Notification

×

Iklan

Mahyeldi: Pemimpin Harus Berintegritas

Selasa, 01 September 2026 | 23:48 WIB Last Updated 2026-09-01T16:48:00Z

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah

Padang,  — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah menilai kepemimpinan nasional tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan, kompetensi, maupun kemampuan teknis. Menurutnya, kepemimpinan juga harus dibangun di atas nilai-nilai moral, integritas, akhlak, serta keteladanan.

Ia mengatakan, pemimpin yang memiliki landasan moral kuat akan berperan penting dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sekaligus menentukan arah pembangunan bangsa pada masa mendatang.

Hal itu disampaikan Mahyeldi ketika menjadi pembicara utama dalam Kuliah Umum bertema “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa”. Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peluncuran dan bedah buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa” di Institute SEBI, Depok, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).

Menurut Mahyeldi, seorang pemimpin mempunyai peran strategis karena setiap kebijakan dan keputusan yang dibuat dapat berdampak luas bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pemimpin tidak hanya harus memiliki kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga wajib menjadi contoh serta menggunakan kewenangannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pemimpin bukan hanya orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi juga orang yang mampu memberikan keteladanan dan memastikan setiap kewenangan yang dimiliki digunakan untuk kemaslahatan masyarakat,” ujar Mahyeldi.

Ia menekankan bahwa upaya menciptakan SDM unggul harus dibarengi dengan penguatan karakter. Kemampuan dan kompetensi yang tinggi, menurutnya, perlu disertai integritas, akhlak, rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial, serta kesadaran untuk mengabdikan ilmu bagi kepentingan masyarakat dan negara.

Dalam kesempatan itu, Mahyeldi juga mengapresiasi penerbitan buku “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa”. Buku tersebut memuat hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan kepemimpinan.

Mahyeldi menilai isi buku tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir seorang pemimpin. Kekuasaan seharusnya dipandang sebagai amanah dan instrumen untuk menegakkan keadilan serta menciptakan kemaslahatan.

“Kami melihat bahwa buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa adalah pengingat yang tegas sekaligus lembut, bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menegakkan keadilan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut keberhasilan pemimpin tidak dapat hanya dilihat dari berapa lama seseorang menduduki kekuasaan ataupun seberapa besar kewenangan yang dimilikinya. Ukuran yang lebih penting adalah manfaat yang berhasil diberikan kepada masyarakat selama menjalankan amanah kepemimpinan.

“Pemimpin sejati diukur bukan oleh lamanya berkuasa, tetapi oleh seberapa besar maslahat yang dihasilkannya,” tegas Mahyeldi.

Gubernur Sumbar itu juga mengingatkan bahwa kepemimpinan yang tidak lagi berpegang pada nilai-nilai moral akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, pemimpin yang menjadikan akhlak dan nilai-nilai Ilahiah sebagai pedoman akan memiliki dasar moral yang kuat dalam menjalankan kewenangan.

“Kekuasaan tanpa akhlak akan rapuh, dan kepemimpinan tanpa petunjuk Ilahi akan kehilangan arah,” lanjutnya.

Karena itu, menurut Mahyeldi, pembangunan SDM harus dilakukan secara menyeluruh dengan menggabungkan kemampuan, karakter, integritas, serta nilai-nilai keagamaan. Ia berharap forum tersebut dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai kepemimpinan nasional sekaligus mendorong lahirnya calon pemimpin masa depan yang kompeten, berintegritas, berakhlak, dan mengutamakan kepentingan bangsa.

“Pada akhirnya, kepemimpinan adalah amanah. Semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Kuliah umum tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update