Padang, Rakyatterkini.com — Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang kembali menggelar kegiatan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai persoalan nyeri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Pain Awareness Month atau Bulan Kesadaran Nyeri.
Mengangkat tema “Mengenal & Mengatasi Nyeri Punggung Bawah”, edukasi kesehatan ini dilaksanakan di Poliklinik Neuro RS Dr. M. Djamil pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut diinisiasi Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi.
Dokter spesialis neurologi, dr. dr. Restu Susanti, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa nyeri punggung bawah tidak semestinya dianggap sebagai keluhan biasa karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari hingga menurunkan kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan tepat.
Menurut Restu, Low Back Pain (LBP) merupakan keluhan berupa rasa sakit, pegal, atau ketidaknyamanan yang dirasakan pada bagian pinggang, mulai dari bawah tulang rusuk hingga area lipatan bokong. Pada kondisi tertentu, rasa sakit juga dapat menyebar ke tungkai bahkan sampai telapak kaki.
“Nyeri punggung bawah bukan satu jenis penyakit, tetapi merupakan gejala yang dapat muncul akibat berbagai kondisi. Penyebabnya dapat berasal dari otot, ligamen, persendian tulang belakang, diskus atau bantalan tulang belakang, maupun saraf,” jelasnya.
Ia menambahkan, mengetahui lokasi serta karakter nyeri secara tepat menjadi bagian penting dalam menentukan penanganan. Sebab, keluhan pada punggung, pinggang bagian bawah, maupun pinggul dapat memiliki sumber yang berbeda.
Sejumlah faktor dapat memicu munculnya LBP, antara lain aktivitas fisik yang terlalu berat, posisi atau postur tubuh yang kurang tepat, kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat, hingga penyakit tertentu yang menyertai.
Dalam penanganannya, dokter juga akan mempertimbangkan lama berlangsungnya keluhan. Nyeri akut biasanya terjadi dalam waktu relatif singkat dan dapat berkaitan dengan cedera atau kondisi tertentu. Sementara itu, nyeri kronis berlangsung lebih lama sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang lebih menyeluruh.
Restu menjelaskan bahwa pengalaman seseorang dalam merasakan nyeri tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Faktor psikologis dan lingkungan sosial juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengalami serta merespons rasa sakit.
Karena itu, pendekatan biopsikososial menjadi salah satu konsep yang digunakan dalam penanganan nyeri. Pendekatan tersebut mempertimbangkan kondisi biologis tubuh, aspek psikologis seperti stres, kecemasan dan suasana hati, serta faktor sosial, termasuk dukungan keluarga dan lingkungan pekerjaan.
“Karena penyebab dan pengalaman nyeri bisa dipengaruhi banyak faktor, pasien perlu dilihat secara menyeluruh. Penanganan tidak hanya berfokus pada sumber nyeri, tetapi juga mempertimbangkan kondisi psikologis, aktivitas harian, pekerjaan, dan dukungan lingkungan,” ujarnya.
Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diingatkan agar tidak terburu-buru melakukan pengobatan sendiri atau membuat diagnosis tanpa pemeriksaan medis. Keluhan nyeri punggung tidak selalu dapat dianggap sebagai pegal atau kecapekan biasa.
Menurut Restu, dokter akan melakukan penilaian berdasarkan riwayat keluhan, lokasi dan karakteristik rasa sakit, aktivitas yang dapat memperburuk nyeri, serta hasil pemeriksaan fisik.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan penunjang seperti rontgen maupun MRI tidak selalu diperlukan bagi setiap pasien yang mengalami nyeri punggung bawah. Pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan kondisi dan indikasi medis masing-masing pasien.
Begitu pula penggunaan obat pereda nyeri sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter. Selain terapi medis, pasien juga perlu melakukan perubahan gaya hidup, menjaga kebugaran tubuh, serta menghindari aktivitas atau kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi.
Masyarakat juga diminta mengenali tanda-tanda bahaya yang menyertai nyeri punggung bawah. Salah satunya adalah munculnya gangguan neurologis seperti kelemahan pada anggota gerak yang membutuhkan evaluasi medis segera.
Pada akhir pemaparannya, Restu menekankan bahwa proses pemulihan pasien tidak hanya bergantung pada dokter dan pasien. Dukungan keluarga maupun lingkungan kerja turut berperan dalam membantu penderita menjalani proses pemulihan.
“Penanganan nyeri bukan hanya menjadi tanggung jawab pasien dan dokter. Keluarga dan lingkungan kerja juga bisa memberikan dukungan agar pasien dapat menjalani pemulihan sekaligus tetap beraktivitas dengan aman,” katanya.
Melalui kegiatan promosi kesehatan tersebut, RS Dr. M. Djamil berharap masyarakat semakin memahami cara menyikapi nyeri secara tepat. Masyarakat juga diimbau untuk tidak menunda konsultasi ke fasilitas kesehatan ketika mengalami keluhan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.(da*)


