Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pengawasan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dampaknya terhadap kondisi atmosfer, penerbangan, serta perairan di kawasan Selat Sunda.
Hasil analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) menunjukkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik. Material erupsi tersebut terpantau menyebar melintasi sejumlah wilayah, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang segera mengeluarkan Significant Meteorological Information (SIGMET) setelah erupsi pertama terjadi pada 4 September 2026 sekitar pukul 23.23 WIB.
SIGMET merupakan informasi peringatan penting yang digunakan untuk mendukung keselamatan penerbangan. Sampai Minggu (6/9/2026), BMKG tercatat telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala.
Menurut Andri, pembaruan terbaru menunjukkan abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur. Sementara pada ketinggian mencapai 50.000 kaki, pergerakan abu mengarah ke barat.
Pada lapisan udara hingga 20.000 kaki, sebaran abu bergerak dari timur laut menuju selatan dan berpotensi mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sedangkan pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang masuk dalam jalur sebaran antara lain Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.
Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas penerbangan. Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada 6 September 2026, sejumlah bandara harus ditutup sementara.
Bandara yang terdampak meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Budiarto. Durasi penutupan di masing-masing bandara tidak sama dan dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan sebaran abu serta faktor keselamatan penerbangan.
Kebijakan penutupan tersebut dilakukan melalui koordinasi berbagai pihak terkait. Otoritas Bandar Udara berkomunikasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, pemerintah atau otoritas daerah, serta TNI.
Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan aspek keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
AirNav Indonesia juga menerbitkan NOTAM sebagai sarana penyampaian informasi resmi mengenai perubahan kondisi operasional maupun potensi ancaman terhadap penerbangan.
Penerbitan NOTAM tersebut melengkapi informasi Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang dikeluarkan BMKG secara berkala. Informasi tersebut menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk mengambil langkah secara cepat, terukur dan terkoordinasi.
Selain ruang udara, BMKG turut mengawasi kondisi perairan di sekitar Selat Sunda. Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa hingga pukul 07.00 WIB, pemantauan melalui 20 sensor tsunami gauge belum menemukan adanya perubahan atau anomali muka air laut.
Pengamatan menggunakan teknologi High-Frequency (HF) Radar Array yang berada di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan tingkat kemungkinan tsunami masih rendah, yakni di bawah 40 persen. Sementara itu, tinggi gelombang laut terpantau sekitar satu meter.
BMKG juga mencatat sejumlah fenomena sekunder yang menyertai aktivitas erupsi, seperti gangguan geomagnetik dan munculnya petir vulkanik. Sensor yang berada di Lampung Selatan dan Serang mendeteksi gangguan geomagnetik yang sejalan dengan meningkatnya aktivitas petir vulkanik dalam 12 jam terakhir.
Meski demikian, Ardhasena menyebut intensitas gangguan tersebut masih lebih rendah dibandingkan kondisi ketika letusan awal terjadi.
Menghadapi kemungkinan perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG terus mengoperasikan sistem pemantauan terpadu sepanjang waktu dengan memanfaatkan berbagai instrumen.
Pemantauan juga dilakukan bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) – Badan Geologi. Sinergi tersebut ditujukan untuk memperoleh informasi yang cepat dan akurat sekaligus memperkuat koordinasi antarlembaga dalam menentukan langkah penanganan.
BMKG mengingatkan masyarakat, terutama warga maupun mereka yang beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda, agar meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya serta tidak ikut menyebarkan kabar yang belum mendapatkan konfirmasi resmi.
Perkembangan terbaru terkait erupsi dan kondisi lingkungan dapat dipantau secara langsung melalui kanal resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta lembaga pemerintah terkait lainnya.(da*)


