Padang, Rakyatterkini.com – Selama ini gunung lebih sering dipandang sebagai sumber mata air, penghasil udara bersih, kawasan konservasi, dan tempat menikmati keindahan alam. Namun, di balik aktivitas pendakian, terdapat potensi ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Setiap wisatawan yang datang ke kawasan gunung dapat menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lebih dari sekadar bentang alam, gunung juga menyimpan nilai filosofis. Perjalanan menuju puncak mengajarkan ketekunan, keberanian, sekaligus pentingnya menghargai alam. Ketinggian gunung menjadi pengingat bahwa manusia harus tetap rendah hati dan memahami posisinya sebagai bagian dari alam.
Dari sisi ekonomi, kawasan pegunungan memiliki nilai yang sangat besar. Selain berfungsi sebagai daerah tangkapan air, habitat flora dan fauna, serta laboratorium alam, gunung juga mampu menjadi daya tarik wisata yang menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Wisata pendakian atau mountaineering tourism bahkan telah berkembang menjadi industri besar di berbagai negara. Banyak wisatawan rela menempuh perjalanan panjang untuk menikmati pengalaman berada di puncak gunung. Tujuannya bukan semata-mata mencapai ketinggian, tetapi juga mencari tantangan, pengalaman baru, serta kepuasan pribadi.
Sejumlah gunung telah dikenal sebagai destinasi pendakian internasional, seperti Rinjani di Lombok, Kilimanjaro di Tanzania, Aconcagua di Argentina, Elbrus di Rusia, hingga Everest di kawasan Himalaya. Kehadiran wisatawan di kawasan tersebut turut menciptakan sumber penghasilan bagi masyarakat lokal.
Ekspedisi menuju Everest, misalnya, membutuhkan biaya yang sangat besar. Pengeluaran tersebut kemudian tersebar ke berbagai sektor, seperti penerbangan, hotel, logistik, operator perjalanan, penyewaan peralatan, jasa pemandu, porter, serta kebutuhan masyarakat setempat.
Di Indonesia, biaya pendakian memang tidak sebesar ekspedisi gunung-gunung dunia. Namun, dampak ekonominya memiliki pola yang serupa. Seorang pendaki dapat mengeluarkan sekitar Rp2,5 juta hingga Rp5 juta dalam satu perjalanan, bergantung pada lokasi dan durasi kegiatan. Pengeluaran tersebut kemudian berputar di berbagai usaha yang berada di sekitar kawasan pendakian.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya efek pengganda atau multiplier effect. Satu wisatawan dapat memberikan pemasukan kepada banyak pelaku usaha sekaligus. Transportasi, penginapan, rumah makan, toko kebutuhan harian, penyewaan peralatan, pemandu, porter, fotografer, hingga penjual cendera mata dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan pendaki.
Dengan demikian, potensi ekonomi wisata pendakian tidak semestinya dipandang sebelah mata. Jika dikelola secara tepat dan tetap mengutamakan konservasi, kawasan pegunungan dapat menjadi salah satu penggerak perekonomian daerah.
Sumatera Barat Punya Potensi Besar
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam pegunungan cukup melimpah. Wilayah yang berada di jalur Cincin Api Pasifik tersebut memiliki sejumlah gunung api dan pegunungan yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Beberapa di antaranya adalah Gunung Talamau di Pasaman Barat, Gunung Kerinci di kawasan perbatasan Sumatera Barat dan Jambi, Gunung Sago di Limapuluh Kota dan Tanah Datar, serta Gunung Talang di Kabupaten Solok. Selain itu, terdapat Gunung Marapi, Singgalang, Tandikek, dan Malintang yang masing-masing menawarkan karakter serta daya tarik tersendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, wisata pendakian di Sumatera Barat menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Gunung Talang menjadi salah satu contohnya. Perpaduan panorama alam dan karakter jalur pendakian yang relatif bersahabat membuat gunung tersebut semakin populer, termasuk setelah banyak diperbincangkan di media sosial.
Peningkatan jumlah pendaki kemudian melahirkan berbagai aktivitas ekonomi baru. Bisnis open trip semakin banyak, usaha penyewaan perlengkapan berkembang, penginapan mendapat lebih banyak tamu, sedangkan warung makan, kedai kopi, jasa transportasi, pemandu, dan porter ikut memperoleh tambahan pendapatan.
Perputaran ekonomi tersebut terjadi hanya dari satu kawasan gunung. Padahal, Sumatera Barat memiliki lebih dari 20 gunung dan setidaknya tujuh di antaranya sudah cukup dikenal oleh komunitas pendaki.
Gunung Sago menawarkan jalur yang relatif singkat dengan tantangan tersendiri. Singgalang memiliki daya tarik berupa hutan lumut dan Telaga Dewi. Marapi menawarkan pengalaman pendakian di kawasan vulkanik. Talamau dikenal dengan panorama 13 telaga di sekitar kawasan puncaknya. Sementara itu, Kerinci sebagai gunung tertinggi di Sumatera menjadi salah satu target pendakian yang banyak diimpikan para pendaki.
