Notification

×

Iklan

Padayo Disiapkan Jadi Sentra Maggot BSF

Kamis, 17 September 2026 | 22:24 WIB Last Updated 2026-09-17T15:24:00Z

Sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik

Padang, Rakyatterkini.com – Kawasan Padayo, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, tengah diarahkan menjadi kawasan percontohan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Program tersebut diharapkan mampu menjawab persoalan sampah organik sekaligus membantu masyarakat memperoleh alternatif pakan ternak dan ikan yang lebih terjangkau.

Tahap awal pengembangan program dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik yang berlangsung pada Selasa (15/9/2026).

Program ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga Padayo. Pasalnya, sebagian besar masyarakat setempat beraktivitas sebagai petani, peternak, maupun pembudidaya ikan.

Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Dr. Resti Rahayu, menjelaskan bahwa budidaya maggot BSF memiliki sejumlah produk turunan yang bernilai ekonomi.

Menurutnya, selain larva, telur maggot juga dapat menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Harga telur maggot disebut dapat mencapai sekitar Rp5.000 per gram. Dengan jumlah satu kilogram, nilai ekonominya bisa mencapai sekitar Rp5 juta.

"Selain larva segar, telur maggot juga memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Ini menunjukkan bahwa budidaya maggot juga memiliki peluang ekonomi," ujar Resti.

Produk lain yang dihasilkan dari budidaya maggot adalah kasgot, yakni sisa hasil penguraian sampah organik oleh larva. Material tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian.

Resti menyebut penggunaan pupuk organik tidak hanya berpotensi menekan biaya produksi pertanian, tetapi juga mendukung pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.

Ia pun memiliki rencana agar ke depan Padayo dapat memiliki rumah maggot yang terintegrasi dengan usaha perikanan dan peternakan itik milik warga.

"Apabila program dapat berjalan dengan baik, rumah maggot tersebut dapat dikembangkan untuk menghasilkan lebih banyak produk turunan," katanya.

Manfaat kasgot untuk pertanian juga disampaikan Ketua Asosiasi Maggot Kota Padang (Agodang), Andi Ilham. Ia mencontohkan pemanfaatan kasgot pada lahan sawah di kawasan Ngalau, Kelurahan Batu Gadang.

Andi mengatakan, penggunaan kasgot pada lahan tersebut mampu meningkatkan produksi padi hingga dua kali lipat dibandingkan ketika petani hanya mengandalkan pupuk kimia.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa hasil samping budidaya maggot dapat memberikan manfaat langsung bagi sektor pertanian. Jika dikembangkan di Padayo, Kelompok Wanita Tani (KWT) dan petani setempat berpeluang memproduksi pupuk organik secara mandiri.

Saat ini, Agodang juga mendapat target dari Pemerintah Kota Padang untuk mengolah sekitar 10 persen sampah basah yang selama ini berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Untuk mendukung target tersebut, Agodang mulai membangun kerja sama dengan berbagai sektor, termasuk hotel, restoran, dan rumah sakit. Sampah organik yang telah dipilah kemudian dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot.

Bagi warga Padayo, pengenalan budidaya BSF membuka pengetahuan baru mengenai pengelolaan sampah sekaligus peluang usaha.

Tokoh masyarakat Padayo, Majik, mengatakan sebelumnya masyarakat belum banyak memahami potensi budidaya maggot. Setelah mengikuti sosialisasi, warga mulai melihat peluang penerapannya di lingkungan mereka.

"Setelah mendapat penjelasan dari pemateri, kami menjadi tahu bahwa maggot memiliki banyak manfaat dan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha," ujarnya.

Ia menilai budidaya tersebut relevan dengan kondisi Padayo yang mayoritas warganya bekerja di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Majik berharap program tidak berhenti sebatas sosialisasi, tetapi dapat segera diwujudkan dalam bentuk budidaya yang nyata.

Ia mengatakan, keberadaan maggot dapat membantu peternak dan pembudidaya ikan mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial. Pada saat yang sama, kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sementara sampah organik di lingkungan bisa diolah menjadi sumber pakan maggot.

Dukungan terhadap rencana tersebut juga disampaikan Lurah Indarung, Suharman Mizani atau Zani. Ia melihat budidaya maggot dapat menghubungkan aspek pengelolaan lingkungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

"Potensi maggot ini sangat besar. Apalagi Padayo merupakan kawasan pertanian dan peternakan. Maggot dapat menjadi pakan ternak, sedangkan kasgotnya dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman," ujarnya.

Zani juga menyampaikan apresiasi kepada PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan sosialisasi kepada masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pengetahuan baru, tetapi juga berpotensi membuka kesempatan bagi warga untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan sampah organik.

Pengembangan Padayo sebagai kawasan yang menerapkan konsep ekonomi sirkular turut mendapat dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Semen Padang.

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, mengatakan perusahaan berkomitmen mendukung pembangunan fasilitas produksi sekaligus sarana edukasi budidaya maggot di kawasan tersebut.

"Pembangunan sentra budidaya itu diarahkan untuk menciptakan rantai ekonomi sirkular di tengah masyarakat. Sampah organik yang sebelumnya menjadi persoalan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan maggot," katanya.

Dalam skema tersebut, maggot nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan. Sementara kasgot yang dihasilkan dari proses budidaya digunakan sebagai pupuk organik bagi tanaman.

Hernes menilai konsep itu sesuai dengan karakteristik masyarakat Padayo yang banyak bekerja sebagai peternak dan peladang.

Karena itu, pihaknya memberikan edukasi agar masyarakat memahami teknik budidaya sekaligus melihat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari pengolahan sampah organik.

Ia menegaskan, keberhasilan program CSR tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas, tetapi juga oleh pemahaman dan keterlibatan masyarakat.

"Pemahaman masyarakat merupakan modal penting agar program budidaya maggot ini dapat berjalan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan," ujarnya.

Hernes juga mengapresiasi keterlibatan akademisi, khususnya Resti Rahayu, yang selama ini turut memberikan pendampingan dalam pengembangan program maggot tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan program budidaya BSF di Padayo merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk berkontribusi terhadap masyarakat melalui pendekatan yang melibatkan berbagai pihak.

"Program ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi dalam upaya bersama menjawab kebutuhan masyarakat, dengan tetap mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan," katanya.

Win menilai persoalan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah, masyarakat, akademisi, media, dan dunia usaha dinilai perlu berkolaborasi agar program yang dijalankan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update