Notification

×

Iklan

Reo Dilanda Tsunami Setinggi 1,61 Meter

Minggu, 16 Agustus 2026 | 02:17 WIB Last Updated 2026-08-15T19:17:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com — Gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), memicu tsunami di sejumlah kawasan pesisir. Gelombang tertinggi tercatat mencapai 1,61 meter di Reo, Kabupaten Manggarai.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyebut gelombang tsunami juga terdeteksi di beberapa daerah lain berdasarkan pemantauan alat pengukur muka laut atau tide gauge.

Selain Reo, tsunami setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole, Kabupaten Ende. Gelombang dengan ketinggian lebih dari 0,5 meter juga terpantau di Bulukumba serta Sape, Bima.

BMKG bergerak cepat dengan menerbitkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Peringatan tersebut kemudian diperbarui sekitar 10 menit kemudian setelah data parameter gempa diperoleh dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.

Dalam memperkirakan ancaman tsunami, BMKG menjalankan model simulasi dengan berbagai skenario. Status Siaga diberlakukan untuk potensi tsunami setinggi 0,5 hingga 3 meter, sedangkan kategori Waspada digunakan untuk ancaman gelombang di bawah 0,5 meter.

Setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali normal dan aman, peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.

Meski demikian, aktivitas gempa susulan masih terjadi di kawasan utara Flores. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2.

Faisal memperkirakan aktivitas kegempaan akan berangsur menurun dalam waktu yang cukup panjang. Berdasarkan pola kejadian gempa merusak sebelumnya, proses peluruhan alami diperkirakan berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan.

Hasil pemantauan BMKG juga memperlihatkan aktivitas gempa susulan belum menunjukkan penurunan berarti. Titik-titik gempa masih tersebar di kawasan utara Pulau Flores.

Selain gempa susulan, BMKG terus memantau aktivitas sesar secara langsung. Proses stabilisasi sesar dinilai membutuhkan waktu sebelum kondisi seismik di wilayah tersebut kembali seperti semula.

Gempa M7,7 tersebut diketahui dipicu aktivitas Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Sesar ini memiliki catatan sejarah menghasilkan gempa kuat dan tsunami, termasuk gempa bermagnitudo 7,8 pada 1992 yang terjadi pada kedalaman sekitar 28 kilometer.

Dibandingkan gempa 1992, gempa yang terjadi pada Sabtu kali ini jauh lebih dangkal karena pusat gempanya berada sekitar 15 kilometer di bawah permukaan. Kondisi tersebut turut memperkuat dampak guncangan dan memicu tsunami yang terpantau hingga sejumlah pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan pemetaan intensitas guncangan, skala VII MMI menjadi tingkat guncangan tertinggi yang tercatat di Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Riung, Kabupaten Ngada, Kota Ambai, serta hasil pengamatan mikro di wilayah Manggarai dan Ruteng.

Sementara itu, guncangan skala VI MMI dirasakan di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa. Beberapa daerah lainnya mengalami guncangan dengan intensitas V MMI.

BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi. Warga juga diingatkan untuk tidak langsung mempercayai kabar yang belum dipastikan kebenarannya.

Seluruh informasi tersebut diperoleh dari sistem pemantauan gempa nasional yang didukung lebih dari 2.000 sensor, termasuk 553 sensor seismograf yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update