Padang, Rakyatterkini.com — Semen Padang FC menghadapi situasi berbeda pada musim kompetisi kali ini. Klub berjuluk Kabau Sirah itu harus meninggalkan Kota Padang dan menggunakan Stadion Patriot, Bekasi, sebagai kandang sementara.
Perpindahan tersebut dilakukan karena Stadion GOR Haji Agus Salim tengah menjalani renovasi. Sementara itu, Sumatera Barat belum mempunyai stadion alternatif yang dinilai memenuhi seluruh persyaratan regulasi PT Liga Indonesia.
Bermarkas di wilayah Jabodetabek menjadi pilihan yang dianggap cukup masuk akal dari sisi operasional. Lokasi tersebut relatif mudah dijangkau melalui transportasi udara dan juga memudahkan tim-tim lawan untuk datang bertanding.
Meski demikian, keputusan itu tetap menjadi perhatian bagi pendukung Semen Padang FC. Kekhawatiran muncul karena status sebagai tim musafir berpotensi mengurangi atmosfer dukungan langsung dari suporter di stadion.
Jurnalis olahraga senior Sumatera Barat, Rakhmatul Akbar, membahas persoalan tersebut dalam siniar Buka Kata. Menurutnya, loyalitas dan jumlah pendukung Semen Padang FC tidak semestinya diremehkan.
Ia menilai Kabau Sirah memiliki basis penonton yang cukup besar berdasarkan catatan pertandingan pada musim-musim sebelumnya.
“Secara data, jumlah penonton Semen Padang termasuk yang terbesar. Pernah mencapai sekitar lima ribu penonton dalam satu pertandingan berdasarkan data liga. Angka itu bahkan mengungguli sejumlah klub yang dikenal memiliki suporter fanatik seperti PSM Makassar, Persita Tangerang, dan Arema,” kata Rakhmatul Akbar.
Menurutnya, perpindahan kandang bukan berarti dukungan terhadap Semen Padang akan otomatis hilang. Ia meyakini para suporter tetap akan berusaha hadir, termasuk mereka yang tinggal di perantauan.
“Suporter akan mencari timnya di mana pun bermain. Orang Minang juga tersebar di berbagai daerah. Tantangannya sekarang adalah bagaimana manajemen mampu menggerakkan perantauan sehingga pertandingan Semen Padang di Bekasi bisa menjadi daya tarik. Apakah mereka bersedia meluangkan waktu berjam-jam untuk datang dan kembali dari stadion?” ujarnya.
Komunikasi dengan Media Ikut Berubah
Status sebagai tim musafir juga membawa perubahan dalam hubungan antara klub dan media lokal. Jika sebelumnya jurnalis di Padang dapat berkomunikasi langsung dengan manajemen maupun pemain, kini akses tersebut menjadi lebih terbatas karena jarak.
Informasi mengenai kondisi teknis tim dan perkembangan internal klub lebih banyak diperoleh melalui media sosial. Kondisi tersebut membuat wartawan lokal harus bekerja lebih aktif untuk mendapatkan informasi secara langsung.
Rakhmatul Akbar menilai keadaan tersebut justru dapat menjadi tantangan bagi para jurnalis olahraga di Padang untuk meningkatkan kemampuan peliputan.
“Ini menjadi tantangan bagi teman-teman pers di Padang. Mereka harus bisa masuk lebih jauh untuk mendapatkan informasi tentang Semen Padang FC. Jangan hanya menunggu informasi diberikan. Hubungi pemain secara langsung dan bangun komunikasi,” katanya.
Ia mengingatkan agar keterbatasan akses tidak membuat pemberitaan bersumber dari informasi yang tidak terverifikasi.
“Kalau sebelumnya informasi datang, sekarang wartawan harus lebih proaktif. Jangan sampai pemberitaan justru dibangun dari informasi yang belum jelas karena bisa merugikan citra tim,” lanjutnya.
Waspadai Skuad Terlalu Gemuk
Selain persoalan kandang dan komunikasi, Rakhmatul Akbar juga memberikan perhatian terhadap komposisi skuad Semen Padang FC. Klub tersebut melakukan aktivitas transfer cukup besar dan disebut memiliki sekitar 35 pemain, termasuk sejumlah pemain dengan reputasi tinggi.
Menurutnya, jumlah pemain yang banyak memang memberikan banyak pilihan kepada pelatih. Namun, kondisi itu juga dapat menjadi persoalan apabila tidak dikelola secara tepat.
Ia meminta jajaran pelatih melakukan evaluasi secara objektif terhadap setiap pemain, bukan hanya mempertimbangkan reputasi atau nama besar.
“Jangan karena memiliki banyak dana kemudian belanja pemain tanpa perhitungan. Pimpinan harus mendapat masukan yang rasional. Dari 35 pemain yang ada, staf pelatih harus melihat kemampuan nyata setiap pemain, termasuk apakah mereka bisa menjalankan lebih dari satu posisi. Jangan hanya melihat nama besar masa lalu,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahaya rasa percaya diri berlebihan di dalam tim. Banyaknya pemain berkualitas justru harus diikuti dengan kemampuan membangun kekompakan agar tidak menimbulkan ego individu.
Berdasarkan sejumlah evaluasi pertandingan uji coba, variasi serangan dari sektor sayap Semen Padang juga dinilai masih perlu dikembangkan. Pola serangan yang terlalu mudah ditebak dapat membuat lawan lebih gampang mengantisipasinya.
“Jangan terlalu percaya diri. Overconfidence bisa mengganggu fondasi tim. Kalau setiap pemain merasa dirinya paling hebat dan paling benar, nantinya akan muncul kecenderungan saling menyalahkan ketika terjadi kesalahan. Sepak bola adalah permainan tim, sehingga semua pemain harus menjadi satu kesatuan,” tegasnya.
Musim sebagai tim musafir tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Semen Padang FC. Selain membutuhkan strategi permainan yang matang, klub juga dituntut mampu mengelola perjalanan dan kebutuhan operasional dengan baik.
Dukungan suporter, kekompakan pemain, kecermatan pelatih dalam meramu skuad, serta kesiapan manajemen akan menjadi faktor penting bagi Kabau Sirah dalam melewati musim kompetisi dari kandang sementara di Bekasi.(da*)

