Jakarta, Rakyatterkini.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Selasa (11/8/2026). Mata uang Indonesia tersebut turun 0,24 persen atau 42 poin ke level Rp17.797 per dolar AS, dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.755 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Investor Daily, pelemahan rupiah terjadi seiring kembali menguatnya dolar AS di pasar internasional. Kondisi tersebut turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah dunia serta sikap investor yang memilih menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat.
Inflasi AS periode Juli menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar. Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), khususnya untuk pertemuan pada September mendatang.
Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika mayoritas mata uang Asia bergerak tidak seragam dengan kecenderungan melemah. Peso Filipina bahkan menjadi salah satu mata uang kawasan yang mengalami penurunan cukup dalam pada perdagangan pagi.
Kendati terkoreksi, posisi rupiah saat ini masih lebih baik dibanding tekanan yang terjadi pada awal Agustus. Sebelumnya, rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Secara bulanan, rupiah masih mencatat penguatan lebih dari 1,3 persen sepanjang Agustus. Ketahanan nilai tukar juga didukung oleh kondisi cadangan devisa nasional yang relatif kuat. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia mencapai US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Besarnya cadangan devisa tersebut memberikan kapasitas bagi BI untuk menjaga stabilitas rupiah melalui sejumlah kebijakan, termasuk penerapan strategi triple intervention di pasar valuta asing.
Pelemahan rupiah di pasar spot juga terlihat pada kurs beberapa bank besar pada Selasa pagi. Berdasarkan pembaruan pukul 07.48 WIB, BCA melalui e-Rate menetapkan kurs beli Rp17.710 per dolar AS dan kurs jual Rp17.800.
Sementara itu, Bank Mandiri melalui Special Rate mencatat kurs beli Rp17.810 dan kurs jual Rp17.840 per dolar AS. Maybank melalui layanan e-Rate menetapkan kurs beli Rp17.741 dan kurs jual Rp17.802 per dolar AS.
Nilai tersebut merupakan kurs yang berlaku pada saat pembaruan dan masih dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Pergerakan rupiah pada rentang Rp17.700 hingga Rp18.000 per dolar AS memberikan konsekuensi berbeda terhadap berbagai sektor usaha.
Industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri, antara lain farmasi, elektronik, dan makanan, berpotensi mengalami peningkatan biaya produksi. Begitu pula perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang dolar AS karena harus menanggung pembayaran yang lebih besar dalam rupiah.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha berorientasi ekspor. Sektor komoditas, seperti nikel, emas, dan batu bara, berpotensi memperoleh penerimaan rupiah yang lebih tinggi dari pendapatan berbasis dolar AS.
Sektor pariwisata juga dapat menikmati dampak positif karena nilai tukar tersebut membuat daya beli wisatawan mancanegara menjadi relatif lebih kuat ketika menukarkan mata uang asing ke rupiah.
Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Pelaku pasar akan mencermati rilis inflasi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi perkiraan terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah pada awal perdagangan Selasa dinilai masih bersifat jangka pendek. Arah pergerakan berikutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS serta bagaimana pasar merespons sejumlah indikator ekonomi terbaru dari Amerika Serikat.(da*)


