![]() |
| Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah membuka Festival Literasi Daerah Tingkat Provinsi Sumbar 2026 |
Padang, Rakyatterkini.com — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah secara resmi membuka Festival Literasi Daerah Tingkat Provinsi Sumbar 2026, Selasa (8/9/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumbar tersebut mengusung tema “Peranan Literasi dalam Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya”.
Festival ini menjadi salah satu upaya memperkuat budaya literasi masyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan kebudayaan lokal. Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang diharapkan semakin aktif dalam gerakan tersebut.
Dalam sambutannya, Mahyeldi menyampaikan bahwa literasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, menilai, serta menggunakan informasi secara tepat untuk menghasilkan tindakan yang bermanfaat.
“Literasi bukan sekadar membaca, tetapi bagaimana seseorang mampu memahami apa yang dibacanya. Setelah itu, informasi tersebut diolah dan dimanfaatkan dalam kehidupan,” kata Mahyeldi di Padang.
Ia menilai masyarakat Minangkabau sebenarnya telah memiliki tradisi literasi yang berkembang sejak dahulu, baik melalui pengetahuan yang diwariskan secara lisan maupun tertulis. Filosofi Alam takambang jadi guru menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Minangkabau belajar dari lingkungan dan berbagai fenomena kehidupan.
Mahyeldi juga mengutip ungkapan “Takilek ikan dalam tabek, lah tahu jantan batino-nyo” yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam membaca tanda dan memahami sesuatu berdasarkan pengamatan.
Menurutnya, tradisi Minangkabau juga memadukan dua sumber pengetahuan, yakni ayat-ayat qauliyah yang berlandaskan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah serta ayat-ayat kauniyah berupa alam semesta yang menjadi sumber pembelajaran.
“Keduanya harus dipahami dan dihayati agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Mahyeldi menegaskan bahwa kekayaan alam dan budaya Sumatera Barat merupakan warisan yang harus dipelihara agar tetap memberikan manfaat bagi generasi selanjutnya. Oleh sebab itu, peningkatan literasi budaya dinilai perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat apa saja kekayaan yang dimiliki Sumbar, tetapi juga memikirkan langkah yang harus dilakukan agar kekayaan tersebut tetap terjaga dan dapat diwariskan.
Gubernur juga mengingatkan generasi muda agar tidak berhenti sebagai pengguna informasi di tengah perkembangan teknologi digital. Anak-anak muda diharapkan mampu menghasilkan karya yang mengangkat identitas Minangkabau dan Sumatera Barat.
Nilai budaya seperti Tau Jo Nan Ampek, Sumbang Duo Baleh, serta prinsip yang mempertemukan adat dan agama, menurutnya, perlu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan, termasuk dalam penggunaan media dan ruang digital.
Sementara itu, Bunda Literasi Provinsi Sumbar Harnely Mahyeldi mengatakan budaya membaca dan belajar perlu dibangun secara konsisten hingga menjadi kebiasaan masyarakat. Penguatan literasi digital juga penting supaya anak-anak memiliki kemampuan menyaring, menganalisis, dan menggunakan informasi secara bijak.
“Teknologi digital seharusnya tidak menjadi penghambat. Justru kita berharap perkembangan digital bisa memotivasi anak-anak untuk terus menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan literasinya,” tutur Harnely.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumbar Jumaidi mengatakan Festival Literasi Daerah menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem literasi. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi, perlombaan, pemberian apresiasi, pengembangan kreativitas, kolaborasi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Jumaidi menyebutkan, berdasarkan data GoodStats dan BPS 2025, Sumbar menjadi provinsi dengan tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 17,75 persen.
Jumlah kunjungan langsung ke perpustakaan daerah juga menunjukkan peningkatan. Pada 2024 tercatat sebanyak 60.693 kunjungan, kemudian meningkat menjadi sekitar 67.000 kunjungan pada 2025.
Festival Literasi Sumbar 2026 digelar selama tiga hari dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, media hingga masyarakat umum.
Beragam agenda disiapkan dalam festival tersebut. Di antaranya bimbingan teknis literasi informasi dan penulisan yang mengangkat budaya lokal, perlombaan literasi, pameran karya, peluncuran buku, gelar wicara, bedah buku, musikalisasi puisi, hingga pameran naskah kuno dan arsip.
Selain itu, masyarakat juga dapat mengunjungi bazar buku dan UMKM yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan festival.
Sejumlah pelayanan publik turut disediakan selama kegiatan berlangsung, seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan secara gratis, serta pelayanan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil.
Pemprov Sumbar berharap festival tersebut dapat memperluas gerakan literasi di tengah masyarakat. Literasi diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan minat baca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menciptakan karya, menjaga kelestarian alam, serta mempertahankan nilai budaya daerah.
Mahyeldi mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Festival Literasi Sumbar 2026. Ia berharap semangat yang dibangun dalam festival dapat terus berlanjut setelah kegiatan berakhir.
Menurutnya, gerakan literasi harus tumbuh di berbagai ruang kehidupan, mulai dari perpustakaan, sekolah, keluarga, komunitas, nagari hingga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, Sumatera Barat dapat melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan luas, berkarakter budaya, sekaligus memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. (adpsb/rmz/bud)


