Pariaman, Rakyatterkini.com — Sejumlah warga di Kota Pariaman mempertanyakan mekanisme penetapan desil yang menjadi salah satu dasar dalam menentukan penerima bantuan sosial. Mereka menilai kondisi ekonomi di lapangan belum sepenuhnya tercermin dalam kategori desil yang diperoleh masyarakat.
Misnawati (51), salah seorang warga, mengaku kecewa karena Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang sebelumnya rutin diterimanya kini tidak lagi masuk. Berdasarkan pengecekan, ia masih tercatat dalam Desil 4, yang termasuk kelompok masyarakat rentan miskin.
“BPNT kemarin sudah disalurkan dan warga lain sudah menerima. Saya justru tidak mendapatkannya. Ketika bertanya kepada pendamping PKH, saya diberi tahu bahwa Desil 4 masih bisa memperoleh BPNT. Karena itu saya bingung mengapa bantuan saya tidak masuk,” kata Misnawati kepada Info Sumbar, Sabtu (22/8/2026).
Keluhan serupa disampaikan Rahmi (34). Ia menyebut dirinya telah tercatat dalam Desil 1, yakni kategori dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Namun, menurut pengakuannya, bantuan BPNT maupun Program Keluarga Harapan (PKH) belum pernah diterimanya.
Rahmi mengatakan kondisi keluarganya cukup memprihatinkan. Ia memiliki tujuh anak, sementara rumah yang ditempatinya masih berdinding anyaman bambu dan menggunakan lantai kayu.
“Sudah lama tercatat Desil 1, tetapi sampai sekarang belum pernah mendapatkan bantuan. Padahal kami memiliki tujuh anak dan kondisi rumah juga masih sangat sederhana,” ujarnya.
Pertanyaan mengenai penetapan desil juga disampaikan Asdita (29). Ia menilai kondisi keluarganya tidak sejalan dengan kategori desil yang tercatat untuk sang ibu. Ibunya merupakan seorang janda lanjut usia yang mengalami penyakit menahun dan harus menjalani pengobatan secara rutin di fasilitas kesehatan.
Asdita menuturkan rumah yang mereka tempati masih semi permanen. Namun, sang ibu sebelumnya tercatat dalam Desil 6. Kondisi tersebut dinilainya tidak sebanding dengan tetangga yang menurutnya memiliki rumah lebih layak dan masih berada pada usia produktif, tetapi justru masuk Desil 3.
“Rumah kami masih semi permanen dan ibu saya seorang janda lansia yang memiliki penyakit menahun. Namun, desilnya justru 6. Sementara ada tetangga yang rumahnya sudah lebih baik dan masih produktif, tetapi masuk Desil 3,” katanya.
Asdita mengaku telah berupaya mengajukan perubahan kategori desil secara mandiri serta meminta bantuan perangkat desa. Upaya tersebut akhirnya membuat kategori desil ibunya turun menjadi Desil 5.
Dengan perubahan tersebut, keluarganya kini dapat memperoleh manfaat BPJS PBI. Meski demikian, Asdita berharap kategori desil ibunya kembali diturunkan menjadi Desil 3 atau 4 sehingga berpeluang mendapatkan bantuan sosial lainnya, termasuk PKH dan BPNT.
Berbagai keluhan tersebut menunjukkan masih adanya warga yang mempertanyakan kesesuaian data desil dengan kondisi sosial ekonomi mereka. Mereka berharap proses pemutakhiran data dapat dilakukan secara lebih akurat sehingga bantuan pemerintah benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.(da*)


