Jakarta, Rakyatterkini.com – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026) terus bertambah. Hingga Selasa (11/8/2026), sedikitnya 111 orang dilaporkan tewas. Pemerintah Kolombia pun menetapkan status darurat nasional.
Gempa kuat tersebut menyebabkan puluhan bangunan roboh dan sejumlah warga terperangkap di bawah puing-puing bangunan.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan pemerintah pusat telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangani dampak bencana. Upaya tersebut mencakup penyelamatan korban, bantuan bagi masyarakat terdampak, hingga pendistribusian bantuan ke sejumlah daerah yang membutuhkan.
"Pemerintah pusat mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi nyawa, membantu masyarakat yang terdampak, dan menyalurkan bantuan ke setiap wilayah yang membutuhkannya," kata Abelardo dalam pernyataannya, dikutip AFP, Selasa (11/8/2026).
Presiden yang baru tiga hari menjabat itu menyebut selain 111 korban meninggal, sebanyak 87 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, lebih dari 1.000 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan hingga hancur akibat guncangan gempa.
Pusat gempa tercatat berada di kawasan pesisir Choco, Kolombia, dengan kedalaman sekitar 100 kilometer. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 12 orang meninggal dunia di wilayah tersebut.
Kota Pereira yang berada tidak jauh dari pusat gempa juga termasuk daerah dengan dampak paling parah. Sebelumnya, pemerintah setempat melaporkan sedikitnya 40 orang meninggal di Provinsi Risaralda, yang beribu kota di Pereira.
Dampak gempa juga dirasakan di Kota Manizales. Salah satu bangunan ikonik berupa menara katedral di kota tersebut dilaporkan roboh akibat kuatnya guncangan.
Seorang pegawai pemerintah setempat, Jaime Zuluaga (50), menggambarkan kondisi Kota Manizales setelah gempa. Menurutnya, kerusakan terjadi di berbagai titik.
"Banyak sekali bangunan di kota itu mengalami kerusakan," kata Jaime.
Selain kerusakan bangunan, aktivitas lalu lintas di sejumlah kawasan juga terganggu. Warga memilih tetap berada di luar rumah karena khawatir gempa susulan kembali terjadi.
"Arus lalu lintas juga lumpuh total, warga enggan kembali ke rumah karena takut akan gempa susulan," ujarnya.(da*)


