Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) untuk menjadi sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki ekosistem gambut.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa teknologi tersebut dirancang untuk mengawasi kondisi air di lahan gambut. Perubahan tinggi muka air tanah dapat menjadi petunjuk awal terhadap meningkatnya potensi terjadinya kebakaran.
Tidak hanya berfungsi sebagai pendeteksi risiko karhutla, pemantauan GWL juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi emisi karbon yang berasal dari kawasan gambut.
Albertus menyebutkan, informasi mengenai tinggi muka air tanah dapat membantu menentukan kapan suatu lahan mulai berada dalam kondisi yang rawan terbakar.
Pemantauan tersebut menjadi penting karena perubahan ketinggian air tanah berkaitan erat dengan tingkat kelembapan gambut. Ketika permukaan air tanah turun hingga melewati batas tertentu, lahan akan menjadi lebih kering sehingga tingkat kerawanannya terhadap kebakaran ikut meningkat.
Data hasil pemantauan selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis perubahan hidrologi pada ekosistem gambut. Informasi itu juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan serta strategi pengelolaan lahan.
Gambut memiliki peran penting bagi iklim
Albertus mengungkapkan, penelitian terbaru BRIN menemukan bahwa kawasan hutan rawa gambut memiliki peran dalam memengaruhi pembentukan hujan di tingkat lokal. Temuan tersebut semakin memperkuat pentingnya menjaga ekosistem gambut sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Selain mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, gambut juga berfungsi menjaga keseimbangan tata air. Ekosistem tersebut turut mendukung proses pembentukan hujan lokal melalui berbagai proses alami.
Menurut Albertus, upaya mempertahankan kondisi gambut agar tetap basah dan sehat tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kebakaran. Langkah tersebut juga diperlukan untuk menjaga fungsi ekologis gambut secara keseluruhan.
Ia menilai penelitian mengenai hutan rawa gambut membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Karena itu, kajian tersebut perlu melibatkan kerja sama berbagai pusat riset yang ada di BRIN.
Albertus kembali menekankan bahwa ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah lahan gambut berada dalam kondisi aman atau rentan terhadap kebakaran.
Pada kondisi alami, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Namun, ketika kandungan airnya berkurang dan lahan menjadi kering, potensi terjadinya kebakaran akan semakin besar.
Aktivitas budidaya di kawasan gambut juga dapat memicu pembangunan kanal untuk mengatur tata air. Kanal tersebut memang dapat membantu mengendalikan kondisi air di lahan perkebunan, tetapi pengelolaan yang tidak tepat dapat menyebabkan muka air tanah turun terlalu jauh.
Jika hal itu terjadi, gambut akan kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih mudah terbakar. Oleh sebab itu, menjaga ketinggian air tanah tetap pada kondisi yang sesuai menjadi bagian penting dalam upaya mencegah karhutla di kawasan gambut.(da*)


