Notification

×

Iklan

KKP Siapkan 40 Ribu Mini-RAS untuk Dorong Produktivitas Budi Daya Ikan

Kamis, 03 September 2026 | 04:21 WIB Last Updated 2026-09-02T21:21:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana mengembangkan sebanyak 40.000 unit mini Recirculating Aquaculture System (RAS) di berbagai wilayah Indonesia. Teknologi tersebut akan diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas budi daya ikan di ratusan desa yang memiliki potensi perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pemanfaatan mini-RAS merupakan bagian dari penguatan kerja sama Indonesia dan Australia dalam sektor perikanan. Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah pengembangan teknologi budi daya guna memperkuat ketahanan pangan kedua negara.

Trenggono menyampaikan rencana tersebut setelah bertemu Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Jakarta, Selasa (1/9). Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah melihat secara langsung penerapan sistem RAS di Tasmania yang digunakan untuk meningkatkan hasil produksi perikanan budi daya.

Menurutnya, pengalaman Australia menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dalam menerapkan teknologi serupa. KKP menargetkan sekitar 40.000 unit mini-RAS dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh pembudidaya di ratusan desa.

Mini-RAS bekerja dengan cara mengolah serta mengalirkan kembali air yang digunakan dalam proses budi daya. Dengan sistem tersebut, kualitas dan kondisi lingkungan pemeliharaan ikan dapat dikontrol dengan lebih baik.

Penerapan teknologi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga membuat kegiatan budi daya menjadi lebih efisien.

Untuk tahap awal, KKP akan menerapkan mini-RAS pada budi daya ikan nila dan lele. Penggunaannya kemudian ditargetkan diperluas ke sejumlah komoditas lain, seperti patin atau pangasius, barramundi, kerapu, hingga jade perch.

Trenggono menegaskan bahwa kerja sama dengan Australia di bidang budi daya perikanan harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak semata-mata berorientasi pada investasi, tetapi juga perlu mencakup pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan produksi, alih teknologi, serta menjaga keberlanjutan ekosistem.

Sementara itu, Rod Brazier menyebut Australia memiliki pengalaman yang cukup kuat dalam pengembangan teknologi maupun industri budi daya perikanan. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan dengan Indonesia.

Ia menjelaskan, pengembangan sektor budi daya di Australia juga didukung riset yang bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak kegiatan perikanan terhadap lingkungan.

Brazier menilai kolaborasi antara kedua negara memiliki arti penting. Ia berharap Indonesia dan Australia dapat saling memanfaatkan keunggulan masing-masing untuk membangun ekosistem perikanan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update