Notification

×

Iklan

Panen Perdana Padi Agroekologi di Anduriang

Senin, 17 Agustus 2026 | 19:22 WIB Last Updated 2026-08-17T12:22:00Z

Panen Perdana Padi Agroekologi di Padang Pariaman

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com – Hamparan persawahan di Korong Balah Aia, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, menjadi lokasi panen perdana padi yang dibudidayakan dengan pendekatan agroekologi. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya petani membangun sistem pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, sekaligus ramah lingkungan.

Panen perdana digelar pada Minggu (16/8/2026) oleh petani yang tergabung dalam Basis Serikat Petani Indonesia (SPI) Sakayan Jauah. Budidaya padi agroekologi tersebut dimulai sejak 30 April 2026, bertepatan dengan deklarasi Kawasan Daulat Pangan (KDP) yang menjadi langkah awal penguatan kedaulatan petani di Sumatera Barat.

Dalam proses budidayanya, petani tidak menggunakan pupuk maupun bahan kimia produksi pabrik. Sebagai gantinya, mereka mengolah sendiri berbagai bahan alami di sekitar lingkungan menjadi pupuk organik, seperti kompos, bokashi, serta pupuk organik cair (POC).

Hasil pengamatan terhadap tanaman menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Dari sejumlah sampel rumpun padi, rata-rata terdapat 33 batang dalam satu rumpun. Jumlah batang terendah tercatat 17 batang, sementara rumpun dengan pertumbuhan terbaik mencapai 45 batang.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Sumatera Barat, Rustam Effendy, menyebut agroekologi sebagai bagian dari upaya petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola pertanian konvensional yang dinilai membuat biaya produksi semakin tinggi.

Menurut Rustam, penerapan sistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian petani, mulai dari pengelolaan lahan, penyediaan benih, hingga pembuatan pupuk secara mandiri. Langkah itu sekaligus menjadi upaya membangun ketahanan pangan lokal yang berkelanjutan.

Ia menilai Kawasan Daulat Pangan merupakan bentuk perjuangan petani untuk mempertahankan kendali terhadap sumber daya pertanian, termasuk tanah, benih, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Melalui agroekologi, pengetahuan dan keterampilan petani diharapkan kembali menjadi kekuatan utama dalam mengelola usaha tani.

Dukungan terhadap sistem tersebut juga disampaikan unsur pemerintahan Nagari Anduriang. Anggota Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Anduriang, Atmadelis, menilai pola pertanian berbasis bahan organik memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas karena dapat mempererat kerja sama masyarakat sekaligus menekan pengeluaran petani.

Ia mengatakan penggunaan pupuk organik cair dan pupuk organik padat masih berada dalam tahap awal sehingga membutuhkan penyesuaian dengan karakteristik tanah. Namun, apabila dilakukan secara konsisten, hasil pertanian diyakini dapat mengalami peningkatan.

Atmadelis juga menyebut pemerintah nagari akan mendorong pengenalan sistem agroekologi kepada masyarakat. Bahkan, konsep tersebut terbuka untuk dikembangkan menjadi bagian dari kebijakan di tingkat nagari karena dinilai sejalan dengan upaya mengurangi biaya produksi dan nilai-nilai lokal yang berkembang di masyarakat.

Selain berdampak pada biaya, penggunaan bahan organik juga mulai menunjukkan perubahan terhadap kondisi lahan. Salah satunya terlihat dari berkurangnya tingkat keasaman tanah yang sebelumnya menjadi salah satu kendala bagi petani.

Sementara itu, Ketua Basis SPI Sakayan Jauah, Agusnaini, mengakui hasil panen pada tahap awal peralihan tersebut belum menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan pertanian konvensional. Kendati demikian, kondisi tanah dan daya tahan tanaman dinilai menunjukkan perkembangan yang positif.

Agusnaini optimistis produktivitas akan meningkat seiring berjalannya proses transisi. Saat ini, petani masih dalam tahap membangun sistem agroekologi yang sepenuhnya mengurangi ketergantungan terhadap input kimia dari pabrik.

Untuk tahap berikutnya, Basis SPI Sakayan Jauah berencana memperluas penerapan pertanian agroekologi secara bertahap. Potensi lahan sawah yang dapat dikembangkan di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.

Panen perdana ini sekaligus menjadi pijakan awal menuju panen raya Kawasan Daulat Pangan di Nagari Anduriang. Gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi gabah, tetapi juga diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pertanian yang mandiri, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update