Notification

×

Iklan

500 Batang Lamang Dimasak Bersama di Lubuak Anau

Minggu, 13 September 2026 | 15:44 WIB Last Updated 2026-09-13T08:44:00Z

500 Batang Lamang di Lubuak Anau

Pasbar, Rakyatterkini.com – Asap mulai mengepul dari ratusan batang bambu yang digunakan untuk memasak lamang. Beras ketan yang telah dibungkus daun pisang dimasukkan ke dalam bambu dan dimasak secara bersama-sama. Bagi warga Lubuak Anau, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan bagian dari tradisi yang terus dijaga.

Pada Rabu (9/9), masyarakat Lubuak Anau menggelar kegiatan malamang basamo dengan memasak sekitar 500 batang lamang di kawasan Masjid Raya Lubuak Anau. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus momentum untuk mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi malamang memiliki makna yang cukup luas bagi masyarakat. Selain menghasilkan makanan khas Minangkabau, kegiatan ini menjadi wadah bertemunya nilai budaya, keagamaan, serta semangat kebersamaan dan gotong royong.

Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat Afrizal yang hadir mewakili bupati memberikan apresiasi kepada niniak mamak dan warga Lubuak Anau yang konsisten melestarikan tradisi tersebut.

Ia menilai malamang tidak hanya mengandung nilai budaya, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan keagamaan. Karena dilakukan secara turun-temurun, tradisi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan budaya takbenda di daerah.

Ketua TP PKK Pasaman Barat, Ny. Sifrowati Yulianto, juga hadir menyaksikan langsung proses pembuatan lamang. Ia memberikan perhatian khusus terhadap peran perempuan yang turut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

Menurut Sifrowati, kegiatan malamang basamo berpotensi dikembangkan menjadi agenda budaya yang lebih besar. Terlebih, Pasaman Barat telah memiliki sejumlah warisan budaya takbenda yang memperoleh pengakuan secara nasional, seperti Maapam dan Tari Salapan.

Ia berharap semangat masyarakat Lubuak Anau dapat ditularkan ke kecamatan lainnya. Ke depan, ia membayangkan kegiatan malamang bersama bisa digelar dalam jumlah yang lebih besar, bahkan mencapai 2.000 batang lamang.

Sementara itu, Niniak Mamak Sinaro Nan Panjang Lubuak Anau Kinali, Daliyus K, menjelaskan bahwa malamang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat di rumah masing-masing. Namun, dalam rangka memperingati Maulid Nabi kali ini, warga sepakat menggelarnya secara bersama-sama di kawasan masjid.

Usai seluruh lamang selesai dimasak, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan sapi. Pada malam harinya, masyarakat kembali berkumpul untuk mengikuti acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara tradisi dan kehidupan keagamaan masyarakat. Lamang yang dibuat secara bersama tidak hanya dipandang sebagai hidangan, tetapi juga menjadi lambang persatuan dan kebersamaan sebelum warga mengikuti kegiatan keagamaan untuk mengenang perjuangan serta meneladani akhlak Rasulullah.

Pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan yang besar dan mewah. Di Lubuak Anau, tradisi tetap tumbuh melalui bambu, beras ketan, api, serta gotong royong masyarakat.

Malamang basamo menjadi gambaran bahwa sebuah warisan budaya dapat terus bertahan selama generasi penerus bersedia menjaga, menjalankan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update