Padang, Rakyatterkini.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus memperkuat komitmen untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), terutama panas bumi atau geothermal. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan Sumbar sebagai Green Province sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengatakan komitmen terhadap pengembangan energi bersih telah disampaikannya dalam Opening Ceremony The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.
Menurut Mahyeldi, pengembangan energi terbarukan sejalan dengan arah pembangunan daerah karena Sumbar memiliki potensi sumber energi bersih yang cukup besar.
“Alhamdulillah, kita termasuk daerah yang telah menyatakan komitmen dalam pemanfaatan panas bumi. Kita memang fokus pada geothermal dan sudah memasukkannya dalam konsep Green Province,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan data Dinas ESDM Provinsi Sumbar, potensi panas bumi di wilayah tersebut mencapai sekitar 1.651 megawatt (MW). Potensi itu tersebar di 22 lokasi yang berada di tujuh kabupaten.
Meski memiliki sumber daya besar, pemanfaatannya saat ini masih terbatas. Mahyeldi menyebut baru sekitar lima persen dari keseluruhan potensi geothermal yang telah dimanfaatkan.
Salah satu pemanfaatan yang sudah berjalan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh di Kabupaten Solok Selatan dengan kapasitas sekitar 86 MW. Selain itu, pembangunan Muara Laboh Unit-2 berkapasitas 80 MW juga tengah dilakukan dengan nilai investasi sekitar USD490 juta dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.
Mahyeldi mengakui pengembangan energi panas bumi menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebutuhan modal yang besar. Selain itu, kepastian usaha dan kemudahan proses investasi juga dinilai penting untuk menarik minat investor.
Karena itu, Pemprov Sumbar mendorong percepatan pengembangan wilayah kerja panas bumi serta berharap adanya dukungan lebih kuat dari pemerintah pusat dan kementerian terkait.
“Tantangannya tentu investasi dan bagaimana menarik pengusaha agar mau masuk. Kita berharap ada percepatan dan dukungan dari kementerian terkait agar pemanfaatan energi baru terbarukan bisa lebih maksimal,” katanya.
Sejumlah program pengembangan geothermal juga terus dilakukan. Selain melanjutkan pembangunan Muara Laboh Unit-2, pemerintah mendorong pengeboran sumur eksplorasi Bonjol di Pasaman Barat serta survei pendahuluan di kawasan Cubadak Panti.
Menurut Mahyeldi, pemanfaatan panas bumi bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan energi. Pengembangan sektor tersebut juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru dan meningkatkan manfaat sumber daya alam bagi masyarakat.
Ia berharap semakin banyak investor yang tertarik mengembangkan potensi geothermal di Sumbar. Dengan 22 titik potensi yang tersebar di tujuh kabupaten, peluang pengembangan energi panas bumi dinilai masih sangat terbuka.
Selain geothermal, Pemprov Sumbar juga mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya, seperti tenaga air dan tenaga surya. Pengembangan berbagai sumber energi tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Ini bukan hanya tentang listrik, tetapi bagaimana potensi energi bersih yang kita miliki bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat,” pungkas Mahyeldi.(da*)


