Notification

×

Iklan

Saluang Pauh Berpadu Musik Tekno

Rabu, 30 September 2026 | 18:54 WIB Last Updated 2026-09-30T11:54:00Z

Dimas bersama empat rekannya dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 

Padang, Rakyatterkini.com – Musik tradisional Minangkabau terus menemukan cara baru untuk hadir di tengah perkembangan zaman. Hal itu terlihat dari karya komposer muda asal Kota Padang, Dimas Hidayatullah, yang mengolah Saluang Pauh ke dalam konsep musik elektronik tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.

Eksplorasi tersebut ditampilkan Dimas bersama empat musisi lainnya dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat, Saraso Fest 2026. Pertunjukan berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (29/9/2026) malam, dan mendapat perhatian dari para pengunjung.

Dalam karya berjudul Pauh in Resonance, Dimas menjadikan repertoar Saluang Pauh aliran Pado-Pado dari Kecamatan Kuranji, Kota Padang, sebagai dasar komposisi. Saluang Pauh sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Minangkabau yang memiliki karakter suara khas dan melodi yang lembut.

Pertunjukan diawali dengan bunyi asli tiupan Saluang Pauh. Setelah itu, motif Pado-Pado dikembangkan secara perlahan hingga muncul perpaduan dengan suara dari instrumen elektronik.

Perpaduan tersebut menghadirkan warna musik yang berbeda. Nuansa tradisional Saluang Pauh tetap terdengar, tetapi kemudian berpadu dengan atmosfer musik tekno yang lebih modern.

Dimas mengatakan, pendekatan elektronik yang digunakan tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas Saluang Pauh. Ia tetap mempertahankan motif tradisional sebagai fondasi, sementara teknologi digunakan untuk memperluas karakter suara melalui sejumlah efek digital.

“Tidak ada yang diubah, hanya motifnya yang dikembangkan, yaitu Saluang Pauh Pado-Pado dari Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Saya kombinasikan dengan musik tekno,” ujar Dimas.

Konsep World Electronic Music yang diusung dalam Pauh in Resonance membuat proses penggarapan membutuhkan eksplorasi suara secara mendalam. Dimas memanfaatkan teknik seperti sampling, looping, delay, reverb, dan filtering untuk menggabungkan karakter suara Saluang Pauh dengan elemen musik digital.

Melalui pendekatan tersebut, motif Pado-Pado tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari repertoar tradisional, tetapi dikembangkan menjadi bentuk musikal baru. Tradisi Minangkabau dan teknologi musik modern pun dipertemukan dalam satu komposisi.

Dimas mengungkapkan, proses pembuatan karya tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Kendala utama yang dihadapinya adalah membagi waktu antara proses kreatif dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).

“Saya menyusun ini dua bulanan kurang lebih. Kesulitan hanya waktu, karena saya punya kesibukan lain,” katanya.

Karya Pauh in Resonance menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk penyajian. Saluang Pauh Kuranji tetap menjadi sumber utama karya, sementara teknologi memberikan ruang baru untuk memperkenalkan karakter musik tersebut kepada pendengar masa kini.

Eksplorasi yang dilakukan Dimas sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk penyajian lama. Tradisi juga dapat dirawat melalui kreativitas dan inovasi, selama identitas serta akar budayanya tetap dijaga.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update