadi peluang produktif. Dengan kolaborasi dan pemberdayaan warga, lahan sempit di perkotaan dapat dikembangkan menjadi sumber pangan, ruang hijau, sekaligus pusat kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat berkelanjutan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update