Padangpanjang, Rakyatterkini.com – Nilai-nilai ketahanan, kemandirian, dan hubungan manusia dengan alam menjadi gagasan utama dalam instalasi seni bertajuk “Survival Kit” karya dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Adri Yandi, bersama timnya. Karya berbahan bambu ini ditampilkan dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13 dengan mengambil inspirasi dari Rangkiang, bangunan tradisional Minangkabau yang identik dengan tempat penyimpanan hasil panen.
Instalasi tersebut ditempatkan di dua titik di lingkungan kampus ISI Padangpanjang, yaitu di sisi lapangan bola dan di sekitar Gedung Program Studi Karawitan. Melalui karya ini, Adri berupaya mengajak masyarakat melihat kembali peran dan filosofi Rangkiang dalam menghadapi perubahan lingkungan serta dinamika kehidupan sosial saat ini.
Menurut Adri, Rangkiang tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan persediaan pangan. Lebih dari itu, bangunan tradisional tersebut mencerminkan kemampuan masyarakat Minangkabau dalam membangun ketahanan, menjaga keharmonisan sosial, serta mewujudkan kemandirian ekonomi dalam lingkup keluarga maupun kaum.
Ia menjelaskan bahwa konsep ketahanan yang terkandung dalam Rangkiang memiliki cakupan luas. Nilainya tidak terbatas pada kesiapan menghadapi kekurangan pangan atau situasi darurat, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat mempertahankan kehidupan sosial dan memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Pada masa lalu, keberadaan Rangkiang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam dan kehidupan masyarakat. Bentuk bangunan serta fungsinya mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dan sumber daya alam. Selain menunjang kebutuhan keluarga, nilai yang terkandung di dalamnya juga berkaitan dengan kepedulian terhadap orang lain, termasuk mereka yang datang dari luar lingkungan masyarakat setempat.
Namun, hubungan tersebut kini menghadapi berbagai persoalan. Kerusakan lingkungan dan kebakaran menjadi ancaman terhadap keberlangsungan sumber daya alam yang selama ini menopang kehidupan masyarakat, termasuk bahan-bahan alami yang digunakan dalam pembangunan tradisional.
Kondisi itu mendorong Adri mempertanyakan keberlanjutan Rangkiang di masa mendatang. Ia mengkhawatirkan bangunan yang dahulu memiliki fungsi nyata dalam kehidupan masyarakat tersebut hanya akan tersisa sebagai cerita masa lalu, kenangan, atau dongeng pengantar tidur bagi generasi berikutnya.
Bagi Adri, kemungkinan tersebut menjadi peringatan bahwa hilangnya sebuah tradisi bukan hanya persoalan perubahan bentuk bangunan, melainkan juga dapat menunjukkan melemahnya upaya masyarakat dalam merawat warisan budaya.
Kegelisahan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam instalasi “Survival Kit” melalui pemilihan bentuk, material, dan penataan ruang yang mengandung makna simbolis.
Di dekat Gedung Program Studi Karawitan, instalasi ini menghadirkan sebuah lorong yang mengarah pada bentuk Rangkiang di bagian ujung. Lorong tersebut menggambarkan perjalanan untuk menelusuri kembali sejarah, fungsi, serta nilai-nilai yang melekat pada bangunan tradisional Minangkabau itu.
Bentuk lorong yang semakin menyempit menyiratkan kekhawatiran terhadap masa depan Rangkiang. Sementara itu, instalasi lain di sisi lapangan bola menampilkan struktur menyerupai Rangkiang yang menjulang dengan susunan tidak beraturan. Bentuk ini menjadi simbol tentang tradisi yang semakin sulit dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Adri menilai, pemahaman terhadap Rangkiang perlu terus diperbarui, termasuk dalam hal fungsi dan teknik pembuatannya. Perubahan pola pikir masyarakat serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi cara tradisi tersebut diwujudkan, sehingga bentuknya pun berpotensi mengalami perubahan.
Alumni Komunitas Seni Kuflet itu juga menegaskan bahwa Rangkiang merupakan salah satu representasi identitas masyarakat Minangkabau yang memperlihatkan keterkaitan erat antara manusia dan alam. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, proses penciptaan karya serta upaya mempertahankan tradisi ikut menghadapi tantangan.
Dalam pengerjaannya, bambu disusun dan diikat hingga membentuk struktur menyerupai rumah. Susunan tersebut menjadi metafora atas pembangunan yang berlangsung tanpa kendali memadai dan berpotensi memengaruhi keberadaan ruang publik.
Makna lain disampaikan melalui elemen potongan bambu berukuran pendek yang ditaburi abu. Unsur tersebut menggambarkan kemungkinan hilangnya bambu dan berbagai material alam akibat kebakaran maupun kerusakan lingkungan. Berkurangnya sumber daya tersebut tidak hanya berdampak pada ketersediaan bahan, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan kehidupan yang bergantung pada alam.
Bambu dipilih sebagai bahan utama karena tanaman ini banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Selain relatif mudah didapatkan dan diolah, bambu juga kerap ditanam di kawasan rawan longsor untuk membantu menjaga kestabilan tanah. Karakteristik tersebut dinilai sejalan dengan pesan ketahanan yang ingin disampaikan melalui instalasi ini.
Pengerjaan “Survival Kit” membutuhkan waktu sekitar satu bulan, terhitung sejak penyusunan gagasan hingga penyelesaian karya. Adapun pembangunan fisik instalasi berlangsung kurang lebih 10 hari.
Proses tersebut melibatkan mahasiswa ISI Padangpanjang dari berbagai program studi, sejumlah dosen, serta dukungan dari pihak lembaga. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan gagasan Adri ke dalam bentuk karya seni yang dapat dinikmati sekaligus direnungkan oleh pengunjung festival.
Adri berharap kegiatan kesenian memperoleh dukungan yang berkelanjutan agar seniman memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan ide, bereksperimen, dan menghadirkan karya yang relevan dengan persoalan masyarakat.
Ia juga mengajak pengunjung agar tidak hanya menikmati tampilan visual instalasi, tetapi turut menggali pesan dan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaannya. Melalui “Survival Kit”, Adri ingin membuka ruang refleksi mengenai pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam sekaligus merawat nilai-nilai budaya Minangkabau agar tetap bermakna bagi generasi mendatang.(da*)


