Notification

×

Iklan

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen

Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:23 WIB Last Updated 2026-08-20T11:23:00Z

BI Tahan Bunga, Suntik Insentif, dan Membuka Jalan Baru bagi Ekonomi

Jakarta, Rakyatterkini.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen dalam rapat kebijakan yang berlangsung Rabu (19/8). 

Meski tidak mengubah tingkat suku bunga, bank sentral tetap mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas arus modal, memperkuat pasar keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Suku bunga lending facility tetap 6,5 persen, sedangkan deposit facility dipertahankan sebesar 4,75 persen. Di balik keputusan tersebut, BI menyiapkan sejumlah kebijakan yang diarahkan untuk mengelola likuiditas sekaligus mengantisipasi risiko pergerakan nilai tukar.

Salah satu kebijakan yang diperkuat adalah insentif swap lindung nilai sebesar 12,5 persen. Fasilitas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi transaksi portofolio tersebut kini diperluas sehingga mencakup pinjaman luar negeri perbankan serta investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Transaksi lindung nilai dapat dilakukan dengan jangka waktu maksimal 12 bulan, sementara masa kontraknya mencapai tiga tahun dan dapat diperpanjang mengikuti sisa tenor perlindungan nilai. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada pekan kedua September 2026 dan berlaku bagi dana yang masuk sejak 1 Juli 2026.

Bagi sektor perbankan, perluasan fasilitas tersebut dinilai dapat memberikan ruang pendanaan yang lebih besar. Akses terhadap sumber dana dari luar negeri yang lebih menarik berpotensi mengurangi persaingan memperoleh dana di pasar domestik. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu menekan biaya pendanaan perbankan dan meningkatkan kelonggaran likuiditas.

Selain itu, BI tengah mempersiapkan penguatan infrastruktur pasar keuangan melalui penyediaan likuiditas renminbi atau yuan di dalam negeri. Renminbi Clearing Bank ditargetkan mulai beroperasi paling lambat pada kuartal IV 2026. Bank of China telah ditunjuk oleh bank sentral China atau PBoC sebagai bank kliring pertama, sementara bank BUMN Indonesia diproyeksikan menjadi bank kliring berikutnya.

Pada sektor konsumsi, BI juga memperluas penggunaan Kartu Kredit Indonesia untuk segmen ritel mulai 17 Agustus. Sementara itu, kebijakan merchant discount rate (MDR) QRIS sebesar nol persen akan diperluas ke seluruh kategori pedagang untuk transaksi hingga Rp100.000 mulai 1 Oktober. Sebelumnya, batas transaksi yang mendapatkan fasilitas tersebut mencapai Rp500.000.

Keyakinan BI terhadap kondisi ekonomi turut didukung sejumlah indikator sepanjang Juli. Penguatan nilai tukar rupiah, peningkatan penyaluran kredit, inflasi yang tetap terkendali, serta pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat menjadi sejumlah faktor pendukung. Bahkan ketika imbal hasil SRBI mengalami penurunan selama dua pekan berturut-turut, aliran modal masuk tetap tercatat sekitar US$1,8 miliar sejak awal Agustus.

Meski demikian, prospek ekonomi masih menghadapi sejumlah tantangan. BI memperkirakan inflasi pada akhir 2026 berpotensi berada sedikit di atas 3 persen karena ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober. Dari sisi global, ketidakpastian juga berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. BI memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali pada kuartal IV 2026.

Dengan kebijakan tersebut, arah strategi BI tidak hanya berfokus pada tingkat suku bunga. Suku bunga acuan memang tetap, tetapi berbagai instrumen lain terus dioptimalkan untuk menjaga aliran modal, memperkuat likuiditas, meningkatkan konsumsi, dan mempertahankan stabilitas ekonomi di tengah potensi tekanan global.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update