Jakarta, Rakyatterkini.com — Pergerakan pasar keuangan dan komoditas global diperkirakan masih akan berlangsung dinamis pada pekan depan. Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan indeks dolar AS, minyak mentah, emas dunia, serta harga Logam Mulia Antam akan mengalami fluktuasi.
Menurut Ibrahim, kondisi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar. Selain itu, perkembangan politik di Amerika Serikat, terutama terkait tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Untuk indeks dolar AS (USD Index), Ibrahim memperkirakan pergerakannya berada di kisaran 98,30 hingga 100,20. Ia melihat peluang indeks dolar kembali mendekati level 100.
Di pasar energi, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan bergerak antara level support USD82,50 dan resistance USD98,70. Ibrahim menilai harga minyak masih berpotensi menguat dan mendekati USD99.
Sementara itu, emas dunia diperkirakan bergerak dalam rentang USD4.276 hingga USD4.668 per troy ons sepanjang pekan mendatang. Level support pertama berada di USD4.393 per troy ons dan support kedua USD4.276. Sedangkan resistance pertama diperkirakan berada di USD4.518 dan resistance kedua USD4.668 per troy ons.
Untuk pasar domestik, harga Logam Mulia Antam diprediksi berada pada rentang Rp2.500.000 hingga Rp2.754.000 per gram. Dengan demikian, terdapat potensi perbedaan harga sekitar Rp254.000 per gram dalam perdagangan selama sepekan.
Ibrahim menjelaskan, gejolak komoditas global tidak terlepas dari perkembangan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat hingga rata-rata USD5,85 per galon, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Selain konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina yang berkaitan dengan keterlibatan negara-negara NATO di kawasan Eropa Timur juga dinilai masih berpotensi berlangsung dalam waktu panjang.
Dari Amerika Serikat, perhatian pasar juga tertuju pada hubungan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan The Fed. Trump diketahui mendorong bank sentral AS untuk menurunkan tingkat suku bunga, sementara The Fed memiliki mandat untuk menentukan kebijakan moneter secara independen.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut justru membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Ibrahim menyebut sekitar 58 persen ekonom di Amerika Serikat memperkirakan adanya peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September mendatang.
Menurutnya, tarik-menarik antara tekanan politik pemerintah AS dan independensi The Fed akan menjadi salah satu sentimen penting yang memengaruhi pasar keuangan serta harga komoditas global dalam waktu dekat.(da*)


