Jakarta, Rakyatterkini.com – Mantan Duta Besar Amerika Serikat sekaligus penasihat kebijakan Timur Tengah Gedung Putih, Marc Ginsberg, menilai kebijakan pemerintahan Donald Trump terhadap Iran saat ini menyerupai aksi saling adu ketahanan ekonomi. Menurutnya, Washington justru berpotensi menjadi pihak yang lebih dahulu mundur dalam kebuntuan tersebut.
Kepada Al Jazeera, Ginsberg mengatakan strategi tekanan maksimum sebenarnya bukan hal baru bagi Amerika Serikat. Namun, kondisi saat ini memiliki tantangan berbeda karena keberadaan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama dalam konflik. Di sisi lain, Iran disebut menghadapi keterbatasan akses terhadap cadangan valuta asing yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonominya.
Meski tekanan terhadap Teheran terus ditingkatkan, Ginsberg menilai pemerintahan Trump belum menunjukkan strategi yang jelas untuk mengakhiri kebuntuan tersebut.
Ia mempertanyakan tujuan akhir kebijakan Washington karena belum terlihat langkah konkret mengenai bagaimana konflik itu akan diselesaikan. Menurutnya, pemerintahan AS saat ini lebih banyak mengandalkan strategi mempertahankan tekanan dalam jangka panjang.
Ginsberg menggambarkan situasi tersebut seperti dua kendaraan yang bergerak menuju tabrakan dan masing-masing pihak berusaha melihat siapa yang lebih dahulu mengalah. Ia meragukan tekanan ekonomi saja mampu membuat pemerintah Iran menyerah.
Menurut Ginsberg, kemungkinan Amerika Serikat justru menjadi pihak yang lebih dulu mengurangi tekanannya dibandingkan Iran.
Pandangan serupa disampaikan Dan Grazier, Direktur Program Reformasi Keamanan Nasional di Stimson Center. Ia menilai Iran kemungkinan masih mampu menghadapi tekanan ekonomi tambahan dari Amerika Serikat, termasuk tekanan yang dimaksudkan untuk mendorong Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Grazier mengatakan Iran telah menghadapi berbagai sanksi dari Amerika Serikat selama puluhan tahun. Karena itu, ia mempertanyakan anggapan Washington bahwa tekanan ekonomi kali ini akan menghasilkan dampak yang sebelumnya tidak berhasil dicapai melalui operasi militer.
Menurut mantan perwira Korps Marinir tersebut, perubahan strategi Amerika Serikat juga dapat berkaitan dengan kondisi persediaan amunisi militernya. Ia menyebut terdapat indikasi bahwa stok sejumlah amunisi jarak jauh yang dibutuhkan untuk operasi militer mulai terbatas.
Grazier menjelaskan, militer AS tidak hanya harus mempertimbangkan operasi di kawasan tersebut, tetapi juga berbagai tanggung jawab keamanan di belahan dunia lainnya. Karena itu, Washington perlu menjaga agar persediaan amunisi strategis tidak terkuras.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu alasan Amerika Serikat mulai mengandalkan tekanan ekonomi sebagai alternatif untuk menghadapi Iran.(da*)


