Notification

×

Iklan

Produksi Bawang Merah Tekan Inflasi Sumbar

Sabtu, 05 September 2026 | 11:22 WIB Last Updated 2026-09-05T04:22:00Z

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, menyampaikan

Solok, Rakyatterkini.com — Laju inflasi tahunan di Sumatera Barat kembali mengalami perlambatan pada Agustus 2026. Salah satu faktor yang membantu menjaga kestabilan harga adalah ketersediaan pasokan pangan, terutama bawang merah yang produksinya tetap terjaga di sejumlah daerah sentra, termasuk Kabupaten Solok.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumatera Barat secara tahunan pada Agustus 2026 berada di angka 3,76 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Juli yang mencapai 4,12 persen dan Juni sebesar 4,70 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram, menyampaikan bahwa ketersediaan komoditas pangan turut membantu menekan tekanan inflasi. Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Meski inflasi tahunan menurun, pergerakan harga secara bulanan justru meningkat. Pada Agustus 2026, inflasi tercatat 0,18 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm), naik dari 0,07 persen pada Juli. Sementara secara kumulatif sejak awal tahun hingga Agustus, inflasi mencapai 1,23 persen.

Majid menjelaskan, peningkatan produksi bawang merah selama 2026 memberikan pengaruh terhadap stabilitas harga. Komoditas tersebut bahkan mencatatkan andil deflasi sebesar 0,40 persen secara tahunan.

Selain bawang merah, perlambatan inflasi tahunan juga dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah yang mulai mereda. Sejumlah komoditas lainnya, seperti telur ayam ras, jengkol, buncis, dan petai, juga mengalami penurunan harga.

Namun demikian, tekanan harga masih datang dari beberapa komoditas. Kenaikan harga emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan bensin membuat penurunan inflasi tidak semakin dalam.

Untuk inflasi bulanan Agustus, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber utama kenaikan harga. Kelompok ini mengalami inflasi 0,33 persen dengan kontribusi 0,12 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi sebesar 0,94 persen dengan andil 0,05 persen. Sementara kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,67 persen dengan kontribusi 0,04 persen.

Sebaliknya, kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,59 persen dan memberikan andil negatif 0,06 persen. Kondisi tersebut membantu menahan agar inflasi bulanan tidak meningkat lebih tinggi.

Kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, ikan tongkol, serta beras menjadi pendorong utama inflasi pada Agustus. Daging ayam ras memberikan kontribusi terbesar, yakni 0,23 persen.

Peningkatan harga daging ayam ras antara lain dipengaruhi tingginya permintaan di Kabupaten Dharmasraya saat momentum Maulid Nabi dan rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya biaya pakan ternak.

Cabai rawit memberikan andil inflasi 0,05 persen, sama seperti emas perhiasan. Ikan tongkol menyumbang 0,03 persen, sedangkan beras memberikan andil 0,02 persen.

Kenaikan harga emas perhiasan mengikuti tren penguatan harga emas dunia. Sementara itu, harga cabai rawit di Dharmasraya terdorong naik karena pasokan dari sejumlah daerah pemasok menurun akibat gagal panen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu meredam inflasi. Komoditas tersebut antara lain cabai merah, jengkol, angkutan udara, tomat, dan bawang merah.

Penurunan harga cabai merah dan bawang merah didukung oleh meningkatnya hasil produksi karena sejumlah sentra pertanian di Sumatera Barat memasuki masa panen. Kabupaten Solok menjadi salah satu daerah yang berperan dalam menjaga pasokan kedua komoditas tersebut.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, seluruh kabupaten dan kota yang menjadi daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat mengalami inflasi pada Agustus 2026.

Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 0,46 persen. Berikutnya Kota Bukittinggi sebesar 0,20 persen, Kabupaten Dharmasraya 0,11 persen, dan Kota Padang 0,10 persen.

Untuk inflasi tahunan, Kabupaten Dharmasraya mencatat angka tertinggi, yakni 4,34 persen. Posisi berikutnya ditempati Pasaman Barat sebesar 4,11 persen, Kota Bukittinggi 3,78 persen, dan Kota Padang 3,55 persen.

BI Sumbar, kata Majid, akan terus memperkuat koordinasi dan langkah pengendalian inflasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pengamanan pasokan pangan, peningkatan kelancaran distribusi, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, serta optimalisasi kerja sama antar daerah.

Selain itu, pengembangan urban farming dan penguatan peran kelompok tani champion untuk komoditas cabai dan bawang juga akan terus didorong.

Ke depan, inflasi Sumatera Barat diperkirakan masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diantisipasi, antara lain perkembangan harga pangan dan energi global, kondisi cuaca, distribusi barang, disparitas harga antarwilayah, serta perubahan nilai tukar rupiah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update