Agam, Rakyatterkini.com – Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, membangun sebanyak 21 jaringan irigasi tersier untuk membantu memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi pada penghujung 2025. Program tersebut mendapat dukungan anggaran sekitar Rp2,1 miliar.
Kepala Dinas Pertanian Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan pembangunan irigasi menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian sekaligus mengembalikan aktivitas petani setelah bencana.
Menurutnya, keberadaan jaringan irigasi yang memadai diharapkan mampu mengoptimalkan kembali lahan pertanian serta meningkatkan indeks pertanaman di wilayah terdampak.
“Pembangunan irigasi ini ditujukan untuk memulihkan areal pertanian sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman,” ujar Heri di Lubuk Basung, Sabtu.
Ia menjelaskan, pembangunan 21 unit irigasi tersebut menggunakan dana APBN melalui Kementerian Pertanian dengan total anggaran sekitar Rp2,1 miliar. Masing-masing kegiatan memperoleh alokasi kurang lebih Rp100 juta.
Pelaksanaan pembangunan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan kelompok tani sebagai penerima sekaligus pelaksana kegiatan. Pola tersebut dinilai dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sarana pertanian.
“Dengan sistem swakelola, masyarakat bisa terlibat langsung. Selain mempercepat pembangunan, pola ini juga memungkinkan program menjangkau wilayah dengan tingkat kerusakan yang relatif ringan,” katanya.
Program irigasi tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Tanjung Raya, Malalak, Palembayan, dan Lubuk Basung.
Pelaksanaan pembangunan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama berlangsung pada 9 Maret hingga 9 Mei 2026, tahap kedua pada 27 April sampai 27 Juni 2026, sedangkan tahap ketiga dilaksanakan pada 13 Mei hingga 13 Juli 2026.
Sebelum pembangunan dimulai, pemerintah terlebih dahulu melakukan proses pengusulan dan verifikasi di lapangan. Lokasi yang menjadi prioritas adalah kawasan pertanian yang mengalami kerusakan jaringan irigasi akibat bencana.
Kerusakan tersebut sebelumnya menghambat kegiatan pertanian karena petani mengalami kesulitan dalam mengelola dan mengairi lahan.
Heri berharap perbaikan jaringan irigasi dapat mempermudah petani mengelola lahan, menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian, serta membantu mengembalikan produktivitas lahan dan pendapatan petani yang terdampak bencana.(da*)