Sayangnya, potensi tersebut belum seluruhnya dikembangkan dalam kerangka industri pariwisata yang profesional. Pengelolaan jalur pendakian di sejumlah gunung masih dilakukan secara sederhana. Fasilitas keselamatan belum seragam, rambu penunjuk arah masih terbatas, informasi wisata belum terintegrasi, dan peningkatan kompetensi pemandu maupun porter belum dilakukan secara berkesinambungan.
Padahal, aspek keamanan dan kenyamanan merupakan bagian penting dalam membangun destinasi pendakian yang mampu bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Gunung Talang Jadi Contoh
Gunung Talang dapat menjadi gambaran mengenai besarnya dampak wisata pendakian terhadap perekonomian masyarakat.
Gunung yang memiliki ketinggian 2.597 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut berkembang menjadi salah satu destinasi pendakian favorit di Sumatera Barat. Ketika aktivitas pendakian Gunung Marapi mengalami pembatasan akibat kondisi vulkanik, Gunung Talang semakin banyak dipilih oleh para pencinta alam.
Pada akhir pekan biasa, jumlah pendaki dapat berada di kisaran 500 hingga 700 orang. Angka tersebut bisa melonjak saat libur panjang. Dalam beberapa hari momentum peringatan Hari Kemerdekaan, jumlah pendaki bahkan dapat mencapai sekitar 2.300 hingga 2.500 orang.
Jumlah wisatawan yang besar tentu berbanding lurus dengan perputaran ekonomi di kawasan sekitar. Uang wisatawan dapat masuk melalui berbagai sektor, seperti biaya registrasi yang menjadi pendapatan nagari, jasa ojek menuju titik pendakian, warung makan, penginapan, toko perlengkapan, penyewaan alat, jasa pemandu, porter, serta berbagai usaha masyarakat.
Jika seorang pendaki rata-rata mengeluarkan Rp350.000 dalam satu kali perjalanan dan terdapat 2.500 pendaki, maka potensi uang yang berputar mencapai sekitar Rp875 juta dalam satu periode kunjungan.
Perhitungan tersebut baru menggambarkan satu gunung dan satu momentum. Jika tujuh gunung favorit di Sumatera Barat dikelola dengan standar profesional, didukung infrastruktur memadai, dipromosikan secara konsisten, serta memberikan pelayanan yang baik, nilai ekonomi yang dihasilkan berpeluang mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahun.
Potensi tersebut bukan sekadar angan-angan. Kuncinya terletak pada bagaimana seluruh pihak mampu mengelola kawasan pegunungan secara terencana tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Pengelolaan Harus Diperkuat
Sudah waktunya gunung dipandang bukan hanya sebagai kekayaan alam, tetapi juga sebagai aset ekonomi daerah yang harus dilindungi sekaligus dikembangkan secara bertanggung jawab.
Pemerintah daerah, pemerintah nagari, pengelola kawasan konservasi, pelaku usaha, komunitas pencinta alam, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi untuk menciptakan ekosistem wisata pendakian yang profesional.
Standar keselamatan harus ditingkatkan, jalur pendakian ditata, serta rambu dan pusat informasi diperbanyak. Sistem registrasi pendaki juga dapat dikembangkan secara digital. Pemandu dan porter perlu memperoleh pelatihan serta sertifikasi kompetensi. Di sisi lain, kapasitas tim pencarian dan pertolongan juga harus diperkuat.
Promosi wisata pendakian perlu dilakukan secara konsisten dengan tetap menjadikan kelestarian lingkungan sebagai prioritas. Pertumbuhan jumlah wisatawan tidak boleh mengorbankan ekosistem gunung.
Pengalaman Rinjani menunjukkan bahwa wisata pendakian dapat menjadi sumber penggerak ekonomi masyarakat. Kilimanjaro di Tanzania juga menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas wisata gunung memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
Sumatera Barat memiliki modal alam yang tidak kalah menarik. Program Seven Summit West Sumatera bahkan memperkenalkan tujuh gunung utama, yakni Sago dengan ketinggian 2.272 mdpl, Tandikek 2.438 mdpl, Talang 2.597 mdpl, Singgalang 2.877 mdpl, Marapi 2.891 mdpl, Talamau 2.982 mdpl, dan Kerinci 3.805 mdpl.
Gunung-gunung tersebut kemungkinan akan tetap berdiri selama ratusan bahkan ribuan tahun. Tantangannya adalah bagaimana manusia memanfaatkan potensi yang ada tanpa merusak alam.
Pada akhirnya, gunung tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar puncak. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan pegunungan dapat menjadi sumber penghidupan dan membuka masa depan ekonomi bagi masyarakat. Keseimbangan antara kepentingan pariwisata dan konservasi menjadi kunci agar manfaat tersebut dapat dirasakan dalam jangka panjang.(da*)


