Notification

×

Iklan

ISI Padang Panjang Latih Disabilitas Membatik

Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:22 WIB Last Updated 2026-08-21T08:22:00Z

Prodi Kriya Seni ISI Padang Panjang 

Padang Panjang, Rakyatterkini.com — Program Studi Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang mengadakan pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas yang tergabung dalam Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padang Panjang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya kampus membuka akses berkesenian yang setara bagi seluruh masyarakat.

Pelatihan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang memperoleh dukungan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2026.

Tidak sekadar mengajarkan teknik membatik, program tersebut juga diarahkan untuk memperluas kesempatan penyandang disabilitas dalam mengembangkan kemampuan di bidang kriya tekstil. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk meningkatkan kreativitas, keterampilan, kemandirian, sekaligus melihat peluang ekonomi dari karya yang dihasilkan.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi secara bertahap, mulai dari mengenal peralatan dan bahan, merancang motif, memindahkan desain ke kain, menggunakan canting dan malam, melakukan pewarnaan, hingga tahap akhir penyelesaian karya. Peserta juga dikenalkan dengan teknik batik cap yang dinilai lebih praktis untuk mendukung proses produksi.

Proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan menyesuaikan kondisi masing-masing peserta. Tim pengabdian bersama instruktur memberikan bimbingan secara langsung sehingga peserta dapat belajar melalui praktik sekaligus menuangkan ide visual sesuai kemampuan dan kreativitas mereka.

Ketua tim pengabdian, Mutia Budhi Utami, S.Pd., M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan awal dalam membangun lingkungan kreatif yang ramah dan terbuka bagi penyandang disabilitas.

Menurutnya, kondisi fisik tidak seharusnya menjadi batas bagi seseorang untuk menghasilkan karya. Melalui seni kriya, penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan sekaligus menciptakan produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Mutia menambahkan, perguruan tinggi seni memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat memberikan manfaat kepada berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, Prodi Kriya Seni terus mengembangkan program pengabdian yang menghubungkan keilmuan di kampus dengan kebutuhan masyarakat.

Selain praktik membatik, peserta juga memperoleh wawasan mengenai pengembangan hasil karya menjadi produk yang memiliki nilai jual. Kain batik dapat diolah lebih lanjut menjadi aksesori, suvenir, pakaian, maupun berbagai produk kriya lainnya.

Ketua Prodi Kriya Seni ISI Padang Panjang, Hendra S.Sn., M.Sn., berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan melalui program pendampingan secara berkelanjutan. Pendampingan nantinya dapat mencakup pengembangan motif dan desain, peningkatan mutu produk, pengemasan, penguatan merek, hingga strategi pemasaran.

Kolaborasi antara ISI Padang Panjang dan PPDI Kota Padang Panjang diharapkan dapat menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis seni. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa seni dan kriya dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, pendidikan, inklusivitas, serta peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update