Notification

×

Iklan

UNP Latih Ibu Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin

Rabu, 09 September 2026 | 15:46 WIB Last Updated 2026-09-09T09:13:09Z

Foto bersama

Padang, Rakyatterkini.com — Dosen Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan sampah rumah tangga.

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Ibu melalui Edukasi dan Pendampingan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Bernilai Ekonomi untuk Mendukung SDGs” tersebut berlangsung Sabtu (5/9/2026) di Perumahan Pondok Indah Permai, Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang. Sasaran kegiatan adalah anggota Kelompok Dasawisma Matoa.

Program ini dipimpin Fatma Wati, M.Pd., selaku ketua tim, bersama anggota Ade Sazaliana, M.Pd., Azza Nuzullah Putri, Firda AzZahra, Dr. Tuti Lestari, dan Dra. Yurnetti.

Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian berupaya meningkatkan pemahaman sekaligus kemampuan para peserta dalam mengelola sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga. Sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki peluang ekonomi.

Materi diberikan dengan metode edukasi yang dipadukan dengan praktik secara langsung. Salah satu praktik yang dilakukan peserta adalah mengolah minyak jelantah menjadi lilin.

Minyak bekas memasak selama ini kerap dibuang tanpa pengolahan sehingga berpotensi menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada teknik sederhana untuk mengubah minyak jelantah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.

Tim PkM terlebih dahulu menjelaskan berbagai bahan dan peralatan yang diperlukan. Setelah itu, peserta didampingi untuk mengikuti setiap proses pembuatan lilin, mulai dari tahap pengolahan bahan hingga menghasilkan produk jadi.

Dengan pola pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga memiliki keterampilan yang bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah.

Ketua tim PkM Fatma Wati, M.Pd., menegaskan bahwa upaya mengurangi persoalan sampah sebaiknya diawali dari lingkungan keluarga.

Menurutnya, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap limbah rumah tangga karena sebagian di antaranya masih dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk baru.

“Kami ingin mengajak masyarakat melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Tidak semua limbah harus langsung dibuang. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, limbah rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mendapat respons baik dari anggota Dasawisma Matoa. Ketua Kelompok Dasawisma Matoa, Zuriyati, menilai pelatihan memberikan tambahan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis bagi para anggota.

Ia menyebut pengolahan minyak jelantah menjadi lilin menjadi salah satu materi yang menarik karena dapat menjadi alternatif pemanfaatan limbah rumah tangga.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena para anggota mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pengolahan limbah rumah tangga, salah satunya minyak jelantah yang dapat diolah menjadi lilin. Kami berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” katanya.

Dari kegiatan tersebut, anggota Dasawisma Matoa diharapkan mampu mengolah limbah rumah tangga secara lebih bijak, khususnya memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk yang berguna. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat diterapkan secara mandiri sehingga terbentuk kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab di tingkat keluarga.

Program ini sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi Departemen Pendidikan IPA UNP dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan.

Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna dinilai dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun pola pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, tim pengabdian berharap program tersebut dapat dilanjutkan melalui pendampingan secara berkala serta pengembangan berbagai metode baru dalam mengolah limbah rumah tangga. Dengan demikian, komunitas ibu diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang menggunakan hasil pengolahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak terciptanya lingkungan yang lebih bersih sekaligus membuka peluang ekonomi dari pengelolaan sampah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update