Padang, Rakyatterkini.com - Peluncuran tujuh buku yang memuat perjalanan pemikiran dan pengabdian politik H. Guspardi Gaus menjadi momen istimewa dalam peringatan ulang tahunnya yang ke-70.
Acara tersebut digelar di Auditorium Gubernur Sumatera Barat pada Sabtu (1/8/2026) dan menjadi bentuk penghargaan atas kontribusinya selama berkiprah di dunia politik, termasuk perannya dalam lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan yang juga diisi dengan bedah buku bertajuk "Refleksi Pemikiran Politik dan Kenegaraan Guspardi Gaus" itu dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Wali Kota Padang Fadly Amran, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, serta berbagai tokoh nasional, daerah, akademisi, dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir mengungkapkan apresiasinya terhadap sosok Guspardi Gaus. Menurutnya, Guspardi memiliki peran besar dalam memperjuangkan kepentingan Sumatera Barat saat menjabat sebagai anggota DPR RI. Ia juga mengaku menganggap Guspardi sebagai sosok pembimbing yang banyak memberikan arahan selama perjalanan politiknya.
Maigus menilai salah satu pencapaian penting Guspardi adalah keberhasilannya mengawal proses lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 yang menjadi landasan hukum bagi Provinsi Sumatera Barat.
Senada dengan itu, Wali Kota Padang Fadly Amran menyebut penerbitan tujuh buku tersebut sebagai langkah penting dalam mendokumentasikan gagasan dan pemikiran politik yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi penerus. Ia mengaku kerap meminta nasihat kepada Guspardi sebelum mengambil berbagai keputusan besar dalam perjalanan politiknya, termasuk ketika mencalonkan diri sebagai kepala daerah.
Fadly juga berharap Guspardi tetap diberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kesempatan untuk terus memberikan sumbangsih bagi kemajuan Sumatera Barat maupun Kota Padang.
Sementara itu, Guspardi Gaus menyampaikan rasa syukur atas dukungan dan perhatian yang diberikan oleh para tokoh serta masyarakat. Ia menjelaskan, kebiasaannya mendokumentasikan tulisan dan pemikiran berawal dari latar belakangnya sebagai akademisi. Berbagai catatan tersebut kemudian dihimpun hingga menjadi tujuh buku yang kini resmi diterbitkan.
Menurut Guspardi, buku-buku tersebut diharapkan tidak hanya menjadi rekam jejak perjalanan hidupnya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai referensi serta sumber inspirasi bagi masyarakat dalam memahami dinamika politik dan kebangsaan di Indonesia.(da*)


