Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga minyak mentah dunia bergerak naik pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Penguatan terjadi setelah kesepahaman gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi berakhir pada Senin (17/8/2026).
Minyak West Texas Intermediate (WTI) asal AS tercatat naik 0,46 persen menjadi US$84,96 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent yang menjadi acuan global meningkat 0,30 persen ke posisi US$91,17 per barel.
Dilansir CNBC, kesepahaman yang disepakati kedua negara pada Juni lalu memang memiliki masa berlaku selama 60 hari dan berakhir pada Senin. Berakhirnya kesepakatan tersebut memunculkan kembali ketidakpastian terkait hubungan AS dan Iran.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya siap mengubah pendekatan dari defensif menjadi ofensif apabila jalur diplomasi dengan Washington tidak lagi membuahkan hasil.
"Iran akan siap mengambil keputusan dan tindakan sulit," ujar pejabat tersebut seperti dikutip Reuters. Pernyataan itu sekaligus mengisyaratkan potensi peningkatan ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
AS dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pada 17 Juni. Kesepakatan itu antara lain dimaksudkan untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sembari kedua negara merundingkan kesepakatan final mengenai program nuklir Iran.
Namun, Teheran kini menegaskan tidak ada proses pembicaraan untuk memperpanjang MoU tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut pemerintahnya tidak pernah memulai pembahasan mengenai perpanjangan kesepakatan. Ia juga menuding AS telah melanggar kesepahaman tersebut sejak awal.
Dari pihak AS, Presiden Donald Trump juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan menyerukan agar Iran menyerah. Ia juga melontarkan ancaman terhadap Oman, negara yang menjadi sekutu AS sekaligus terlibat dalam pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap kelancaran pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia karena sebagian besar pengiriman energi dari kawasan Teluk melewati perairan tersebut.
Aktivitas kapal di Selat Hormuz pada Minggu tercatat sangat minim. Berdasarkan data Kpler, hanya tiga kapal yang tercatat melintas di jalur tersebut.
Dalam lima hari terakhir, rata-rata jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 12 kapal per hari. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal sebelum perang pecah pada 28 Februari, ketika sekitar 130 kapal melintas setiap harinya.
Apabila penurunan aktivitas pelayaran tersebut terus berlangsung, potensi gangguan terhadap distribusi minyak dapat semakin besar. Kondisi itu berpeluang memberikan tekanan lebih lanjut terhadap harga minyak mentah di pasar internasional.(da*)


