Jakarta, Rakyatterkini.com - Media konservatif Iran, Hamshahri, mempublikasikan sebuah laporan yang memuat daftar sejumlah pemimpin dan pejabat negara Barat yang disebut sebagai target balasan atas tewasnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Laporan tersebut dirilis pada Sabtu (11/7/2026).
Ayatollah Ali Khamenei diketahui meninggal dunia bersama empat anggota keluarganya dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terjadi pada 28 Februari 2026.
Dalam laporannya, Hamshahri menyertakan infografis berisi foto 13 tokoh dari negara-negara Barat yang diklaim menjadi sasaran pembalasan. Publikasi itu juga disertai pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra mendiang Ali Khamenei.
Dalam pernyataan pertamanya setelah pemakaman sang ayah, Mojtaba menegaskan bahwa pembalasan merupakan keinginan rakyat Iran dan harus diwujudkan. Pernyataan tersebut dikutip oleh AFP.
Ali Khamenei dimakamkan di Kota Mashhad pada Jumat (10/7/2026). Dalam pesan yang sama, Mojtaba menyebut orang-orang yang tercantum dalam daftar itu tidak akan mendapatkan akhir hidup yang tenang.
Meski demikian, Mojtaba tidak menyebutkan secara langsung nama-nama pihak yang dimaksud. Hamshahri kemudian menampilkan sejumlah pemimpin Barat dalam infografisnya, termasuk Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Selain mereka, daftar tersebut juga memuat nama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Hingga kini belum ada bukti bahwa daftar yang dipublikasikan Hamshahri merupakan sikap resmi atau mendapat persetujuan dari pemerintah Iran.
Iran sendiri menuduh beberapa negara Eropa turut berperan dalam serangan terhadap wilayahnya karena dianggap mengizinkan pesawat militer Amerika Serikat melintasi ruang udara mereka.
Sementara itu, Mojtaba Khamenei belum kembali muncul di hadapan publik sejak serangan pada 28 Februari. Ia dilaporkan mengalami luka serius dalam insiden tersebut. Ketidakhadirannya diduga berkaitan dengan proses pemulihan kesehatan serta alasan keamanan akibat kekhawatiran adanya ancaman pembunuhan dari Israel.(da*)


