Notification

×

Iklan

Padayo Disiapkan Jadi Sentra Maggot BSF

Kamis, 17 September 2026 | 14:33 WIB Last Updated 2026-09-17T07:33:00Z

Budidaya Maggot BSF Siap Dikembangkan di Padayo

Padang, Rakyatterkini.com — Kawasan Padayo, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, mulai diarahkan menjadi pusat pengembangan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Langkah awal pengembangan tersebut ditandai dengan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengolahan sampah organik.

Pengembangan budidaya maggot ini diharapkan mampu memberikan dua manfaat sekaligus. Selain menjadi alternatif dalam mengurangi sampah organik yang belum tertangani secara maksimal, program tersebut juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga Padayo.

Potensi itu dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat setempat yang banyak bergerak di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, sementara hasil samping budidayanya berupa kasgot bisa digunakan sebagai pupuk organik.

Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Resti Rahayu, mengatakan BSF mempunyai sejumlah keunggulan dan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, bukan hanya maggot yang memiliki nilai jual, tetapi telur BSF juga dapat menjadi komoditas yang menjanjikan.

“Telur maggot bisa dijual sekitar Rp5.000 per gram. Kalau dihitung dalam satu kilogram, nilainya bisa mencapai sekitar Rp5 juta. Ini memperlihatkan bahwa budidaya maggot mempunyai peluang ekonomi yang cukup besar,” jelasnya.

Sosialisasi tersebut turut dihadiri Lurah Indarung Suharman Mizani, Ketua Asosiasi Maggot Kota Padang (Agodang) Andi Ilham, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), serta sejumlah tokoh masyarakat.

Resti juga menjelaskan manfaat kasgot yang merupakan residu hasil penguraian sampah organik oleh larva BSF. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk mendukung sektor pertanian.

“Penggunaan pupuk organik dapat membantu mengurangi biaya usaha tani sekaligus mendukung pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Ia berharap nantinya Padayo memiliki rumah maggot yang pengelolaannya terhubung dengan usaha perikanan dan peternakan itik. Konsep tersebut dinilai dapat membentuk sistem usaha terpadu, dengan maggot digunakan sebagai pakan dan kasgot dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

“Jika program ini berjalan dengan baik, rumah maggot nantinya bisa dikembangkan sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk turunan,” ujarnya.

Ketua Agodang Andi Ilham turut membagikan pengalaman pemanfaatan kasgot pada lahan persawahan di kawasan Ngalau, Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan.

Ia menyebut penggunaan kasgot di lokasi tersebut berdampak terhadap hasil panen padi.

“Produksi padi meningkat sampai dua kali lipat dibandingkan saat hanya memakai pupuk kimia. Jadi, kasgot bukan sekadar sisa dari proses budidaya maggot, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi pertanian,” ungkapnya.

Andi menilai pengalaman tersebut dapat diterapkan di Padayo. Dengan demikian, kelompok wanita tani maupun petani dapat memproduksi pupuk organik sendiri untuk mendukung kegiatan pertanian mereka.

Ia juga menyampaikan bahwa Agodang mendapat target dari Pemerintah Kota Padang untuk membantu mengelola sekitar 10 persen sampah basah yang selama ini berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Dalam menjalankan target tersebut, Agodang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah hotel, restoran, dan rumah sakit di Kota Padang.

“Sampah basah yang sudah dipilah dikumpulkan dari berbagai lokasi tersebut untuk kemudian digunakan sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot,” katanya.

Tokoh masyarakat Padayo, Majik, mengatakan kegiatan sosialisasi memberikan pengetahuan baru bagi warga mengenai potensi budidaya BSF.

Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengetahui manfaat dan peluang usaha dari budidaya maggot.

“Setelah mendapat penjelasan dari para pemateri, kami memahami bahwa maggot memiliki banyak kegunaan dan bisa dikembangkan menjadi usaha. Program ini juga sangat cocok diterapkan di Padayo karena mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, peternak, dan pembudidaya ikan,” ujarnya.

Majik berharap rencana pengembangan budidaya maggot di Padayo dapat segera diwujudkan.

Menurutnya, keberadaan budidaya maggot bisa membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus menyediakan pupuk organik.

“Peternak dan pembudidaya ikan nantinya tidak harus sepenuhnya mengandalkan pakan komersial yang harganya relatif mahal. Masyarakat juga bisa mendapatkan pupuk organik dan ikut mengurangi sampah di lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Lurah Indarung Suharman Mizani mengapresiasi kegiatan yang ditujukan kepada masyarakat Padayo tersebut.

Ia menyampaikan terima kasih kepada PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan sosialisasi dan edukasi mengenai budidaya maggot.

“Kami mengapresiasi PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Sosialisasi tersebut tidak hanya menambah wawasan masyarakat, tetapi juga membuka peluang peningkatan taraf hidup warga Padayo,” ujar Suharman yang akrab disapa Zani.

Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan potensi tersebut secara optimal, mengingat karakteristik Padayo yang memiliki aktivitas pertanian dan peternakan.

“Potensi maggot sangat besar. Maggot bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kasgot dapat digunakan sebagai pupuk. Jadi, program ini dapat menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan ekonomi masyarakat secara saling menguntungkan,” katanya.

PT Semen Padang Siapkan Sentra Budidaya

Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, mengatakan perusahaan tengah menyiapkan rencana pembangunan sentra budidaya maggot di Padayo. Fasilitas tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk produksi, tetapi juga sebagai tempat edukasi bagi masyarakat.

Menurut Hernes, pengembangan sentra tersebut diarahkan untuk membangun konsep ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat.

“Sampah organik yang sebelumnya menjadi masalah dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Maggot kemudian bisa digunakan sebagai pakan ikan dan ternak, sedangkan kasgotnya dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” jelasnya.

Ia menilai konsep tersebut relevan dengan kondisi masyarakat Padayo yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari peternakan dan pertanian.

“Karena masyarakat Padayo banyak yang berprofesi sebagai peternak dan peladang, kami melakukan sosialisasi agar mereka memahami manfaat maggot sekaligus peluang ekonomi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Hernes menekankan bahwa pemahaman masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dr. Resti Rahayu yang telah memberikan edukasi kepada warga dan selama ini turut mendampingi pengembangan program maggot bersama PT Semen Padang.

“Pemahaman masyarakat menjadi modal penting agar program ini dapat berjalan dan manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” katanya.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menambahkan bahwa pengembangan budidaya BSF merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Program tersebut, kata dia, dirancang dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan serta melibatkan berbagai pihak.

“Program ini diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjawab kebutuhan masyarakat dengan tetap mendorong keterlibatan para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Win menegaskan bahwa persoalan pembangunan tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Karena itu, PT Semen Padang mendorong sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan media.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat program sekaligus menjaga agar pengembangan budidaya maggot di Padayo dapat berlangsung secara berkelanjutan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update