Notification

×

Iklan

Napak Tilas Silungkang 1927 Mulai Disiapkan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:12 WIB Last Updated 2026-08-15T09:12:00Z

Terowongan Lubang Kalam Jadi Rute Napak Tilas

Sawahlunto, Rakyatterkini.com – Menjelang peringatan 100 tahun Perlawanan Silungkang 1927, panitia mulai mematangkan persiapan dengan melakukan survei jalur napak tilas pada Jumat (14/8/2026).

Survei dilakukan dengan berjalan kaki melewati Terowongan Lubang Kalam sepanjang 828 meter. Dari lokasi tersebut, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri bekas jalur rel kereta api sekitar satu kilometer hingga menuju kawasan pusat Kota Sawahlunto.

Kegiatan tersebut dipimpin Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang, Yulizar. Ia didampingi Kepala Desa Silungkang Oso, Ferdinal, serta sejumlah anggota panitia.

Rute yang dipilih memiliki nilai sejarah yang kuat. Terowongan Lubang Kalam merupakan bagian dari peninggalan jalur kereta api era kolonial yang dahulu menghubungkan Sawahlunto dengan Muaro Kalaban. Perjalanan nantinya berakhir di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, yang pada masa kolonial dikenal sebagai Societeit Glück Auf dan dibangun pada 1910 sebagai tempat hiburan bagi pejabat pertambangan Belanda.

Yulizar mengatakan, kegiatan napak tilas tidak dirancang hanya sebagai acara seremonial. Menurutnya, peserta diharapkan dapat merasakan secara langsung ruang-ruang yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perlawanan pada 1927.

“Peserta akan melewati jalur yang memiliki kaitan langsung dengan peristiwa sejarah. Dengan berjalan melalui terowongan dan bekas jalur rel, mereka diharapkan dapat memahami serta merenungkan kembali perjalanan sejarah di daerah ini,” ujarnya.

Survei juga bertujuan memastikan kondisi rute, tingkat keamanan, kesiapan medan, serta lokasi yang akan digunakan sebagai titik perenungan. Panitia turut menyiapkan obor sebagai simbol semangat perjuangan dan ingatan sejarah yang harus terus dijaga.

Rangkaian napak tilas nantinya ditutup dengan renungan di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Konsep tersebut sengaja menghubungkan sejumlah ruang bersejarah, mulai dari kawasan terowongan, jalur rel, hingga bangunan yang dahulu menjadi bagian dari pusat aktivitas kolonial.

Yulizar menegaskan, lokasi terakhir akan menjadi tempat untuk memberikan penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam pergolakan tersebut. Peringatan satu abad Perlawanan Silungkang diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami sejarah secara lebih menyeluruh dan kritis.

“Generasi sekarang perlu mengetahui bahwa di tanah ini pernah terjadi perlawanan terhadap kolonialisme,” katanya.

Bagi panitia, napak tilas tersebut bukan sekadar perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Kegiatan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali hubungan antara ruang, jejak perjuangan, dan ingatan sejarah yang telah berlangsung hampir satu abad agar tetap dikenal oleh generasi masa kini.(rel/benny)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update