Notification

×

Iklan

Padayo Disiapkan Jadi Sentra Maggot BSF

Kamis, 17 September 2026 | 21:48 WIB Last Updated 2026-09-17T14:48:00Z

Pemkab Agam Dukung Rencana BNN Bangun ULT P4GN

Padang, Rakyatterkini.com – Upaya mengatasi persoalan sampah organik sekaligus menekan ketergantungan terhadap pakan ternak berharga tinggi mulai dikembangkan di Kawasan Padayo, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang.

Kawasan tersebut kini diproyeksikan menjadi lokasi percontohan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Tahap awal pengembangan dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik yang berlangsung pada Selasa (15/9/2026).

Program ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak terhadap lingkungan melalui pengurangan sampah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru. Hal itu dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat Padayo yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, peternak, serta pembudidaya ikan.

Pakar biologi sekaligus Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Dr. Resti Rahayu, menjelaskan bahwa budidaya maggot BSF memiliki prospek ekonomi melalui sejumlah produk yang dihasilkan.

Menurutnya, selain larva, telur maggot juga dapat diperjualbelikan dan memiliki nilai ekonomi. Harga telur maggot disebut berada di kisaran Rp5.000 per gram. Jika mencapai satu kilogram, nilai jualnya secara hitungan dapat mencapai sekitar Rp5 juta.

“Jadi, budidaya maggot tidak hanya menghasilkan larva, tetapi juga memiliki peluang ekonomi dari produk turunannya,” jelas Resti.

Manfaat budidaya maggot juga dapat dirasakan setelah proses penguraian sampah organik. Sisa hasil penguraian yang disebut kasgot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik untuk pertanian.

Resti menyebut penggunaan kasgot berpotensi membantu petani mengurangi biaya produksi sekaligus mendukung pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ia bahkan membayangkan adanya rumah maggot di Padayo yang terintegrasi dengan usaha perikanan dan peternakan itik milik warga.

“Jika program ini berjalan dengan baik, rumah maggot dapat dikembangkan sehingga menghasilkan berbagai produk turunan lainnya,” katanya.

Pengalaman pemanfaatan kasgot sebelumnya juga disampaikan Ketua Asosiasi Maggot Kota Padang (Agodang), Andi Ilham. Ia mengatakan kasgot telah digunakan pada lahan persawahan di kawasan Ngalau, Kelurahan Batu Gadang.

Menurut Andi, penggunaan kasgot memberikan hasil yang cukup signifikan. Produksi padi di lahan tersebut disebut meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan saat hanya menggunakan pupuk kimia.

“Kasgot bukan sekadar limbah dari budidaya maggot. Bahan ini juga bisa memberikan manfaat langsung bagi sektor pertanian. Jika diterapkan di Padayo, anggota KWT dan para petani bisa memproduksi pupuk organik secara mandiri,” ujarnya saat memberikan penjelasan kepada anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Andi menambahkan, Agodang saat ini mendapat target dari Pemerintah Kota Padang untuk membantu mengolah sekitar 10 persen sampah basah yang selama ini berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Untuk mencapai target tersebut, Agodang mulai memperluas kerja sama dengan berbagai sektor, termasuk hotel, restoran, dan rumah sakit. Sampah organik dari lokasi tersebut terlebih dahulu dipilah sebelum dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot.

Bagi masyarakat Padayo, pengenalan budidaya BSF memberikan pengetahuan baru. Tokoh masyarakat setempat, Majik, mengungkapkan bahwa sebelumnya warga belum banyak memahami potensi maggot.

“Setelah mendapatkan penjelasan dari para pemateri, kami mengetahui bahwa maggot memiliki banyak manfaat dan bisa dikembangkan menjadi usaha. Budidaya ini sangat cocok diterapkan di Padayo karena mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, peternak, dan pembudidaya ikan,” tuturnya.

Majik berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas sosialisasi. Ia mendorong agar budidaya maggot segera direalisasikan di Padayo sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat secara langsung.

“Kami berharap program ini segera dikembangkan. Peternak dan pembudidaya ikan bisa mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang mahal. Selain itu, masyarakat juga bisa mendapatkan pupuk organik sekaligus membantu mengurangi timbulan sampah,” katanya.

Dukungan terhadap rencana tersebut turut disampaikan Lurah Indarung, Suharman Mizani atau Zani. Ia menilai budidaya maggot memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena karakteristik masyarakat Padayo yang banyak bergerak di sektor pertanian dan peternakan.

“Maggot bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kasgot dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman. Jadi, ada keterkaitan yang saling menguntungkan antara pengelolaan sampah dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Zani juga mengapresiasi PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan pengenalan budidaya maggot kepada masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya memberikan pemahaman baru kepada warga, tetapi juga membuka kesempatan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Padayo.

Pengembangan Padayo sebagai kawasan yang menerapkan konsep ekonomi sirkular tersebut mendapat dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Semen Padang.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung pembangunan fasilitas budidaya sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

“Sentra budidaya ini diarahkan untuk membangun rantai ekonomi sirkular. Sampah organik yang sebelumnya menjadi masalah dapat diolah menjadi pakan maggot. Kemudian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak, sedangkan kasgotnya bisa diolah menjadi pupuk organik,” jelasnya.

Hernes menyebut konsep tersebut relevan dengan kondisi masyarakat Padayo yang mayoritas bekerja sebagai peternak dan peladang. Karena itu, edukasi mengenai maggot menjadi bagian penting agar warga memahami manfaat sekaligus peluang ekonomi yang tersedia.

Ia menilai keberhasilan program CSR sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat.

“Pengetahuan dan pemahaman warga menjadi modal utama agar program ini bisa berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang,” katanya.

Hernes juga menyampaikan apresiasi kepada akademisi yang turut mendampingi pelaksanaan program tersebut, khususnya Dr. Resti Rahayu yang selama ini terlibat dalam pengembangan budidaya maggot bersama PT Semen Padang.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan pengembangan BSF di Padayo merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui program yang melibatkan berbagai pihak.

“Program ini diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjawab kebutuhan masyarakat dengan tetap mengedepankan keterlibatan para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Win menambahkan, persoalan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi membutuhkan kerja sama lintas sektor. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha diperlukan agar program yang dijalankan dapat memberikan manfaat secara luas serta berkelanjutan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update