Notification

×

Iklan

BI Catat Uang Beredar Capai Rp10.587 Triliun

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:22 WIB Last Updated 2026-10-23T16:22:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat tipis dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 8,2 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah uang beredar tersebut didukung oleh pertumbuhan uang beredar sempit atau M1 serta uang kuasi.

Dalam laporan resmi BI pada Jumat (23/10/2026), Ramdan menyebutkan bahwa M1 tumbuh 9,0 persen secara tahunan, sedangkan uang kuasi mengalami pertumbuhan sebesar 7,3 persen yoy.

BI mengungkapkan terdapat tiga komponen utama yang memengaruhi perkembangan M2 selama September 2026. Ketiganya meliputi tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, aktiva luar negeri bersih, serta penyaluran kredit.

Dari sisi tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, pertumbuhannya mencapai 24,4 persen yoy. Kondisi ini berbalik dibandingkan Agustus 2026, ketika komponen tersebut masih mengalami kontraksi sebesar 7,0 persen secara tahunan.

Perbaikan juga terlihat pada aktiva luar negeri bersih. Setelah mencatat kontraksi 6,6 persen yoy pada Agustus 2026, komponen ini kembali tumbuh positif sebesar 1,0 persen pada September 2026.

Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada September 2026, kredit tumbuh sebesar 12,7 persen yoy. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mencapai 13,3 persen yoy.

BI menegaskan bahwa penghitungan kredit dalam laporan tersebut hanya mencakup pinjaman atau loans. Dengan demikian, sejumlah instrumen keuangan lain yang memiliki karakteristik serupa tidak dimasukkan dalam perhitungan, termasuk surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repurchase agreement (repo).

Penghitungan itu juga tidak mencakup kredit yang berasal dari kantor bank umum yang beroperasi di luar negeri, maupun kredit yang diberikan kepada Pemerintah Pusat dan pihak bukan penduduk.

Selain perkembangan M2, BI turut mencatat posisi uang primer atau M0 adjusted sebesar Rp2.353,1 triliun pada September 2026. Pertumbuhan komponen ini tercatat 9,3 persen yoy, melambat cukup signifikan dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 16,3 persen yoy.

Perlambatan pertumbuhan uang primer tersebut antara lain dipengaruhi oleh perkembangan uang kartal yang diedarkan, yang tumbuh sebesar 11,8 persen secara tahunan. Sementara itu, giro bank umum di BI setelah penyesuaian atau adjusted mencatat pertumbuhan sebesar 3,9 persen yoy.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa penghitungan pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan pengaruh pemberian insentif likuiditas dalam kerangka kebijakan pengendalian moneter.

Dalam laporannya, BI menyampaikan bahwa perkembangan M0 adjusted dihitung dengan mempertimbangkan dampak insentif likuiditas yang telah disesuaikan dengan aspek pengendalian moneter.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan uang beredar secara luas pada September 2026 mengalami peningkatan, sementara pertumbuhan uang primer melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Perkembangan kedua indikator ini menjadi bagian dari gambaran kondisi likuiditas dalam perekonomian Indonesia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update